Sumber : http://blogseotest.blogspot.com/2012/01/cara-memasang-artikel-terkait-bergambar.html#ixzz2HNYeE9JU

Pages

Blogroll

Tampilkan postingan dengan label Ahli bid`ah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahli bid`ah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juli 2013

Kehancuran Islam karena para ulama merobah ajaran Islamnya



Oleh: Al-Ustadz Muhammad Thalib

(Arrahmah.com) - Firman Allah:

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Akan tetapi kaum Yahudi dan Nasrani telah melanggar janji mereka. Karena itu Kami laknat mereka, hati mereka Kami jadikan mengeras. Me­reka telah mengubah ayat-ayat Taurat dan Injil dari aslinya. Mereka telah meninggalkan sebagian dari perintah-perintah yang ada pada Taurat dan Injil. Wahai Muhammad, engkau se­nantia­sa akan melihat pengkhianatan kaum Yahudi dan Nasrani. Hanya sedikit dari kaum Yahudi dan Nasrani yang tidak berkhianat kepada kamu. Wahai Muhammad, maafkanlah kaum Yahudi dan Nasrani, dan berlapang dadalah kepada mereka. Allah menyu­kai orang-orang yang suka memberi maaf.” (QS. Al-Maidah: 13)

مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِ وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانْظُرْنَا لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَقْوَمَ وَلَكِنْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا

“Di antara kaum Yahudi ada yang mengubah kalimat-kalimat Taurat dari aslinya. Kaum Yahudi berkata: “Kami mendengar firman Allah, tetapi kami menentang kebenarannya.” Jika kaum Yahudi diperintahkan untuk mendengarkan Al-Qur’an, maka me­reka tidak mau mendengarkannya, bahkan mereka berkata kepada Nabi: “Wahai Muhammad, perhatikanlah perkataan kami.” Mereka memutar-balikkan ayat-ayat Taurat ketika membacanya dan mencela Islam. Sekiranya kaum Yahudi mau berkata: “Wahai Muhammad, kami mendengar dan kami menaati Al-Qur’an yang kamu baca,” bukan berkata: “Wahai Muhammad, dengarlah dan per­hatikan perkataan kami,” niscaya ucapan mereka ‘Kami mendengar dan kami menaati’ lebih baik bagi mereka dan lebih terpuji di sisi Allah. Namun kaum Yahudi memilih kafir kepada Muhammad, sehingga Allah melaknat mereka. Karena itu, hanya sedikit sekali orang Yahudi yang mau beriman kepada Muhammad.” (QS. An-Nisaa’: 46)

Kehancuran agama Yahudi dan Nasrani karena mereka mengkhiananti janji mereka untuk beriman kepada Rasul yang Allah kirimkan kepada mereka. Kaum Yahudi mengingkari janji untuk beriman kepada Nabi ‘Isa as. yang Allah utus sesudah Musa as. Kaum Nasrani mengkhianati janji mereka untuk beriman kepada Rasul yang Allah utus sesudah Nabi ‘Isa yaitu Nabi Muhammad saw.

Juga disebabkan adanya doktrin-doktrin sesat yang dibuat oleh para pendeta dan pastur mereka melalui upaya penyimpangan makna-makna ayat Taurat dan Injil yang sebenarnya. Contoh, tentang kabar kenabian yang disebutkan dalam Taurat dan Injil bernama Ahmad atau Muhammad disamarkan dengan menyebut sifatnya dalam bahasa Ibrani yaitu, Paraklet, orang yang terpuji. Dengan penyamaran semacam ini, maka umat Yahudi maupun Nasrani tidak lagi dapat mengenali dengan mudah nama sebenarnya dari seorang Rasul yang dikabarkan di dalam Taurat dan Injil.

Sekalipun umat Yahudi dan Nasrani masih ada sampai hari ini, tetapi agama mereka telah rusak karena adanya doktrin-doktrin yang sesat, sehingga para pengikut kedua agama ini mengalami kerusakan akidah, moral dan seluruh perilaku hidupnya. Perilaku-perilaku yang semula terlarang dalam agama mereka, menjadi bebas dilakukan akibat dari ajaran-ajaran sesat para pendeta mereka. Contoh, riba dan minuman keras yang semula haram menjadi boleh.

Hal semacam ini juga terjadi pada kaum muslimin karena meninggalkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw. karena sibuk dengan pendapat para ulama, sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

ذَرُونِي مَا تَرَكْتُكُمْ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلَافِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَدَعُوهُ

Wahai kaum muslim. cukupkanlah diri kalian dengan apa yang telah aku tinggalkan untuk kalian. Sesungguhnya orang-orang yang sebelum kalian mendapat binasa karena mereka banyak bertanya dan suka menyalahi para Nabi mereka. Karena itu, bila aku perintahkan kalian mengerjakan sesuatu, laksanakanlah semampu kalian. Dan apabila aku larang kalian mengerjakan sesuatu, maka tinggalkanlah. (HR. Muslim)

Dalam sebuah hadits disebutkan:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو يَقُولُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ اللهَ لَا يَنْزِعُ الْعِلْمَ بَعْدَ أَنْ أَعْطَاكُمُوهُ انْتِزَاعًا وَلَكِنْ يَنْتَزِعُهُ مِنْهُمْ مَعَ قَبْضِ الْعُلَمَاءِ بِعِلْمِهِمْ فَيَبْقَى نَاسٌ جُهَّالٌ يُسْتَفْتَوْنَ فَيُفْتُونَ بِرَأْيِهِمْ فَيُضِلُّونَ وَيَضِلُّونَ

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ujarnya, saya mendengar Nabi saw. bersabda: “Allah tidak memusnahkan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang telah diberikan kepada kalian, tetapi Al-Qur’an dan As-Sunnah akan musnah karena kematian para ulama penegak Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pada saat itu manusia yang ada hanyalah orang-orang bodoh. Mereka dimintai fatwa, lalu memberikan fatwa dengan pendapat mereka sendiri dengan meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka ini sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari)

Khalifah ‘Umar bin Khathab berkata:

إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِاَنَّهُمْ أَقْبَلُوْا عَلَى كُتُبِ عُلَمَائِهِمْ وَاَسَاقَفَتِهِمْ وَتَرَكُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيْلَ حَتَّى دُرِسَا وَذَهَبَ مَا فِيْهِمَا مِنَ الْعِلْمِ

Wahai kaum muslim, hancurnya umat-umat sebelum kalian, karena mereka sibuk membaca kitab-kitab ulama dan pastur mereka, tetapi meninggalkan Taurat dan Injil, sehingga ilmu yang ada pada kedua Kitab ini lenyap. (HR. Abu Nashr)

عَنْ الزُّبَيْرِ بْنِ عَدِيٍّ قَالَ: دَخَلْنَا عَلَى أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ فَشَكَوْنَا إِلَيْهِ مَا نَلْقَى مِنَ الْحَجَّاجِ فَقَالَ مَا مِنْ عَامٍ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ سَمِعْتُ هَذَا مِنْ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Az-Zubair bin ‘Adi berkata: Kami berkunjung ke Anas bin Malik, kami mengeluhkan kepadanya perlakuan yang kami terima dari Al-Hajjaj, lalu ia berkata: Setiap tahun terjadi perubahan, dimana tahun sesudahnya lebih buruk daripada tahun sebelumnya, sampai kalian menemui hari kiamat. Aku mendengar ucapan ini dari nabi kalian. (HR. Tirmidzi)

Hadits ini memberikan gambaran yang jelas bahwa secara berangsur-angsur kaum muslimn akan mengalami keadaan semakin buruk sampai hari kiamat. Bahkan Rasulullah saw. juga mengingatkan terjadinya kelangkaan ulama penegak ajaran Nabi saw. secara murni dan muncul ulama-ulama gadungan yang menyebarkan kesesatan di tengah umat Islam.
SOLUSI

Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan berkata:

لَاتَتْرُكُوا الْقُرْآنَ وَتَأْخُذُوْا أَقْوَالَ الْعُلَمَاءِ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِأَخْذِهِمْ أَقْوَالَ أَسَاقَفَتِهِمْ وَتَرْكِهِمْ كِتَابَ اللهِ

“Wahai kaum muslim, janganlah kalian tinggalkan Al-Qur’an, lalu kalian ikuti omongan-omongan ulama. Karena hancurnya umat-umat beragama sebelum kalian disebabkan mereka mengikuti omongan para pendeta mereka dan meninggalkan Kitabullah.”

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

Dari Tsauban, ujarnya: Rasulullah saw. bersabda: “Akan selalu ada sekelompok umatku yang selalu menegakkan Islam. Mereka tidak merasa terancam oleh orang-orang yang menghinakan mereka. Kelompok ini akan selalu ada sampai datang hari kiamat dan mereka tetap istiqamah.” (HR. Muslim)

Rasulullah Saw. menjamin kelompok yang senantiasa menegakkan Al-Qur’an dan Sunnah, melepaskan diri dari kungkungan sektarian dan madzhab terus ada sampai hari kiamat, sekalipun mereka dianggap kelompok asing oleh umat Islam sendiri. Sebab mayoritas umat Islam pada hakekatnya sudah meniru perilaku umat Yahudi dan Nasrani. Mereka sibuk mengkaji pendapat-pendapat para ulama dan merasa tidak bersalah meninggalkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw. Hal ini disebutkan oleh Rasulullah pada hadits berikut:

عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَزَالُ أَهْلُ الْغَرْبِ ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ

Dari Sa’id bin Abi Waqash, ujarnya, Rasulullah saw. bersabda: “Kelompok yang terasing di kalangan umat Islam yang senantiasa menegakkan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan tetap ada sampai hari kiamat.” (HR. Muslim)

Kelompok terasing ini memang menghadapi berbagai macam tantangan, baik dari internal umat Islam maupun golongan kafir, sehingga kehidupan mereka di dalam menegakkan Islam penuh dengan derita, celaan, ancaman yang membahayakan diri dan keluarganya. Namun hal semacam ini sudah merupakan sunnatullah, dan Allah menjanjikan bagi mereka balasan surga.

Allah berfirman dalam surah At-Taubah: 111

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Sungguh Allah membeli jiwa dan harta orang-orang mukmin dengan pahala surga. Mereka telah berperang guna membela Islam, lalu mereka mem­bunuh atau dibunuh. Janji pahala surga ini termaktub dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Wahai kaum mukmin, siapa saja di antara kalian yang memenuhi janjinya kepada Allah, bergembiralah kalian dengan bai’at yang telah kalian lakukan dalam perjanjian itu. Demikian itu adalah keberuntungan yang amat besar bagi para syuhada.”

 (Ukasyah/arrahmah.com)
-

Minggu, 30 Juni 2013

SUNNAH adalah pemersatu ummat ini. BIDAH bid’ah adalah sebab perpecahan dan percerai-beraian umat Islam.

Abdurrohman Abu Zahra Jihan menulis: 1 Juli 9:16
SUNNAH adalah pemersatu ummat ini.
BIDAH bid’ah adalah sebab perpecahan
dan percerai-beraian umat Islam.
MAKA DARI ITU"
*JANGAN ADA BID'AH DIANTARA KITA*

karena
Bid’ah memiliki banyak dampak negatif dan
konsekuensi yang jelek, diantaranya adalah:
1. Menimbulkan konsekuensi pendustaan
terhadap firman Allah (yang artinya), “Pada
hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian
agama kalian.” (QS. Al-Ma’idah: 3). Karena
apabila seorang datang dengan membawa
bid’ah dan dianggap termasuk dalam
agama, maka itu artinya agama ini belum
sempurna!
2. Konsekuensi bid’ah adalah celaan terhadap
syari’at Islam bahwa ia belum sempurna,
kemudian baru sempurna dengan adanya
bid’ah yang dibuat oleh pelaku bid’ah itu
3. Konsekuensi bid’ah pula adalah celaan bagi
seluruh umat Islam sebelumnya yang tidak
melakukan bid’ah ini bahwasanya agama
mereka tidak sempurna atau cacat, maka
hal ini adalah dampak yang sangat
membahayakan!
4. Dampak bid’ah adalah orang yang sibuk
dengannya niscaya akan tersibukkan dari
melakukan hal-hal yang sunnah (ada
tuntunannya). Sehingga mereka
meninggalkan amalan yang ada
tuntunannya dan sibuk dengan amalan yang
tidak diajarkan.
5. Munculnya bid’ah adalah sebab perpecahan
dan percerai-beraian umat Islam. Karena para
pembela bid’ah akan mengatakan bahwa
merekalah yang berada di atas kebenaran
sedangkan kelompok lain salah. Begitu pula para
pembela kebenaran akan mengatakan bahwa
merekalah yang berada di atas kebenaran
sedangkan pelaku bid’ah itu adalah sesat,
sehingga terjadilah perpecahan diantara umat
(lihat Syarh al-’Aqidah al-Wasithiyah oleh Syaikh
al-Utsaimin [2/316-317])

masih ingatkan hadist ini
Dari Ummul Mukminin Ummu Abdillah ‘Aisyah
radhiyallahu’anha beliau berkata: Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam
bersabda, “Barangsiapa yang mengada-adakan
suatu perkara di dalam urusan [agama] kami ini
yang bukan berasal darinya, maka ia pasti
tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Di dalam riwayat Muslim, “Barangsiapa yang
melakukan suatu amalan yang tidak ada
tuntunannya dari kami, maka ia pasti tertolak.”
maka dari itu "JANGAN ADA BIDAH DIANTARA
KITA"
Komentarku ( Mahrus ali): 
Memang begitulah sejarah umat dari masa ke masa dan dari tempat ke tempat lain, mulai dulu hingga sekarang. Ketika umat masih bersama dengan nabinya, maka  umat berpecah menjadi dua, ada yang menentang dan ada yang patuh. Ada yang taat kepada tuntunan dan ada yang membikin kebid`ahan. Dan beruntunglah orang yang taat dan celakalah orang yang menentangnya. Allah berfirman :
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ(52)
Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan. Nur.
Setelah berganti dari generasi ke generasi, dan sudah jauh masanya dengan Rasul, maka banyak kebid`ahan dan sedikit sunnah, banyak kekeliruan dan sedikit kebenaran. Kesalahan tampak nyata dan kebenaran terpendam. Penegak kesalahan di puja dan penegak tuntunan di ejek. Cocok sekali dengan ayat sbb:
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا(59)
Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.
إِلَّا مَنْ تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْئًا(60)
kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun. Maryam

Mau nanya hubungi kami:
088803080803.( Smart freand) 081935056529 ( XL )
Alamat rumah: Tambak sumur 36 RT 1 RW1
                           Waru Sidoarjo. Jatim.


 

Selasa, 11 Juni 2013

Acara 40 hari setelah kematian adalah budaya kristen dan ahli bid`ah

Arwah Beramanat

Kejadian ini saya alami tahun 2007. Pada saat itu saya tinggal di Jakarta, –sekalipun saya bukan nasrani, tetapi karena sikap saya yang menghargai sesama tanpa membedakan agama–, saya mendapat undangan hadir dalam acara selamatan 40 hari yang diisi dengan doa missa arwah dari keluarga rekan yang beragama Katolik. Tepatnya di daerah Ciputat, Kab Tangerang. Yang meninggal sebut saja namanya Bapak P  dan saya belum pernah kenal dan bertemu sebelumnya dengan beliau. Acara dimulai pukul 19.00 sampai 21.00 saya berangkat dari rumah jam 19 malam. Pada saat itu saya melintasi jalan potong di daerah Bintaro sektor 3, tiba-tiba dari dalam mobil saya bersama istri melihat ada sosok laki-laki. Saya tahu persis bahwa laki-laki setengah baya itu adalah arwah seseorang. Ia mengikuti di samping mobil yang saya kendarai. Saya bertanya,”anda siapa dan mau ke mana ? Jawab arwah laki-laki itu,”Saya (pak) P, saya akan menunjukkan jalan menuju ke rumah saya. Rupanya arwah Pak P tahu jika saya diundang ntuk missa arwah dirinya dan saya juga belum pernah berkunjung ke rumahnya. Sehingga harus nanya-nanya jalan menuju alamat rumahnya. Lantas saya ikuti arwah saja Pak P ke mana dia arahnya. Selanjutnya saya mengikuti di belakangnya menyusuri Jalan Deplu, terus melintas perempatan Jln Fatmawati ke timur arah kompleks Pndok Indah. Sesampainya di perempatan bunderan kecil saya belok ke selatan atau ke kiri terus ke timur. Saya pikir kenapa tidak melewati jalan besar saja melewati depan RS Pondok Indah ? Belum selesai saya bertanya-tanya dalam batin, tiba-tiba pak P berhenti sambil menunjukkan sesuatu. Tepatnya di sebelah barat lapangan tenis ada pertigaan terdapat pohon besar tepat di depan kios kaki lima. Saya melihat di dekat pohon itu ada sosok makhluk berbulu pendek seperti lumut hijau baunya anyir dan busuk sekali, makhluk itu di daerah Jawa biasanya disebut “Buto Ijo” yakni sejenis siluman yang dipiara orang untuk mencari jalan pintas meraih kekayaan harta benda. Pak P menjelaskan secara singkat bahwa dia meninggal tepat di dekat pohon itu sewaktu akan berangkat ke kantor kira-kira jan 09.00 sampailah pak P di lokasi ini, tiba-tiba lehernya dicekik makhluk itu hingga menemui ajal.
Langkah pertama, saya turun dari mobil dan berusaha untuk “melenyapkan” makhluk itu sebisa yang saya lakukan, tidak dengan doa melainkan harus dengan “cara khusus” barulah makhluk itu dapat diatasi. Doa itu untuk memohon sesuatu kepada Tuhan, dan Tuhan tidak serta merta melenyapkan makhluk itu, namun tetap butuh usaha kita sendiri yakni perlu tindakan konkrit untuk menaklukkan. Jika saya berhasil menundukkan, hal itu tidak lepas dari anugrah Tuhan yang telah berikan kepadaku. Ini sama halnya dengan aksi menangkap koruptor, tidak bisa dengan berdoa saja, tetapi butuh tindakan konkrit berupa penyergapan atau penyadapan suara si koruptor itu sewaktu menjalankan aksi jahatnya.
Perjalanan menuju rumah pak P saya lanjutkan, karena atas petunjuk pak P saya segera sampai rumahnya tanpa harus tanya-tanya alamat di jalan. Pukul 21.00 acara missa arwah selesai. Saya bertemu dengan istri pak P dan menanyakan untuk kroscek dengan kejadian tadi, “apakah suami ibu meninggalnya di dalam mobil dan di daerah kompleks Pondok Indah dekat pohon besar ? dan meninggal dengan posisi ke dua tangan memegang lehernya sendiri seperti orang sesak nafas ? Ibu P membenarkan semua. Agar supaya tidak banyak tanda tanya, saya mengaku sudah mendapat cerita dari teman yang lain sebelumnya. Saya melihat foto almarhum pak P ternyata persis seperti yang saya temui sepanjang perjalanan tadi. Hanya saja wujud arwah atau ruh ternyata selalu tampak lebih muda, lebih segar bugar, lebih ganteng ketimbang raganya sewaktu hidup.
Sepulang dari undangan, sesampai saya di rumah, pak P ternyata menyusul saya. Kira-kira selama 2 jam arwah pak P berkunjung di rumah saya dari jam 23.00 hingga 01.00 wib. Pak P banyak menceritakan kisahnya sewaktu beliau masih hidup dari A sampai Z. Arwah pak P menitipkan pesan kepada saya agar disampaikan kepada istrinya yang masih hidup. Pesan-pesannya sbb; pertama, mohon disampaikan maaf kepada istrinya karena dulu pak P mempunyai WIL dan istrinya tak pernah tahu. Pak P merasa sangat menyesal karena telah membagi “jatah” tidak secara adil kepada keluarga, istri dan anak-anak. Kedua, pak P memberi tahu bahwa dia punya rekening di salah satu bank di Jakarta, sedangkan keluarganya tidak ada yang mengetahui rekening pak P tersebut. Pak P minta supaya istri dan anak-anaknya diberitahu soal rekening dan jumlah tabungannya agar supaya dimanfaatkan untuk melanjutkan hidup keluarga yang ditinggalkan. Ketiga, pak P memberitahukan bahwa dia punya kerjasama bisnis dengan menyebut nama seseorang, dan pak P belum pernah menerima jatah dari pembagian hasilnya. Pak P minta supaya disampaikan kepada istri dan anak-anaknya agar supaya dapat diurus hak-haknya dalam kerjasama dengan rekannya tersebut. Semua pesan itu saya catat satu persatu (kecuali soal WIL pak P) di atas kertas agar tidak lupa, dan paginya saya serahkan kepada istri dan anak-anak yang ditinggalkan. Alangkah terkejutnya istri dan anak-anak pak P karena selama ini tak pernah mengetahui hal itu. Saya merahasiakan kejadian semalam di depan bu P agar tidak menjadi panjang lebar dan penuh tanda-tanya. Saya bilang bahwa kemarin sepulang dari rumah ibu saya bertemu seseorang yang tidaksaya kenal, orang itu memberikan secarik kertas catatan yang berisi pesan-pesan tadi.
Besok paginya bu P dan anak-anak melakukan pengecekan di bank dan melacak rekanan yang namanya saya catat di kertas. Sangat mengejutkan ternyata semua benar adanya, baik nomer rekening, jumlah uang yang ditabung, maupun nama seseorang tercantum dalam kerjasama dengan almarhum pak P.
Seminggu setelah peristiwa itu, arwah pak P kembali datang ke rumah saya, kali ini pak P hanya mengucapkan,”…terimakasih atas segala bantuannya, Tuhan yang akan membalas kebaikan anda ! pak P juga berpamitan bahwa dia akan melanjutkan “perjalanan”nya setelah 40 hari kematiannya itu. Selamat jalan pak P, terusno lakumu, ojo parang tumuleh, lepaso parane, jembaro kubure, semoga amal kebaikanmu diterima disisinya, dan segala kesalahan diampuni Tuhan.
Sumber:http://sabdalangit.wordpress.com/pengalaman-gaib/arwah-yang-beramanat/
 


Komentarku ( Mahrus ali): 
Ternyata orang kristen juga mengadakan acara 40 hari setelah kematian yang mirip dengan ahli bid`ah, beda dengan Wahabi atau Salafy, begitu juga acara  kristen yang lain juga ada kemiripan dengan ahli bid`ah. Ia adalah acara kebid`ahan tanpa dalil, bukan sunnah yang berdalil. Ia sekedar tradisi bukan ajaran dan harus ditinggalkan bukan di budayakan atau dijalankan. Ikuti saja ayat sbb:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا
               Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui dalilnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.[1]
 Tentang kisah itu, mungkin benar atau salah, mungkin sungguhan atau dusta. Kita sulit melacaknya, kita ikuti saja ayat:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.[2]
Mau nanya hubungi kami:
088803080803.( Smart freand) 081935056529 ( XL )
Alamat rumah: Tambak sumur 36 RT 1 RW1
                           Waru Sidoarjo. Jatim.




[1] ( Al isra` 36 )

[2]  Al Hujurat  6

Jumat, 31 Mei 2013

Kemiripan ajaran Syi`ah, Ahli bid`ah dengan Kristen mayat hidup di alam kubur, beda dengan akidah wahabi

Makna kebangkitan Yesus Kristus bagi kita

Kristus Yesus bangkit dan hidup kembali pada hari ke tiga sesudah
kematian tubuh-Nya di kayu salib. Kebangkitan Kristus Yesus dari kematian
adalah peristiwa ketika Yesus Kristus yang secara fisik telah mati hidup
kembali mengalahkan kematian. Tubuh kebangkitan Kristus meski berbeda
dari tubuh lama-Nya, namun masih memiliki kaitan dengan yang lama
karena , misalnya rupa-Nya masih sama sehingga bisa dikenal oleh para
murid-Nya dan bekas luka di tangan-Nya masih ada (Yoh. 20:25-28).


Kebangkitan Kristus dari kematian amatlah penting bagi orang Kristen,
karena memberikan status hukum kebenaran di hadapan Allah (Rom.
4:24-25), memperlihatkan betapa hebat-Nya kuasa dalam diri orang Kristen
(Ef. 1:18-20), dan memberikan kehidupan penuh harapan (1Pet. 1:3-4).


1. KEBANGKITAN KRISTUS MENGHASILKAN KEBENARAN KITA ( Rom.4:23-25 ) "Kata-kata ini, yaitu "halini diperhitungkan kepadanya," tidak
ditulisuntuk Abraham saja, tetapi ditulis juga untuk kita; sebab kepada
kitapun Allah memperhitungkannya, karena kita percaya kepada Dia, yang
telah membangkitkan Yesus, Tuhan kita, dari antara orang mati, yaitu
Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan
karena pembenaran kita. (Rom 4:23-25 ITB).
*. Kebenaran di sini secara theologis merupakan status hukum (judicial)
yang Allah, selaku Hakim Maha Adil, anugerahkan kepada kita.
*. Kebenaran merupakan antonim / kebalikan dari vonis bersalah/ berdosa
dengan segala hukumannya yang Allah selaku Hakim Maha Adil nyatakan
kepada manusia.
*. Kebenaran menunjukkan keadaan hubungan kita dengan Allah, yakni
Dia memandang kita bukan sebagai orang berdosa / bersalah yang patut
dihukum, tetapi sebagai orang benar / tidak bersalah (meskipun dalam
kenyataannya secara moral kita telah berdosa/bersalah).
*. Kebenaran kita merupakan karya kebangkitan KristusYesus dari
kematian.
*. Kita dibenarkan bukan karena hasil usaha, perbuatan, dankebaikan kita.
*. Kita dibenarkan karena karya kebangkitan Kristus dari kematian.
*. Jika kematian-Nya di kayu salib terjadi karena dosa kejahatan kita,maka
kebangkitan-Nya dari kematian terjadi karena / demi pembenaran kita.
*. Cara kita mendapatkan kebenaran adalah dengan iman / percaya
kepada Diayang telah membangkitkan Kristus Yesus. "... karena kita
percayakepada Dia, yang telah membangkitkan Yesus, ..."
*. Secara subjektif iman (pistis) adalah sikap hati tanpa keraguan
sedikitpun dalam berharap dengan penuh kesetiaan hanya pada janji Allah
dan kuasa-Nya dalam mewujudkan janji-Nya itu bagi kita (band.Rom.
4:18-22).
*. Secara objektifiman (pistis) kita tertuju kepada Dia yang telah
membangkitkanKristus dari kematian dan janji-Nya bahwa kebenaran
hanyalah oleh iman dalam Kristus Yesus saja (Rom 3:22).
*. Hasil dari kebenaran dalam Kristus
*. Kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah (Rom. 5:1)
*. Kita pasti diselamatkan dari murka Allah (Rom. 5:9)
*. Kita kelak pastimenerima kemuliaan Allah(Rom. 5:2).
2. KEBANGKITAN KRISTUS MEMBERIKAN KEHIDUPAN BARU KITA (1Pe 1:3-7)
Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-
Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitanYesus
Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh
pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa,yang
tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi
kamu. Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu
sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk
dinyatakan pada zaman akhir. Bergembiralah akan hal itu, sekalipun
sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai
pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untukmembuktikan kemurnian
imanmu yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang
diuji kemurniannya dengan api sehingga kamu memperoleh puji-pujian
dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-
Nya.
*. Kebangkitan Kristusmemberikan hidup yang penuh harapan.
*. Karena Kristustelah bangkit mengalahkan kematian, makakehidupan
orang Kristen tidak berakhir pada saat kematian tubuhnya.
*. Karena Kristustelah bangkit mengalahkan kematian, makaorang Kristen
memiliki harapan untuk memiliki suatu harta kekayaan yangabadi, yang
tidak dapat binasa, tidak dapat cemar, dan tidak dapat layu, yang
tersimpandi surga (1Pet. 1:4).
*. Kebangkitan Kristusdari kematian memberikan kehidupan baru bagi
orang percaya.
*. Karena kebangkitan-Nya
, orang Kristen memilikikehidup an baru.
*. Kehidupanbaru ini bukanlah sekedar pembaharuan dari kehidupanyang
sudah adasebelumnya, tetapi secara substansilsama sekali baru (band. Yeh.
11:19; 36:36).
*. Kehidupanbaru ini terjadi secara supraalami ketika, oleh iman,Roh
Kudusmempersatu
kan kitadalam kematian dan kebangkitan Kristus(Rom.
6:1-11).
*. Karena kebangkitan-Nya
, Orang Kristen akan memiliki tubuh baru.
*. Kebangkitan-Nya menjadi prototipe kebangkitan orang-orang percaya.
Dia disebut sebagai anak sulung (Kol. 1:18; Why. 1:5). Ini berarti Dia yang
pertama memiliki tubuh kebangkitan abadi. Tubuh kebangkitan orang
percaya akan baruseperti tubuh Kristus (1Yoh. 3:2) yang berbeda dari
tubuhlama (1Kor. 15:35-41).Berda
sarkan 1 Yohanes 3, ini berarti tubuh
kebangkitan bersifat murni (ay. 3), tanpa dosa (ay. 5), dan benar (ay.7).
*. Tubuh baru akankita miliki dalam sekejap ketika Kristus Yesus datang di
awan-awan untuk menjemputdan mengangkat kita (1Kor. 15:51-52; 1Tes.
4:16-17).
*. Respon kita terhadap karya kebangkitan Kristusyang memberikan
kehidupan penuh harapan.
*. Kita harus memuji Dia (1Pet. 1:3).
*. Kita harus bertumbuh dalam iman, terutama ketika menghadapi
penderitaan (1Pet. 1:5-7).
3. KEBANGKITAN KRISTUS MEMPERLIHATKAN KEHEBATAN KUASA KITA (Ef.
1:18-20) Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu
mengerti pengharapan apakah yang terkandungdalam
panggilan-Nya:
betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang
kudus, danbetapa hebat kuasa-Nyabagi kita yang percaya, sesuai dengan
kekuatankuasa-N
ya, yang dikerjakan-Nya di dalamKristus dengan
membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di
sebelah kanan-Nya di sorga, (Eph 1:18-20 ITB).
*. Kuasa kebangkitan Kristus dari kematian itu maha hebat.
*. Kuasa kebangkitan Kristus ada pada orang percaya.
*. Kuasa (dynamis) mengandung arti kapasitas atau kemampuan untuk
melakukan atau mempengaruhi sesuatu/orang.
*. Kuasa itu diberikan padasaat pertobatan (band. Kol. 2:11-12; 1Pet. 3:21).
Kuasa yang ada padaorang percaya amat dahsyat dan diasosiasikan
dengan kehadiran Roh Kudus di dalamdiri orang percaya (band.Kis. 1:8).
*. Allah ingin kita hidup dalam kuasa kebangkitan Kristus(1:17).
*. Roh Allah ini agar kita mengerti kehebatan kuasa-Nya bagi kita yang
percaya. Kata “mengerti” ( eido dan sinonim dengan epignosis, Ef. 1:17)
bukan sekedar mengetahui secara intelektual kuasa itu, tetapi juga
bermakna memberikan perhatian untuk mengenalnya hingga akrab dalam
pengalaman nyata.
*. Kuasa kebangkitan Kristus yang ada pada kita dimaksudkan untuk
menjalankehidup
an kekristenan kita secara benar (band. Rom. 8:11-13; Fil.
2:12-13; 4:13; Ed. 3:20; 6:10).
*. Cara kita untuk mengenal dan hidupdalam kuasa kebangkitan
Kristusadalah dengan berdoa tak henti-henti-Nya
(Ef. 1:15-17).
*. Berdoa denganucapan syukur.
*. Berdoa denganketekunan
/ terus menerus.
*. Berdoa denganpermohona n.
*. Hasil dari hidup dalam kuasa kebangkitan Kristusadalah Allah akan
meninggikan dan mempermuliakan kita, sebagaimana (meskipun tidak
sama) Dia meninggikan dan memuliakan Kristus di sebelah kanan-Nya (Ef.
1:20).
Kesimpulan / Penerapan
1. Karena Kristus Yesus telah bangkit mengalahkan kematian, maka kita
bisa mendapatkan kehidupan yang benar dan berkenan di hati Allah, kita
memiliki kuasa yang dahsyat dalam menjalan kehidupan kekristenan, dan
kita memiliki masa depan yang penuh kemuliaan.
2. Mintalah dalam ketekunan doa agar RohKudus mememberikan hikmat-
Nya kepada kita untuk bisa hidup dalam kuasa kebangkitan Kristus.





Di katakan dalam artikel tsb sbb:
Kebenaran menunjukkan keadaan hubungan kita dengan Allah, yakni
Dia memandang kita bukan sebagai orang berdosa / bersalah yang patut
dihukum, tetapi sebagai orang benar / tidak bersalah (meskipun dalam
kenyataannya secara moral kita telah berdosa/bersalah).

Komentarku ( Mahrus ali): 
Hal itu memberi kesan kepada saya bahwa kalangan ahli bid`ah itu juga punya anggapan perbuatan dosa yang banyak itu tidak ada resikonya karena Rasulullah SAW akan memberikan safaat padanya. Lihat komentar pengarang Burdah sbb:
يَاأَكْرَمَ الخَلْقِ مَالِي مَنْ أَلُوْذُ بِهِ          سِوَاكَ عِنْدَ حُلُولِ الحاَدِثِ العَمِمِ         
Wahai mahluk termulia ( Muhammad ), aku tidak memiliki perlindungan  kecuali kepadamu ketika  bahaya  melanda.
فَإِنَّ مِنْ جُودِكَ الدُّنْياَ وَضَرَّتَهاَ   وَمِنْ عُلُوْمِكَ عِلْمَ اللَّوْحِ وَالقَلَمِ
Sesungguhnya  engkau ( Rasulullah  )  sangat pemurah  dengan  harta  dunia dan  engkau mengetahui apa yang di loh mahfud dan  penanya .
إِنْ لَمْ يَكُنْ فِي مَعاَدَي آخِذاُ بِيَدِي  فَضْلاُ وَإِلاَّ فَقُلْ ياَزَلَّةَ الَقَدَمِ
Bila Rasulullah  saw  di hari kiamat  tidak sudi memegang tanganku, maka katakanlah kepadaku  : “ Wahai  orang  yang terpereset “
إِنَّ لِي ذِمَّةً مِنْهُ بِتَسْمِيَتيِ ‏      مُحَمَّدًا وَهُوَ أَوْفَى الْخَلْقِ بِالذِّمَمِ
Sesungguhnya aku mempunya perjanjian dari Muhammad karena aku di beri nama Muhammad dan dia adalah mahluk yang paling setia dengan perjanjian
                                                                                      
Al Utsaimin berkata : Kalimat tsb sangat kufur dan terlalu dalam memuji Rasulullah SAW, mengapa penyair menyekutukan kepada Allah dengan sesuatu. Rasulullah SAW itu mulia bukan karena beliau bernama Muhammad tapi karena beliau adalah hamba dan utusanNya. [1]
Al Utsaimin melanjutkan perkataannya:
Sang penyair berlindung kepada Rasulullah SAW di akhirat bukan kepada Allah azza wajal, dia menyebut bahwa dia akan binasa bila tidak mendapat pertolongan Muhammad, dia lupa kepada Allah yang di tanganNya bahaya, manfaaat, pemberian dan tidak memberi. Dialah yang akan menyelamatkan para kekasihnya dan orang – orang yang taat. Sang penyair menjadikan Rasulullah SAW penguasa dunia dan akhirat dan itulah sebagian dari kedermawanan Rasulullah SAW. Lebih jelas  Klik lagi disini:
 Hal itu beda sekali dengan akidah Wahabi yang menganggap manusia akan menerima hukuman atas dosa yang dijalankan. Lihat saja ayat ini:
وَالَّذِينَ كَسَبُوا السَّيِّئَاتِ جَزَاءُ سَيِّئَةٍ بِمِثْلِهَا وَتَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ مَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ عَاصِمٍ كَأَنَّمَا أُغْشِيَتْ وُجُوهُهُمْ قِطَعًا مِنَ اللَّيْلِ مُظْلِمًا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ(27)
Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan (mendapat) balasan yang setimpal dan mereka ditutupi kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dari (azab) Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Yunus.

Yesus kristus hidup itu mirip dengan akidah ahli bid`ah , syi`ah bahwa para wali – wali atau imam – imam mereka dalam keadaan hidup di kuburannya yang layak bisa bermanfaat kepada kita yang hidup, beda sekali dengan akidah wahabi yang menyatakan mereka sudah mati, tidak hidup di alam kubur. Hal ini berdasarkan ayat;
إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ(30)
Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula).Zumar

Di alam kubur, manusia tidur dan tidak bangkit kecuali di hari kiamat , lihat ayat sbb:
ثُمَّ إِنَّكُمْ بَعْدَ ذَلِكَ لَمَيِّتُونَ(15)ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ(16)
Kemudian setelah itu, kalian akan mati dan  nanti di hari kiamat kalian akan dibangkitkan. Al Mukminun
Mau nanya hubungi kami:
088803080803.( Smart freand) 081935056529 ( XL )
Alamat rumah: Tambak sumur 36 RT 1 RW1
                           Waru Sidoarjo. Jatim.




[1] Fatwa Al Utsaimin , bab bersumpah dengan selain Allah
 

Kamis, 16 Mei 2013

Bantahan Dalil Bolehnya Tahlilan


Kategori: Bantahan Diterbitkan pada 28 April 2013 Klik: 22986
Print
hukum tahlilan(Catatan Terhadap Tulisan Ustadz Muhammad Idrus Ramli dan Kiyai Tobari Syadzili)

Telah lalu tulisan saya tentang pengingkaran para ulama Syafi'iyah terhadap acara ritual tahlilan (silahkan dibaca kembali di Tahlilan adalah Bid'ah Menurut Madzhab Syafi'i.

Dan hingga saat ini saya masih berharap masukan dari para ustadz-ustadz ASWAJA yang mengaku bermadzhab Syafi'iyah untuk mendatangkan nukilan dari ulama syafi'iyah yang mu'tabar dalam madzhab mereka yang membolehkan acara ritual tahlilan!!!

Jika ada nukilannya, maka harus dilihat manakah yang menjadi madzhab yang mu'tamad (patokan) dalam madzhab syafi'iyah? Terlebih-lebih lagi jika tidak didapat nukilan sama sekali!

Imam Malik Membolehkan Tahlilan

Dalam tulisannya di status di facebook yang berjudul TRADISI KENDURI KEMATIAN, Ustadz Idrus Ramli tidak menyebutkan ulama madzhab fikih syafi'i yang mendukungnya dalam membolehkan kenduri Tahlilan. Akan tetapi al-ustadz berpindah ke madzhab maliki dan menyebutkan bahwa madzhab maliki bahkan Imam Malik bin Anas rahimahullah membolehkan kenduri kematian.

Ustadz Muhammad Idrus Ramli berkata: ((Pendapat Imam Malik bin Anas, pendiri madzhab Maliki, bahwa hidangan kematian yang telah menjadi tradisi masyarakat dihukumi jaiz (boleh), dan tidak makruh. Hal ini seperti dipaparkan oleh Syaikh Abdullah al-Jurdani, dalam Fath al-‘Allam Syarh Mursyid al-Anam, juz 3 hal. 218.

Berdasarkan paparan di atas, dapat kita simpulkan bahwa hukum memberi makan orang-orang yang berta'ziyah masih diperselisihkan di kalangan ulama salaf sendiri antara pendapat yang mengatakan makruh, mubah dan Sunnat. Di kalangan ulama salaf tidak ada yang berpendapat haram)), demikian perkataan Ustadz Muhamad Idrus Ramli.

Berikut saya nukilkan scan dari kitab Fath al-'Allaam Syarh Mursyid al-Anaam (3/217-218). Penulis kitab Fath al-'Allaam Sayyid Muhammad Abdullah Al-Jardaaniy berkata:

dalil tahlilan
"Dan diantara bid'ah yang makruhah adalah apa yang dilakukan oleh masyarakat yang disebut dengan "kaffaaroh", yaitu membuat makanan untuk berkumpul sebelum menguburkan mayat atau setelahnya, juga menyembelih di atas kuburan, dan jum'at-jum'at, emput puluhan hari, BAHKAN SEMUA INI HUKUMNYA HARAM jika menggunakan harta mayat sementara sang mayat memiliki hutang, atau di antara ahli warisnya ada yang terhalangi dari harta tersebut atau sedang tidak hadir. Memang, boleh dilakukan apa yang sudah merupakan tradisi menurut Imam Malik, seperti juma' dan yang semisalnya."

Yang sangat disayangkan adalah Ustadz Muhamad Idrus Ramli menukil tentang madzhab Maliki dari literatur madzhab Syafi'iyah. Karena kitab Fathul 'Allam adalah kitab fikih Syafi'i, judul lengkapnya adalah:

فَتْحُ العَلاَّمِ بِشَرْحِ مُرْشِدِ الْأنَامِ فِي الْفِقْهِ عَلَى مَذْهَبِ السَّادَةِ الشَّافِعِيَّةِ

Tentunya akan lebih tepat jika seseorang mengutip pendapat madzhab malikiyah maka ia mengambil dari literatur kitab-kitab madzhab malikiyah.

Ternyata yang saya dapati dalam kitab-kitab madzhab maliki, adalah malah sebaliknya, yaitu pelarangan penyediaan makanan di rumah keluarga mayat dalam rangka mengumpulkan orang-orang. Berikut perkataan-perkataan para ulama madzhab Malikiyah:

Pertama: Abu Abdillah Al-Maghriby (wafat 954 H), beliau berkata:

dalil tahlilan abu abdillah al-maghriby
 "Adapun kegiatan menghidangkan makanan yang dilakukan oleh keluarga mayit dan mengumpulkan orang-orang untuk makanan tersebut, maka hal ini dibenci oleh sekelompok ulama, dan mereka menganggap perbuatan tersebut termasuk bid'ah, karena tidak ada satupun nukilan dalil dalam masalah ini, dan momen tersebut bukanlah tempat melaksanakan walimah/kenduri...

Adapun apabila seseorang menyembelih binatang di rumahnya kemudian dibagikan kepada orang-orang fakir sebagai shadaqah untuk mayit, maka tidak mengapa selama hal tersebut tidak dimaksudkan untuk riya, sum'ah, dan saling unjuk gengsi, serta tidak mengumpulkan masyarakat untuk memakan sembelihan tersebut." (Mawahibul jalil li Syarhi Mukhtasharil Khalil, karya Abu Abdullah al-Maghriby, cetakan  Dar 'Aalam al-Kutub, juz 3 hal 37)

Kedua: Muhammad 'Arofah Ad-Dusuuqi rahimahullah (wafat 1230 H), beliau berkata:
dalil tahlilan Muhammad Arofah Ad-Dusuuqi
Dan perkataannya ((Dianjurkan menyiapkan makanan untuk keluarga mayat)): hal itu dikarenakan mereka ditimpa musibah yang menyibukan mereka. (Hal ini dianjurkan) selama mereka tidak berkumpul untuk niyahah, yaitu tangisan dengan mengangkat suara. Namun jika tidak (terpenuhi syarat ini), maka tidak boleh mengirim makanan untuk keluarga mayit karena mereka adalah pelaku maksiat. Adapun mengumpulkan orang-orang untuk makanan di keluarga mayat maka itu merupakan bid'ah yang makruh" (Hasyiyah Ad-Dusuuqy 'ala al-Syarh al-Kabir (Beirut: Darul Fikr), karya  Muhammad 'Arofah Ad-Dusuuqy, juz I, hal 419)
Ketiga: Muhammad 'Ulayyisy Al-Maaliki (wafat 1299 H), dalam kitabnya Minah Al-Jaliil ia berkata:
dalil tahlilan Muhammad Ulayyisy Al-Maaliki
"Dianjurkan menyiapkan dan menghadiahkan makanan kepada keluarga mayit, karena mereka ditimpa musibah yang menyibukan mereka, sehingga tidak sempat membuat makanan untuk mereka sendiri. (Hal ini dianjurkan) selama mereka tidak berkumpul untuk menangis dengan mengangkat suara atau perkataan yang buruk, maka jika demikian, jadilah haram menghadiahkan makanan kepada mereka, karena berarti membantu mereka melakukan perbuatan haram.

Adapun berkumpul untuk memakan makanan di rumah mayat maka ini merupakan bid'ah yang makruh (dibenci), jika diantara ahli warisnya tidak ada yang masih kecil. Jika (ahli warisnya) ada yang masih kecil, maka perbuatan ini haram.

Dan termasuk kesesatan yang buruk dan kemungkaran yang keji, serta kebodohan yang tidak ringan adalah menggantungkan tanah dan selalu menyediakan kopi di rumah mayit serta berkumpul di rumah tersebut untuk bercerita-cerita, dan membuang-buang waktu pada perkara-perkara yang dilarang, disertai pamer dan bangga-banggaan. Mereka tidak memikirkan orang yang mereka kuburkan di tanah di bawah kaki mereka, yang telah mereka letakan di tempat yang gelap…. Jika mereka ditanya tentang perbuatan itu, mereka menjawab: Karena mengikuti tradisi, untuk menjaga gengsi, dan mendapatkan pujian masyarakat... Maka apakah ada kebaikan pada hal ini?? Sekali-kali tidak, bahkan itu adalah keburukan dan kerugian..." (Syarh Minahul Jalil 'alaa Mukhtashor 'Allaamah al-Kholiil, cetakan Maktabah An-Najaah, Trooblus, Libiya, juz 1 hal 300)

DALIL BOLEHNYA TAHLILAN

Berikut ini beberapa dalil yang dijadikan hujjah oleh ustadz Muhammad Idrus Ramli dan juga kiyai Tobari Syadzili akan bolehnya tahlilan. Akan tetapi berikut catatan ringan yang berkaitan dengan pendalilan tersebut.

Pendalilan Pertama

Ustadz Muhammad Idrus Ramli berkata:
"Riwayat dari Khalifah Umar bin al-Khatthab yang berwasiat agar disediakan makanan bagi orang-orang yang datang melayat. Al-Imam Ahmad bin Mani' meriwayatkan: Dari Ahnaf bin Qais, berkata: "Setelah Khalifah Umar ditikam oleh Abu Lu’luah al-Majusi, maka ia memerintahkan Shuhaib agar menjadi imam sholat selama tiga hari dan memerintahkan menyediakan makanan bagi manusia. Setelah mereka pulang dari jenazah Umar, mereka datang, sedangkan hidangan makanan telah disiapkan. Lalu mereka tidak jadi makan, karena duka cita yang menyelimuti. Lalu Abbas bin Abdul Mutthalib datang dan berkata: 'Wahai manusia, dulu Rasulullah meninggal, lalu kita makan dan minum sesudah itu. Lalu Abu Bakar meninggal, kita makan dan minum sesudahnya. Wahai manusia, makanlah dari makanan ini.' Lalu Abbas menjamah makanan itu, dan orang-orang pun menjamahnya. (HR. Ibnu Mani')

Al-Ustadz setelah itu berkata "...kesimpulan bahwa pemberian makanan oleh keluarga duka cita kepada orang-orang yang berta'ziyah telah berlangsung sejak generasi sahabat atas perintah Khalifah Umar sebelum wafat"

Dalil ini juga yang telah dijadikan pegangan oleh Kiyai Thobari Syadzili sebagaimana bisa dilihat di (http://jundumuhammad.net/2011/06/07/hukum-selamatan-hari-ke-3-7-40-100-setahun-1000/)

KRITIKAN
Kritikan terhadap pendalilan Al-Ustadz Idrus Ramli di atas dari dua sisi:

PERTAMA: Tentang Keabsahan Dalil

Al-Ustadz Idrus Ramli tidak menyebutkan dalam kitab apa riwayat Umar bin Al-Khotthob ini diriwayatkan oleh Ibnu Mani', dan juga tidak menyebutkan takhriij riwayat ini secara lengkap, terlebih lagi derajat keabsahan riwayat ini.

'Alaa ad-Diin dalam kitabnya Kanzul 'Ummaal (13/509 no 37304) –setelah menyebutkan atsar di atas- ia berkata:

dalil tahlilan Alaa ad-Diin
(Ibnu Sa'ad, Ibnu Manii', Abu Bakr fi Al-Ghoilaaniyaat, Ibnu 'Asaakir)

Berikut ini saya cantumkan riwayat atsar ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Bakar dalam Al-Ghilaaniyaat (1/302-303 no 315. Dan lihat juga 1/296 no 296)

dalil tahlilan Al-Ghilaaniyaat
Ternyata dalam isnadnya ada seorang perawi yang bernama Ali bin Zaid bin Jud'aan.

Adapun Ibnu 'Asaakir maka beliau meriwayatkan atsar ini di kitabnya Taarikh Dimasyq (26/373), sebagaimana berikut:

dalil tahlilan Taarikh Dimasyq
Dan sangat jelas pula bahwa dalam isnadnya terdapat perawi yang bernama Abdullah bin Zaid bin Jud'aan.

Adapun Ibnu Sa'ad maka beliau meriwayatkan atsar ini dalam kitabnya At-Tobaqoot Al-Kubroo (4/26-27) sebagaimana berikut ini:

dalil tahlilan Tobaqoot Al-Kubroo
Adapun Ahmad bin Manii' maka beliau membawakan riwayat ini dalam Musnadnya, sebagaimana dinukil oleh Al-Haafiz Ibnu Hajar al-'Asqolaani dalam kitabnya Al-Mathoolib al-'Aaliyah Bizawaaid Al-Masaaniid Ats-Tsamaaniyah 5/328 no 1785 atau pada cetakan lama 1/198)

Beliau berkata:

dalil tahlilan Al-Mathoolib al-'Aaliyah Bizawaaid Al-Masaaniid Ats-Tsamaaniyah
Pandangan ulama terhadap keabsahan atsar ini:

Atsar ini dibawakan oleh Ahmad bin Abi Bakr Al-Buushiri dalam kitabnya Ithaaf Al-Khiyaroh Al-Maharoh bi Zawaaid al-Masaaniid al-'Asyaroh 2/509 no 2000, sbb:

dalil tahlilan Ithaaf Al-Khiyaroh Al-Maharoh bi Zawaaid al-Masaaniid al-'Asyaroh
Sangat jelas bahwa Al-Bushiri berkata, "Diriwayatkan oleh Ahmad bin Manii', dan pada sanadnya ada perawi Ali bin Zaid bin Jud'aan"

Ali bin Zaid bin Jud'aan adalah perawi yang dho'iif (lemah) bahkan tertuduh terpengaruh faham tasyayyu' (syi'ah), silahkan merujuk ke kitab-kitab berikut (Taqriib At-Tahdziib karya Ibnu Hajar hal 401 no 4734, Tahdziibut Tahdziib karya Ibnu Hajar 7/283-284 no 545, Al-Mughniy fi Ad-Du'afaa karya Adz-Dzahabi 2/447, dan Al-Majruuhiin karya Ibnu Hibbaan 2/103-104)

KEDUA: Tentang Sisi Pendalilan

Al-Ustadz Idrus Ramli ingin berdalil dengan atsar (riwayat) di atas akan bolehnya acara ritual tahlilan.

Mari kita baca kembali terjemahan riwayat di atas dengan seksama:


"...Tatkala Umar ditikam, maka Umarpun memerintahkan Shuhaib untuk mengimami orang-orang dan memberi makanan kepada mereka selama tiga hari, hingga mereka bersepakat pada seseorang (untuk menjadi khalfiah baru pengganti Umar-pen). Tatkala mereka meletakan makanan maka orang-orangpun menahan diri tidak makan, maka  Al-'Abbaas radhiallahu 'anhu berkata, "Wahai manusia, sesungguhnya Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- telah wafat, maka kamipun makan dan minum setelah wafatnya, dan (juga) setelah (wafatnya) Abu Bakar, dan sungguh makan itu adalah keharusan". Maka Al-'Abbaas pun makan lalu orang-orangpun ikut makan."

Jika kita perhatikan isi dari kandungan atsar di atas maka bisa kita ambil kesimpulan:

Pertama: Penyediaan makanan tersebut telah diperintahkan oleh Umar sebelum beliau meninggal. Berbeda dengan ritual tahlilan yang penyediaan makanan adalah untuk orang-orang yang melakukan ta'ziyah.

Kedua: Sangat jelas bahwa tujuan penyediaan makanan tersebut adalah agar para sahabat rapat dan menentukan pengganti Khalifah Umar dengan Khalifah yang baru. Sehingga makanan tersebut tidaklah disediakan dalam rangka acara ritual tahlilan untuk mendoakan Umar bin Al-Khotthoob.

Ketiga: Adapun penyebutan jumlah tiga hari tersebut sama sekali bukan karena sebagaimana ritual Tahlilan 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari dst. Akan tetapi hingga para sahabat menentukan khalifah yang baru, dank arena Umar meninggal tiga hari setelah beliau ditikam.

Keempat: Sama sekali tidak disebutkan tatkala itu adanya acara mendoakan, dan kumpul-kumpul dalam rangka berdoa, karena tatkala mereka berkumpul dan makan, Umar masih dalam keadaan hidup.

Kelima: Kapan mereka menahan diri ragu untuk menyentuh makanan?, yaitu tatkala mereka pulang dari menguburkan Umar. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang lain:

dalil tahlilan umar bin khattab
Tatkala mereka kembali pulang dari menguburkan Umar mereka datang, dan makanan telah dihidangkan. Orang-orangpun menahan diri karena kesedihan yang mereka rasakan. Maka Abbaspun datang…."
Jadi proses menyediakan makanan sudah disediakan semenjak Umar masih hidup dan setelah Umar dikubur masih juga disediakan makanan. Akan tetapi para sahabat enggan untuk memakan karena kesedihan yang mereka rasakan.

Dan dalam riwayat tersebut sangat jelas bahwa tujuan memakan makanan itu adalah karena urusan pemerintahan, dan mereka harus makan untuk terus menyelenggarakan pemilihan khalifah.

Al-'Abbas berkata:

dalil tahlilan ibnu abbas
"Wahai manusia, sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah wafat, maka kamipun makan dan minum setelah beliau (wafat), dan (juga) setelah (wafatnya) Abu Bakar, dan sungguh makan itu adalah keharusan". Maka Al-'Abbaas pun makan, lalu orang-orangpun ikut makan."

Karenanya acara memakan makanan tersebut hanya disebutkan oleh Abbas berkaitan dengan setelah wafatnya para pemimpin yaitu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan Abu Bakar, dan bukan berkaitan dengan acara makan-makan pada setiap ada yang meninggal. Padahal diketahui bersama bahwasanya terlalu banyak para sahabat yang meninggal sebelum meninggalnya Umar, baik yang meninggal dalam perang Badr, Uhud, Khondaq, Khoibar, Mu'tah, dll, demikian pula yang meninggal di zaman Abu Bakar tatkala berperang melawan pasukan nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzaab. Akan tetapi tidak ada sama sekali perlaksanaan ritual tahlilan yang mereka lakukan!

Keenam: Yang jelas penyediaan makanan tersebut bukan dari harta orang yang kematian, akan tetapi dzohirnya adalah atas perintah Umar sang Khalifah. Jadi dari harta negara, karena untuk urusan negara, yaitu pemilihan khalifah yang baru.

Akan tetapi bagaimanapun telah jelas bahwa atsar riwayat di atas adalah ATSAR YANG LEMAH yang tidak bisa dijadikan hujjah dan dalil. Kalaupun shahih maka pendalilalnnya tidaklah nyambung. Wallahu a'lam bis Showaaab.

PENDALILAN KEDUA'

Al-Ustadz Muhammad Idrus Ramli berkata:
"Riwayat dari Sayyidah Aisyah, istri Nabi ketika ada keluarganya meninggal dunia, beliau menghidangkan makanan. Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya:


عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ أَنَّهَا كَانَتْ إِذَا مَاتَ الْمَيِّتُ مِنْ أَهْلِهَا فَاجْتَمَعَ لِذَلِكَ النِّسَاءُ ثُمَّ تَفَرَّقْنَ إِلاَّ أَهْلَهَا وَخَاصَّتَهَا أَمَرَتْ بِبُرْمَةٍ مِنْ تَلْبِيْنَةٍ فَطُبِخَتْ ثُمَّ صُنِعَ ثَرِيْدٌ فَصُبَّتْ التَّلْبِيْنَةُ عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَتْ كُلْنَ مِنْهَا فَإِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ اَلتَّلْبِيْنَةُ مُجِمَّةٌ لِفُؤَادِ الْمَرِيْضِ تُذْهِبُ بَعْضَ الْحُزْنِ. رواه مسلم

"Dari Urwah, dari Aisyah, istri Nabi , bahwa apabila seseorang dari keluarga Aisyah meninggal, lalu orang-orang perempuan berkumpul untuk berta’ziyah, kemudian mereka berpisah kecuali keluarga dan orang-orang dekatnya, maka Aisyah menyuruh dibuatkan talbinah (sop atau kuah dari tepung dicampur madu) seperiuk kecil, lalu dimasak. Kemudian dibuatkan bubur. Lalu sop tersebut dituangkan ke bubur itu. Kemudian Aisyah berkata: 'Makanlah kalian, karena aku mendengar Rasulullah bersabda: Talbinah dapat menenangkan hati orang yang sakit dan menghilangkan sebagian kesusahan.'" (HR. Muslim [2216])

Dua hadits di atas mengantarkan pada kesimpulan bahwa pemberian makanan oleh keluarga duka cita kepada orang-orang yang berta'ziyah telah berlangsung sejak generasi sahabat atas perintah Khalifah Umar sebelum wafat, dan dilakukan oleh Sayyidah Aisyah. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi kenduri kematian bukanlah perbuatan yang dilarang dalam agama.

KRITIKAN

Dalil dari hadits Aisyah radhiallahu 'anhaa di atas sangat tidak diragukan akan keabsahan dan keshahihannya. Karenanya pembicaraan hanya akan tertuju pada sisi pendalilan dari hadits tersebut untuk melegalkan acara ritual tahlilan.

Jika kita membaca kembali teks hadits di atas maka bisa kita simpulkan:

Pertama: Sangat jelas tidak ada penyebutan acara ritual tahlilan, hanya penyebutan mengenai makanan.

Kedua =: Dalam hadits di atas disebutkan bahwa yang menyediakan makanan adalah Aisyah, dan yang meninggal adalah keluarga Aisyah, serta yang diberi makan adalah keluarga Aisyah dan orang-orang khususnya.

Sangat jelas dalam riwayat di atas:

أَنَّهَا كَانَتْ إِذَا مَاتَ الْمَيِّتُ مِنْ أَهْلِهَا فَاجْتَمَعَ لِذَلِكَ النِّسَاءُ ثُمَّ تَفَرَّقْنَ إِلاَّ أَهْلَهَا وَخَاصَّتَهَا أَمَرَتْ بِبُرْمَةٍ مِنْ تَلْبِيْنَةٍ

"Jika ada yang meninggal dari keluarga Aisyah, maka para wanita pun berkumpul untuk itu, kemudian mereka bubar kecuali keluarga Aisyah dan orang-orang khususnya, maka Aisyahpun memerintahkan untuk membuat makanan talbinah seperiuk kecil."

Bahwa pembicaraan dalam hadits ini, bukanlah membuat makanan untuk seluruh orang-orang yang hadir, akan tetapi untuk orang-orang khusus beliau dari kalangan wanita saja.

Selain itu pemberian makanan talbinah ini adalah setelah para wanita bubaran, sehingga yang tersisa hanyalah keluarga Aisyah yang bersedih dan orang-orang khusus yang dekat dengan Aisyah.

Ketiga =: Dalam hadits di atas juga, tujuan pembuatan makanan talbinah tersebut bukanlah dalam rangka bersedekah kepada para penta'ziah, (karena jelas para penta'ziah wanita telah bubaran), akan tetapi dalam rangka menghilangkan kesedihan.

Karenanya seluruh para ulama yang menjelaskan hadits di atas, menyebutkan tentang keutamaan talbinah yang disebutkan oleh Nabi -shalallahu 'alaihi wa sallam- untuk menghilangkan kesedihan dan kesusahan. Karenanya talbinah ini tidak hanya diberikan kepada keluarga yang sedang duka, akan tetapi diberikan juga kepada orang yang sakit.

Keempat: Yang dihidangkan oleh Aisyah adalah hanya talbinah saja bukan sembarang makanan, karena ada keutamaan talbinah yang bisa menghilangkan kesedihan. Hal ini semakin mendukung bahwa tujuan Aisyah bukanlah untuk murni memberi makanan, atau untuk mengenyangkan perut, atau untuk bersedekah dengan makanan, akan tetapi tujuannya adalah untuk menghilangkan kesedihan. Karena kalau dalam rangka mengenyangkan para penta'ziah dan bersedakah, maka lebih utama untuk menghidangkan makanan yang berbobot seperti kambing guling dan yang lainnya, bukan hanya sekedar semangkuk sop saja yang tidak mengenyangkan.

PENDALILAN KETIGA

Ustadz Muhammad Idrus Ramli berkata: ((Tradisi kaum salaf sejak generasi sahabat yang bersedekah makanan selama tujuh hari kematian untuk meringankan beban si mati. Dalam hal ini, al-Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dalam kitab al-Zuhd: "Dari Sufyan berkata: "Thawus berkata: "Sesungguhnya orang yang mati akan diuji di dalam kubur selama tujuh hari, karena itu mereka (kaum salaf) menganjurkan sedekah makanan selama hari-hari tersebut."

Hadits di atas diriwayatkan al-Imam Ahmad bin Hanbal dalam al-Zuhd, al-Hafizh Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Auliya' (juz 4 hal. 11), al-Hafizh Ibnu Rajab dalam Ahwal al-Qubur (32), al-Hafizh Ibnu Hajar dalam al-Mathalib al-'Aliyah (juz 5 hal. 330) dan al-Hafizh al-Suyuthi dalam al-Hawi lil-Fatawi (juz 2 hal. 178).

Tradisi bersedekah kematian selama tujuh hari berlangsung di Kota Makkah dan Madinah sejak generasi sahabat, hingga abad kesepuluh Hijriah, sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh al-Suyuthi))

Demikianlah perkataan Ustadz Muhamad Idrus Ramli

Pendalilan ini pulalah yang dipaparkan oleh Kiyai Tobari Syadzili (http://jundumuhammad.net/2011/06/07/hukum-selamatan-hari-ke-3-7-40-100-setahun-1000/)

KRITIKAN

Ustadz Muhamad Idrus Ramli telah menyebutkan takhrij atsar ini dengan baik. Akan tetapi perlu pembahasan dari dua sisi, sisi keabsahan atsar ini, dan sisi kandungan atsar ini.

PERTAMA: Keabsahan Atsar Ini

Atsar ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Haafiz Ibnu Hajar dalam Al-Mathoolib al-'Aaliyah (5/330 no 834), sebagaimana berikut:

dalil tahlilan makanan
Imam Ahmad berkata: Telah menyampaikan kepada kami Hasyim bin Al-Qoosim, telah menyampaikan kepada kami al-Asyja'iy, dari Sufyan berkata, Thowus telah berkata: "Sesungguhnya mayat-mayat diuji dalam kuburan mereka tujuh hari, maka mereka (para salaf-pen) suka untuk bersedekah makanan atas nama mayat-mayat tersebut pada hari-hari tersebut."

Dan dari jalan Al-Imam Ahmad bin Hanbal juga diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam kitabnya Hilyatul Auliyaa' (4/11) sebagaimana berikut ini:

dalil tahlilan hilyatul auliya
Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus.
Thoowuus bin Kaisaan Al-Yamaani wafat 106 H (Taqriibut Tahdziib hal 281 no 3309) adapun Sufyaan bin Sa'id bin Masruuq Ats-Tsauri lahir pada tahun 97 H (lihat Siyar A'laam An-Nubalaa 7/230). Meskipun Sufyan Ats-Tsaury mendapati zaman Thoowus, hanya saja tidak ada dalil yang menunjukan bahwa Sufyan pernah mendengar dari Thowus.

Justru yang ada adalah sebaliknya:

Pertama: Tatkala Thowus wafat (tahun 106 H) umur Sufyan At-Tsauri (yang lahir tahun 97 H) masih sangat kecil yaitu beliau berumur 9 tahun. Karenanya Sufyan tidak mendapati periwayatan dari Thoosuus bin Kaisaan.

Kedua: Dalam buku-buku Taroojum Ar-Ruwaat (seperti Tahdziib al-Kamaal, Tahdziib At-Tahdziib, Siyar A'laam An-Nubalaa, dll) tidak menyebutkan bahwa Thoowus bin Kaisaan termasuk syuyukh (guru-guru) yang Sufyan Ats-Tsauri meriwayatkan dari mereka.

Ketiga: Sufyan Ats-Tsauri selalu meriwayatkan dari Thoowus dengan perantara perawi yang lain. Diantara perawi-perawi perantara tersebut adalah (1) Habib bin Abi Tsaabit, (2) 'Amr bin Diinaar, (3) Abdullah bin Thoowuus, (4) Handzolah bin Abi Sufyan, dan (5) Ibrahim bin Maysaroh.

Keempat: Tidak ditemukan satu riwayatpun yang dimana Sufyan meriwayatkan langsung dari Thowus.

Kelima: Adapun riwayat di atas maka Sufyan tidak menggunakan shigoh (عَنْ طاووس) "Dari Thowus", akan tetapi beliau mengatakan (قَالَ طاووس) "Telah berkata Thoowus". Yang shigoh periwayatan seperti ini tidak menunjukan dengan jelas bahwa beliau meriwayatkan dari Thoowus, akan tetapi beliau hanya mengabarkan perkataan Thoowus. Karenanya sangatlah jelas jika sanad atsar ini terputus antara Sufyan dan Thowus.

KEDUA: Sisi Pendalilan

Kalaupun seandainya atsar ini shahih, maka ada beberapa perkara yang menjadi permasalahan:

Pertama: Atsar ini dihukumi marfu' mursal, karena Thoowus adalah seorang tabi'in dan dalam atsar ini ia sedang berbicara tentang hal yang ghoib, yaitu bahwasanya mayat diuji (ditanya oleh malaikat munkar dan nakiir) selama tujuh hari. Dan hadits mursal adalah hadits yang lemah.

Ustadz Muhmad Idrus Ramli berkata, ((Akan tetapi sebagaimana yang diketahui bahwasanya Thowus bukanlah seorang sahabat, akan tetapi ia hanyalah seorang tabi'in. Sehingga pernyataan beliau tentang bahwa mayat diuji selama tujuh hari adalah termasuk perkara yang ghaib yang perlu dibahas lebih lanjut. Memang para ulama hadits menyebutkan bahwa jika seorang sahabat yang berbicara tentang ilmu ghaib maka diberi hukum marfu' dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, karena tidak mungkin seorang sahabat berbicara tentang ilmu ghaib kecuali berasal dari Nabi shalallallahu 'alaihi wa sallam. Akan tetapi jika seorang tabi'in yang berbicara?! Para ulama menyebutkan hukumnya adalah hukum mursal)). Demikian perkataan al-Ustadz.

Tentunya para ulama mengecualikan sahabat yang dikenal mengambil riwayat Israiliyaat seperti Abdullah bin 'Amr bin al-'Aash, dan juga sahabat Ibnu Abbas sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama. Jika para sahabat yang dikenal mengambil dari isroiliyat berbicara tentang hal yang ghaib, maka riwayatnya itu tidak bias dihukumi mar'fuu' karena ada kemungkinan mereka mengambil dari Isrooiliyaat.

Thowus termasuk yang sering meriwayatkan dari Ibnu Abbas.

Kedua: Semakin memperkuat akan hal ini, adalah bahwasanya seluruh hadits-hadits yang shahih dan marfu' menunjukan bahwa mayat akan ditanya hanya sekali, yakni tatkala baru dikuburkan.

Ketiga: Kalaupun atsar ini shahih, maka sama sekali tidak menunjukan adanya acara tahlilan sebagaimana yang dipersangkakan. Karena atsar ini tidak menunjukan bahwa para salaf mengadakan acara berkumpul-kumpul selama tujuh hari berturut-turut di rumah keluarga mayat.

Akan tetapi hanya menunjukan akan dianjurkannya memberi makanan sebagai sedekah atas nama mayat selama tujuh hari. Dan termasuk perkara yang disepakati bolehnya adalah bersedekah atas nama mayit, karena pahalanya akan sampai kepada mayit.

Sementara pelaku acara tahlilan, banyak dari mereka seringnya hanya melakukan tahlilan pada hari ke 3 dan ke 7 lalu 40, 100, dan seribu, serta tidak melakukan tahlilan 7 hari berturut-turut.

Keempat: Hal ini didukung dengan perkataan Jariir bin 'Abdillah

كُنَّا نَعُدُّ الِاجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنِيعَةَ الطَّعَامِ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنْ النِّيَاحَةِ

"Kami menganggap perkumpulan di keluarga mayat dan pembuatan makanan setelah dikuburkannya mayat termasuk niyaahah." (Atsar riwayat Ahmad dalam Musnadnya no 6905 dan Ibnu Maajah dalam sunannya no 1308, dan dishahihkan oleh Al-Imam An-Nawawi dalam Al-Majmuu' Syarh Al-Muhadzdzab 5/320 dan Al-Bushiri dalam Az-Zawaaid)

Keenam: Jika memang para salaf selalu melakukan tahlilan selama tujuh hari berturut-turut, dan juga hari ke 40, 100, dan 1000 hari sebagaimana yang dipahami oleh ustadz Muhammad Idrus Ramli dan juga Kiyai Syadzily Tobari, maka kenapa kita tidak menemukan sunnah ini disebutkan dalam kitab-kitab fikih madzhab? apakah para ahli fikih empat madzhab sama sekali tidak mengetahui sunnah ini?

Ketujuh: Justru kita dapati madzhab Syaifiiyah lah yang keras menentang acara tahlilan (Silahkan baca kembali Tahlilan Adalah Bid'ah Menurut Ulama Syafi'i)

***
Penulis: Firanda Andirja, M.A.
Artikel www.firanda.com