Sumber : http://blogseotest.blogspot.com/2012/01/cara-memasang-artikel-terkait-bergambar.html#ixzz2HNYeE9JU

Pages

Blogroll

Tampilkan postingan dengan label Bid`ah ada lima. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bid`ah ada lima. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 April 2017

Bid`ah di bagi lima

Bid`ah di bagi lima 

Dr. Oemar Abdallah Kemel menyatakan dalam bab : Praktik Bid’ah Hasanah para Sahabat Setelah Rasulullah Wafat

Ibnu hajar berkata :
 “Pada mulanya, bid’ah dipahami sebagai perbuatan yang tidak memiliki contoh sebelumnya. Dalam pengertian syar’i, bid’ah adalah lawan kata dari sunnah. Oleh karena itu, bid’ah itu tercela. Padahal sebenarnya, jika bid’ah itu sesuai dengan syariat maka ia menjadi bid’ah yang terpuji. Sebaliknya, jika bid`ah itu bertentangan dengan syariat, maka ia tercela. Sedangkan jika tidak termasuk ke dalam itu semua, maka hukumnya adalah mubah: boleh-boleh saja dikerjakan. Singkat kata, hukum bid’ah terbagi sesuai dengan lima hukum yang terdapat dalam Islam”.
Komentarku ( Mahrus ali ):
Hukum bid`ah menjadi lima  perlu pembahasan tersendiri , sebab persoalannya bila di biarkan akan membingungkan masarakat dan bisa menjadi sebab kesesatan . Bila di bahas perlu tulisan yang panjang juga . Jadi saya ingin jalan tol saja  , saya pilih mana yang penting sbb :
Dalam membahas bid`ah wajibah Ibnu Abdis salam mencontohkan  sebagaimana yang di kutip oleh Ibnu Hajar sbb :
وَكَذَا شَرْح الْغَرِيب وَتَدْوِين أُصُول الْفِقْه وَالتَّوَصُّل إِلَى تَمْيِيز الصَّحِيح وَالسَّقِيم
Begitu juga ( termasuk bid`ah wajibah ) menerangkan  kalimat yang  nyeleneh ( dalam hadis Nabi   ) , membukukan ushulul fighi , dan cara  untuk sampai kepada  penjelasan perbedaan antara  yang sahih dan yang lemah . [1]
Komentarku ( Mahrus ali ):
Membukukan ushulul figh di katakan  termasuk bid`ah yang wajibah , mana dalilnya  , apakah orang yang tidak pernah membaca kitab ushulul fighi berdosa atau haram ? Lalu siapakah yang mengatakan seperti itu ? Mengharamkan sesuatu atau mewajibkannya adalah harus berlandaskan dalil . Bila serampangan seperti itu ber arti menyatakan sesuatu tanpa ilmu . Ini menyesatkan sekali . Allah sudah berfirman :
  وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً

               Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui dalilnya . Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. [2]

Ayat tsb menjelaskan mengatakan sesuatu harus berdalil . Bila tidak , maka harus diam saja dan jangan  langsung menjelaskan . Dalam ayat lain Allah menyatakan :
قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Katakanlah: "Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar".[3]
Jangan berkata tanpa ilmu , nanti akan menyesatkan  dan jangan banyak bicara.
Imam Syafii berkata dalam suatu syair :
قَالُوا سَكَتَّ وَقَدْ خُوْصِمْتَ
 قُلْتُ لَهُمْ إِنَّ اْلجَوَابَ لِبَابِ الشَّرِّ مِقْتَاحٌ
الصُّمْتُ عَنْ جَاهِلٍ أَوْ أَحْمَقَ شَرَفٌ
 وَفِيْهِ أَيْضًا لِصَوْنِ اْلعِرْضِ إِصْلاَحٌ
أَمَا تَرَى اْلأُسْدَ: تُخْشَى وَهِيَ صَامِتَةٌ
 وَاْلكَلْبُ يَخْشَى لَعَمْرِي وَهُوَنَبَّاحٌ
Mereka berkata : Kamu diam pada hal kamu di debat
Aku menjawab kepada mereka ; sesungguhnya menjawabnya  adalah kunci pintu kejelekan
Diam terhadap orang  bodoh atau dungu adalah kemuliaan
Dan itu memperbaiki untuk memelihara kehurmatan
Apakah kamu tidak melihat singa – singa di takuti sekalipun diam
Demi hidupku ! anjing takut sekalipun menyalak

Ilmu usulul figh adalah ilmu karangan manusia , ya`ni kebanyakan tidak ada keterangan   dalilnya , dan kita ini di haruskan mengatakan sesuatu tentang agama  harus berdalil , jangan berpendapat doang .
Imam Bukhori membikin bab :
بَاب مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسْأَلُ مِمَّا لَمْ يُنْزَلْ عَلَيْهِ الْوَحْيُ فَيَقُولُ لَا أَدْرِي أَوْ لَمْ يُجِبْ حَتَّى يُنْزَلَ عَلَيْهِ الْوَحْيُ وَلَمْ يَقُلْ بِرَأْيٍ وَلَا بِقِيَاسٍ لِقَوْلِهِ تَعَالَى ( بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ )
Nabi SAW ditanya tentang sesuatu yang tiada dalilnya dalam al Quran  lalu beliau berkata  :” Tidak tahu “  atau tidak menjawab hingga wahyu diturunkan . Beliau tidak berpendapat atau menggunakan  qiyas  karena Allah berfirman :
إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat,[4]

Lantas bagaimanakah para sahabat yang tidak mengerti Ushul figh apakah berdosa . Bila begitu , maka  kita yang mengerti Usulul fighi akan lebih baik dari pada sahabat . Ini b ertentangan dengan hadis :
خَيْرُكُمْ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
Orang yang terbaik diantaramu adalah masaku kemudian  orang – orang setelah mereka lalu generasi sesudahnya [5]
Realitanya mayoritas kaum muslimin tidak memahami ushulul figh dan para sahabat dan tabiiin  juga tidak memahaminya  tapi mereka juga bisa memahami agama dengan benar . Ini wajar dan setahu  saya memahami agama  tanpa usul  figh juga bisa.









[1] Fathul bari  330/20
[2] Al isra` 36 Al isra` 36
[3] Namel 64
[4] Annisa` 10.
[5] Muttafaq alaih  2651

Saya anti bid`ah dan tidak suka ahli bid`ah

Achmad mengatakan... dalam bab : saya-tidak-suka-nu.
terima kasih saudara mahrus ali

saya sangat mendukung anda
memang selama ini itu lah yang terjadi, saling membela golongan mereka sendiri2, saling memperkuat dan saling menjatuhkan dengan kesalahan yang sebenarnya tidak begitu besar.

Apakah ummat Islam siap jika tiba2 kaum Yahudi dan sekutunya menyerang Islam?, apabila kita masih berselisih paham dengan blog ini. Biar mereka berpikir dan yakin dengan apa yang di pilihnya, selagi tidak ada yang menyimpang seperti Ahmadiyah dll
Komentarku ( Mahrus ali )
Ketika suatu kelompok mengajak untuk kembali kepada piagam Jakarta yang asli dan mengusulkan UU yang Islami , maka partai ahli bid`ah  menolak . Dan banyak data sejarah , ahli bid`ah bisa  bersikap toleransi kepada Budha < Konghucu , Kristen , tapi sangat anti kepada ahli hadis dan al Quran , lalu mereka namai gerakan wahabi, sesat , luar line.
Saya ingat dengan ayat ini :
لَئِنْ أُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمْ أَحَدًا أَبَدًا وَإِنْ قُوتِلْتُمْ لَنَنْصُرَنَّكُمْ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ
Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli Kitab: "Sesungguhnya jika kamu diusir niscaya kamipun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapapun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu kamu". Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta.[1]
Kita tidak boleh simpati kepada ahli bid`ah yang syirik , lihat ayat sbb :
وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ
Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.[2]
   Termasuk kezaliman adalah syirik , Allah berfirman :
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".[3]
Untuk lebih jelas tentang kesyirikan ahli bid`ah , lihat dalam bab ini :
30 Jan 2011
30 Apr 2011
01 Mei 2011
13 Apr 2011
23 Apr 2011
Kita boleh berbuat baik dengan mereka , tapi jangan sampai senang , karena ada ayat :
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.[4]


[1] Al Hasyer 11
[2] Hud 113
[3] Luqman 13

[4] Al Mumtahinah 8

Hancurlah dalil bid`ah hasanah

      Hadis di bawah ini populer di zaman kita , tidak di kenal di kalangan sahabat dan sebagai dasar bagi kalangan ahli bid`ah atas adanya bid`ah hasanah tapi salah paham , sesat  dan keliru menurut ahli hadis . Ternyata  dalil ahli bid`ah itu itu rapuh sekali . Hadisnya sbb :

ﻧِﻌْﻤَﺖِ ﺍْﻟﺒِﺪْﻋَﺔُ ﻫﺬِﻩِ

“Sebagus bid’ah itu ialah  ini”.
أَخْرَجَهُ مَالِكٌ (1/114 ، رَقْمُ  250) ، وَعَبْدُ الْرَّزَّاقِ (4/259 ، رَقْمُ  7723) ، وَالْبُخَارِى (2/707 ، رَقْمُ  1906) ، وَابْنُ خُزَيْمَةَ (2/155 ، رَقْمُ  1100) ، وَالْبَيْهَقِىُّ (2/493 ، رَقْمُ  4379
Diriwayatkan oleh Malik (1 / 114, No 250)dan Abdul Razzaq (4 / 259, No 7723), Bukhari (2 / 707, No 1906) Ibnu Khuzaymah (2 / 155, No 1100)al-Baihaqi (2 / 493, no4379
Sumber adanya hadis tsb dari  Ibnu Syihab al zuhri , bukan lain , ribuan perawi tidak mengerti.Dia perawi tunggal , dia bukan sahabat. Dia Ibnu Syihab adalah :

1- قَالَ اْلعَلاَئِي :
(  بْنُ شِهَابِ الزُّهْرِي اْلإمَامُ العَالِمُ مَشْهُوْرٌ بِهِ ( أَيْ بِالتَّدْلِيْسِ ) وَقَدْ قَبِلَ اْلأَئِمَّةُ قَوْلَهُ (( عَنْ )) ) اهـ .
Al ala`I berkata : Bin Syihab azzuhri  adalah orang alim yang populer dengan tadlis ( menyelinapkan perawi yang lemah ) . para imam juga menerima perkataannya  ……… dari …………..( ketika meriwayatkan hadis menggunakan kalimat  dari bukan dengan kalimat Bercerita kepada kami …………. )

2- ثُمَّ بَعْدَهُ ابْنُ حَجَرَ وَضَعَ اْلإِمَامَ الزُّهْرِي فِي ( الْمَرْتَبَةِ الثَّالِثَةِ ) مِنْ مَرَاتِبِ الْمُدَلِّسِيْنَ فَقَالَ :
Setelah itu , Ibnu Hajar meletakkan Imam Zuhri dalam tingkatan mudallis ke tiga  lalu berkata :
مُحَمَّدٌ بْنُ مُسْلِمٍ بْنِ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ شِهَابٍ الزُّهْرِي اْلفَقِيْهُ الْمَدَنِي نَزِيْلُ الشَّامِ مَشْهُوْرٌ بِالإِمَامَةِ وَالْجَلاَلَةِ وَصَفَهُ الشَّافِعِي وَالدَّارُ قُطْنِي وَغَيْرُ وَاحِدٍ بِالتَّدْلِيْسِ ) اهـ .
Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Syihab az zuhri  orang alim  dari Madinah  penduduk Syam  terkenal tokoh , agung  . Imam  Syafii dan Daroquthni menyatakan dia adalah mudallis ( suka menyelinapkan perawi lemah )

فَنَجِدُ أَنَّهُمَا اتَّفَقَا عَلَى أَنَّهُ مَشْهُوْرٌ بِهِ ، وَلَمْ يَذْكُرْهُ أَحَدٌ مِنَ الْمُتَقَدِّمِيْنَ بِذَلِكَ ، ثُمَّ وَضَعَهُ ابْنُ حَجَرَ فِي الْمَرْتَبَةِ الثَّالِثَةِ وَهِيَ :
Kita jumpai keduanya  telah sepakat menyatakan bahwa Az zuhri terkenal  sebagai mudallis  dan  seorangpun dari kalangan ulama  dulu tidak menyatakan  seperti itu , lalu Ibnu Hajar meletakkan  dalam posisi ke tiga  yaitu :
مَنْ أَكْثَرَ مِنَ التَّدْلِيْسِ فَلَمْ يَحْتَجّ اْلأَئِمَّةُ مِنْ أَحَادِيْثِهِمْ إِلاَّ بِمَا صَرَّحُوا فِيْهِ بِالسَّمَاعِ وَمِنْهُمْ مَنْ رَدَّ حَدِيْثَهُمْ مُطْلَقاً وَمِنْهُمْ مَنْ قَبِلَهُمَا ) اهـ .
Orang yang banyak menyelinapkan perawi lemah , jadi hadis – hadis mereka tidak bisa di buat pegangan  kecuali menyatakan  haddatsana  .
Di antara ulama  ada orang yang menolak hadis mereka secara total  dan ada pula yang menerimanya . 

Komentarku ( Mahrus ali ) :


Abu Ubaid Al Ajuri  dari Abu Dawud berkata :

وَحَدِيْثُ الزُّهْرِى كُلُّهُ أَلْفَا حَدِيْثٍ وَ مِئَتَا حَدِيْثٍ ، النِّصْفُ مِنْهَا مُسْنَدٌ وَ قَدْرُ مِئَتَيْنِ عَنِ  الثِّقَاتِ ، وَ أَمَّا مَا اخْتَلَفُوا عَلَيْهِ فَلاَ يَكُوْنُ خَمْسِيْنَ حَدِيْثًا ، وَ اْلاِخْتِلاَفُ عِنْدَنَا مَا تَفَرَّدَ قَوْمٌ عَلىَ شَىْءٍ ، وَ قَوْمٌ عَلَى شَىْءٍ
Hadis Zuhri seluruhnya adalah dua ribu dua ratus hadis . Separuhnya telah di sandarkan  kepada Nabi   dan dua ratus hadis  juga di sandarkan kepada perawi – perawi terpercaya . Untuk hadisnya yang masih hilaf menurut para ulama  tidak kurang dari lima puluh hadis.  Hilaf di sini adalah hadis yang  di riwayatkan oleh suatu kaum dengan materi tersendiri  dan  kaum lainnya juga begitu . 

Hadis : Sebaik – baik bid`ah adalah ini ( salat taroweh berjamaah ) adalah dari hadis Muhammad al zuhri secara sendirian , tiada perawi lain yang meriwayatkannya ,. Jadi ini boleh di katakan tafarrud .
وَعَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ إِنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلَاةِ قَارِئِهِمْ قَالَ عُمَرُ نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ وَالَّتِي يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنْ الَّتِي يَقُومُونَ يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ


Dari Ibn Syihab dari Urwah bin Azzubair dari Abd Rahman bin Abd Qari
berkata : Aku keluar bersama Umar bin Al Khatthab ra pada  suatu malam di bulan Ramadhan ke masjid . Tahu – tahu orang – orang  sudah berkelompok – kelompok . seorang lelaki melakukan salat sendirian . Ada seorang lelaki  yang menjadi imam  dengan  suatu kelompok .
Akhirnya  Umar berkata  :  Bagaimanakah kalau aku  mengumpulkan mereka  dengan  satu imam saja , akan lebih baik . Umar sengaja berbuat seperti itu lalu mengangkat Ubay bin Ka`ab menjadi imam .
Lantas aku keluar di malam lain , sedang orang – orang melakukan salat berjamaah bersama satu imam .
Umar berkata  : Sebaik – baik bid`ah adalah ini . Dan salat di akhir malam lebih baik dari tarawih berjamaah ini .  Orang – orang sama melakukan  tarawih . [1]

Sebetulnya  saya sendiri tidak menjumpai ulama yang melemahkan hadis tsb , bahkan  sulit di cari argumentasi yang melemahkannya  . Namun Ibnu Hajar sendiri menyatakan bahwa paling sahih  adalah riwayat Imam malik  bukan Bukhari dalam hal itu .
Komentarku ( Mahrus ali )
Baik Imam Malik atau Bukhari tetap lewat jalur satu orang yaitu Azzuhri . Lihat sanad Imam Malik dalam al Muwattho` sbb :



حَدَّثَنِي مَالِك عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّهُ
Bercerita kepada ku Malik dari Ibn Syihab dari Urwah bin Azzubair dari Abd Rahman bin Abd Qari

Jadi meski riwayat Imam Malik , atau lainnya  di kitab manapun dan kapanpun anda temui hadis tsb , hakikatnya dari seorang mudallis yaitu Ibnu Syihab azzuhri
Pada hal dia tabiin  yang meriwayatkan hadis dari gurunya  Urwah bin Zubair yang punya murid 64 , [2].
   Namun hanya Ibnu Syihab azzuhri yang suka menyelinapkan perawi lemah yang  menjelaskan dan meriwayatkan  hadis tentang sebaik – baik bid`ah adalah ini - salat taroweh berjamaah. Seolah ada bid`ah yang baik, bukan semuanya sesat. Pada hal , kalau  kita katakan ada bid`ah yang baik akan bertentangan dengan banyak hadis sahih, bukan lemah atau hasan .Jadi ini keganjilan yang nyata, bukan masalah biasa yang samar.
Begitu juga  Abd Rahman al Qari perawi hadis tsb , wafat tahun 88 Hijriyah.Usianya 78  tahun[3] . Berarti dia lahir pada tahun sepuluh hijriyah.
Lantas umar bin Khattah wafat pada tahun 23 H.[4] Ber arti ketika Umar wafat  Abd Rahman bin Abd al qari ini berumur 13 tahun . Lalu ketika dia di ajak Umar pergi ke masjid untuk melihat sahabat menjalankan salat malam sendirian , berapakah usianya  , tidak ada keterangan ,pokoknya masih kecil sekali . Inilah yang membikin ganjil dalam benak saya.
  Imam Muslim , Tirmidzi , Nasai ,  Ahmad , Ibnu Majah , Darimi , Abu Dawud  dari kalangan penyusun kutubut tis`ah tidak meriwayatkannya .

Murid Urwah bin Zubair  guru Ibn Syihab azzuhri perawi hadis : “Sebaik -  baik bid`ah ini “ sbb :

بَكْرُ بْنُ سَوَادَةَ الْجُذَامِىُّ تَمِيْمُ بِنْ سَلَمَةَ السُّلَمِىُّ ( خْتَ مَ سَ قَ) جَعْفَر بْنُ مُحَمَّدٍ بْنِ  عَلِى بْنِ الْحُسَيْنِ جَعْفَرُ بْنُ  مُصْعَبٍ ( قَدْ) حَبِيْبُ بْنُ أَبِىْ ثَابِتٍ ( تَ قَ) ( وَ قِيْلَ : لَمْ يَسْمَعْ مِنْهُ) حَبِيْبُ مَوْلَى عُرْوَةَ بْنُ  الْزُّبَيْرِ ( مْ)

Bakar bin Sawadah Judzaami 
Tamim bin Salamah  Assulami
Ja'far bin Muhammad bin Ali bin Al Husein 
Ja`far bin Mus'ab  
Habib bin Abi Tsabit   (dan dikatakan:tidak pernah mendengar dari dia) 
Habib  maula  Urwah bin al-Zubayr 

خَالِدُ بْنُ أَبِىْ عِمْرَانَ ( قَاضِى  أَفْرِيْقِيَةَ) ( سَ) دَاوُدُ بْنُ مُدْرِكٍ ( قَ) الْزِّبْرِقَانُ بْنُ عَمْرِوٍ بْنِ أُمَيَّةَ الْضَّمْرِىِّ ( دَ سَ) زُمَيْلُ بْنُ عَبَّاسٍ مَوْلَى عُرْوَةَ بْنِ الْزُّبَيْرِ ( دَ سَ)
Khalid bin Abi Imran (hakim Afrika) (o) 
Dawud Bin - Mudrik (s) 
Zubriqan bin Amr bin Umayyah  al-Dhamri (d o) 
Zumail Ibnu Abbas -udak yang dimerdekakan  Urwah bin Al zubair ) 


سَعْدُ بْنُ  إِبْرَاهِيْمَ بْنِ عَبْدِ الْرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ ( خَ مَ دَ سَ قَ) سَعِيْدُ بْنُ خَالِدٍ بْنِ عَمْرِوٍ بْنِ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ ( مْ) سُلَيْمَانُ بْنُ  عَبْدِ الْلَّهِ بْنِ عُوَيْمِرٍ الْأَسْلَمِىِّ ( مُدَّ) سُلَيْمَانُ بْنُ يَسَارٍ ( دٍ تَ سِ) ( وَ هُوَ مِنْ أَقْرَانِهِ)
Saad bin Ibrahim bin Abdul Rahman bin Auf 
Said bin Khalid bin 'Amr bin' Utsman bin Affan 
Suleiman bin Abdullah bin Uwaimmir aslami 
Sulaiman bin Yasar  (dan  dia merupakan salah satu rekan-rekannya) 



شَيْبَةُ الخُضْرِىْ ( سَ) صَالِحُ بْنُ حَسَّانَ الْأَنْصَارِىُّ ( تَ) صَالِحُ بْنُ كَيْسَانَ ( خَ مَ دَ سَ) صَفْوَانُ بْنُ سُلَيْمٍ عَاصِمُ بْنُ عُمَرَ بْنِ عُثْمَانَ ( قَ)
 Shaibah Al Khudhri  
Saleh Bin Hassan Al-Anshari 
Saleh Bin Kisan 
Safwan bin Sulaim 
Asim bin Umar bin Utsman


عَبْدُ الْلَّهِ بْنُ إِنْسَانٍ الْطَّائِفِىِّ ( دَ) عَبْدُ الْلَّهِ بْنُ أَبِىْ بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدٍ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ ( خَ مَ دَ تْ سَ) أَبُوْ الْزِّنَادِ عَبْدُ الْلَّهِ بْنِ ذَكْوَانَ ( مَ دَ تْ) عَبْدُ الْلَّهِ بْنُ أَبِى سَلَمَةَ الْمَاجِشُوْنِ ( دَ)
Abdullah bin Insan  Attha`ifi  
Abdullah bin Abi Bakar bin Muhammad bin 'Amr bin Hazm 
Abu Zinad Abdullah bin Dzakwaan 
Abdullah bin Abi Salamah Almajsyun 

عَبْدُ الْلَّهِ بْنُ عُبَيْدِ الْلَّهِ بْنِ أَبِىْ مُلَيْكَةَ ( خَ سَ) عَبْدُ الْلَّهِ بْنُ عُرْوَةَ بْنِ الْزُّبَيْرِ ( ابْنَهُ) ( خَ مْ تَ سْ قُ) عَبْدُ الْلَّهِ بْنُ نِيَارٍ بْنِ مُكْرَمٍ الْأَسْلَمِى ( مَ دَ تْ سَ) عَبْدُ الْلَّهِ الْبَهِىِّ ( بِخٍ مَ دَ تْ سَ قَ) عَبْدُ الْرَّحْمَنِ بْنُ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الْرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ
Abdullah bin Ubeidillah bin Abi Mulaika
Abdullah bin Urwah   bin  Zubair  (anaknya)
Abdullah bin Nuyar  bin Mukram  Aslami  
Abdullah  al Bahy 
Abdul Rahman bin Humaid bin Abdul Rahman bin Auf

عُبَيْدُ الْلَّهِ بْنُ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُوْدٍ ( سَ) ( وَ هُوَ مِنْ أَقْرَانِهِ) عُثْمَانُ بْنُ عُرْوَةَ بْنِ الْزُّبَيْرِ ( ابْنَهُ) ( خَ مَ دَ سَ قَ) عُثْمَانُ بْنُ الْوَلِيّدِ مَوْلَى الْأَخْنْسِيِّينَ ( سَ) عِرَاكُ بْنُ مَالِكٍ ( خَ مَ دَ سَ)
Ubaidullah bin Utbah  bin Mas`ud  (dan merupakan salah satu rekan-rekannya) 
Utsman bin Urwah  bin al-Zubair  (anaknya)
Utsman ibn al-Walid  maula Al  akhnasien  
Irak bin Malik

عَطَاءُ بْنُ أَبِىْ رَبَاحٍ ( خَ مْ سَ) عَلِى  بْنُ  زَيْدِ بْنِ جُدْعَانَ عُمَرُ بْنُ  عَبْدِ الْلَّهِ بْنِ عُرْوَةَ بْنِ الْزُّبَيْرِ ( ابْنَ ابْنِهِ) ( خَ مْ سَ)
Atho` bin Abi Rabah 
Ali bin Zaid bin Jud'aan 
Umar bin Abdullah bin Urwah bin Zubair  ( anaknya) 


عُمَرُ بْنُ  عَبْدِ الْعَزِيْزِ ( مَ سَ) عَمْرُو بْنُ  دِيْنَارٍ ( مْ) عِمْرَانُ بْنُ  أَبِىْ أَنَسٍ ( مُدَّ) مُجَاهِدُ بْنُ  وَرْدَانَ ( دٍ تَ سْ قُ)
Umar bin Abdul Aziz 
Amr bin Dinar 
Imran bin Abu Anas (D) 
Mujahid bin Wardan

مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ الْحَارِثِ الْتَّيْمِىِّ ( خَ) مُحَمَّدُ بْنُ  جَعْفَرِ بْنِ الْزُّبَيْرِ ( ابْنِ أَخِيْهِ) ( خَ مَ دَ سَ) أَبُوْ الْأَسْوَدِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْرَّحْمَنِ بْنِ نَوْفَلَ يَتِيْمُ عُرْوَةَ بْنِ الْزُّبَيْرِ ( خَ مْ دِ تَ سْ قُ)
Muhammad bin Ibrahim bin al-Harits Taimi  
Muhammad bin Jafar bin Zubair (keponakannya)
Abu al-Aswad bin Muhammad Abd al-Rahman bin Naufal  anak yatim  Urwah bin al-Zubair 

مُحَمَّدُ بْنُ  عُرْوَةَ بْنِ الْزُّبَيْرِ ( ابْنَهُ) ( مُدَّ) مُحَمَّدُ بْنُ  مُسْلِمْ بْنِ شِهَابٍ الْزُّهْرِىِّ ( خَ مْ دِ تَ سْ قُ) مُحَمَّدُ بْنُ  الْمُنْكَدِرِ ( خَ مَ دَ تْ) مُخَلَّدُ بْنُ  خُفَافٍ الْغِفَارِىُّ ( دٍ تَ سْ قُ)
Muhammad ibn Urwah  al-Zubair  (anaknya) 
Muhammad bin Muslim bin Shihab sifilis ( hanya dia perawi hadis di atas )
Muhammad bin Munkadir (FS DT) 
Mukhalad bin  Khufaf  Ghiffari (EX-Q s) 

مُسَافِعُ بْنُ  شَيْبَةَ الْحَجَبِىِّ ( مْ) مُسْلِمُ بْنُ  قُرْطٍ ( دَ سَ) مُعَاوِيَةُ بْنُ  إِسْحَاقَ بْنِ طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ الْلَّهِ الْمُنْذِرُ بْنُ  الْمُغِيْرَةِ ( دَ سَ)
Musaafi` bin Shaibah Ahadjbi  
 Muslim  bin Qurath  
Muawiyah ibn Ishaq bin Thalhah bin Ubeidillah  
Mundzir bin al Mughirah  


مُوْسَى بْنُ  عُقْبَةَ ( سَ) هِشَامُ بْنُ  عُرْوَةَ ( ابْنَهُ) ( خَ مْ دِ تَ سْ قُ) هِلَالُ بْنُ  أَبِىْ حُمَيْدٍ الْوَزَّانُ ( خَ مْ) الْوَلِيّدُ بْنُ  أَبِىْ الْوَلِيّدِ ( دَ سَ قَ)
Musa bin Uqbah
Hisyam bin Urwah  (anaknya)
Hilal bin Abu Humaid Al-Wazzan
Alwalid bin Abi al-Walid 

وَهَبُ بْنُ  كِيْسَانَ ( سَ) يَحْيَى  بْنُ  عُرْوَةَ بْنِ الْزُّبَيْرِ ( ابْنَهُ) ( خَ مَ دَ) يَحْيَى  بِنُ أَبِىْ كَثِيْرٍ ( تَ قَ) ( وَ قِيَلَ : لَمْ يَسْمَعْ مِنْهُ) يَزِيْدُ بِنَ رُوْمَانَ ( خَ مْ دِ تَ سْ قُ)
Wahab Bin Kisan 
Yahya ibn Urwah  bin al-Zubair bin  (anaknya) 
Yahya bin Abi Katsir  (dan dikatakan: tidak pernah mendengar dari dia)
Yazid Bin  Roman


يَزِيْدُ بْنُ  عَبْدِ الْلَّهِ بْنِ خُصَيْفَةَ ( مْ) يَزِيْدُ بْنُ  عَبْدِ الْلَّهِ بْنِ قُسَيْطٍ ( مَ دَ) يَزِيْدُ بِنُ أَبِىْ يَزِيْدَ الْمَصْرَىً
Yazid bin Abdullah bin _khusaifah
Yazid bin Abdullah bin Kusait 
Yazid bin Abi Yazid  Al masri


أَبُوْ بُرْدَةَ بْنُ أُبَىٍّ مُوْسَىْ الْأَشْعَرِىِّ ( مْ) ( وَ هُوَ مِنْ أَقْرَانِهِ) أَبُوْ بَكْرِ بْنُ حَفْصِ بْنِ عُمَرَ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِىْ وَقَّاصٍ ( خَ مْ) أَبُوْ سَلَمَةَ بْنُ عَبِدِ الْرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ ( خَ مْ سَ) ( وَ هُوَ مِنْ أَقْرَانِهِ) .

Abu Burdah bin Abi Musa Ashari  (dan merupakan salah satu rekan-rekannya) 
Abu Bakar bin Hafsh bin Umar bin Saad bin Abi Waqas 
Abu Salamah bin Abd al-Rahman bin Auf ( (dan merupakan salah satu dari rekan-rekan).


Komentarku ( Mahrus ali
Murid Urwah yang begitu banyak , semuanya tidak mengerti tentang hadis “ sebaik – baik bid`ah ini “ kecuali Muhammad bin Muslim azzuhri .Jadi dia adalah perawi tunggal dari seluruh perawi  di dunia yang meriwayatkan hadis tsb. Ini suatu keganjilan yang perlu di kaji ulang . bukan sekedar di ikuti yang nantinya kita sesat dan orang lain juga sesat. Di kalangan sahabat hadis itu tidak populer . Istri – istri Rasulullah SAW, Usman dan Ali ra sendiri tidak tahu hadis itu , bahkan  kebanyakan para sahabat tidak kenal . Ia populer di zaman kita , tidak di kenal di kalangan sahabat .


Murid Abd Rahman al Qari sbb :

حُمِيْدُ بْنُ  عَبْدِ الْرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ الْسَّائِبُ بْنُ  يَزِيْدَ ( مَ دَ تْ سَ قَ ) ، وَ هُوَ مِنْ أَقْرَانِهِ عَبْدُ الْرَّحْمَنِ بْنُ  هُرْمُزَ الْأَعْرَجِ ( سَ ) عُبَيْدُ الْلَّهِ بْنُ  عَبْدِ الْلَّهِ بْنِ عُتْبَةَ ( مَ دَ تْ سَ قَ ) عُرْوَةُ بْنُ  الْزُّ بَيْرِ ( خَ مَ دَ تْ سَ ) مُحَمَّدُ بْنُ  عَبْدِ الْرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِىِّ ( ابْنَهُ ) مُحَمَّدُ بْنُ  مُسَلَّمْ بْنِ شِهَابٍ الْزُّ هْرِىِّ ( قَ ) يَحْيَى بْنُ  جَعْدَةَ بْنِ هُبَيْرَةَ الْمَخْزُومِىُّ  .
Humaid bin Abdul Rahman bin Auf
Assaib bin Yazid . dan dia  merupakan salah satu dari rekan-rekan
Abd al-Rahman bin Hormuz  al a`raj
Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah 
Urwah bin Zubair 
Muhammad ibn Abd al-Rahman bin Abdul-qari (anaknya)
Muhammad bin Muslim bin Shihab al zuhri (s)
Yahya bin Ja`dah bin Hubairah  alMakhzumi.

Komentarku ( Mahrus ali )
Abd rahman Al Qari yang ketika Umar ra wafat masih berumur 13 tahun -Perawi tunggal , tiada pendukungnya yang meriwayatkan hadis –  sebaik – baik bid`ah adalah ini .
 Untuk perawi tunggal ini , kebanyakan ulama   menyatakan menolak.
DR Abu Lubabah At thahir Shalih Husain kepala bagian dirosah Islamiyah  di Emirat menyatakan :
وَإِطْلاَقُ الْحُكْمِ عَلَى التَّفَرُّدِ بِالرَّدِّ وَالنَّكَارَةِ أَوِ الشُّذُوْذِ مَوْجُوْدٌ فِي كَلاَمِ كَثِيْرٍ مِنْ أَهْلِ الْحَدِيْثِ
 Mengghukumi perawi yang secara sendirian meriwayatkan agar riwayatnya  tertolak , dikatakan mungkar , syadz memang ada dlm perkataan kebanyakan ahli hadis . Ulumul hadis 12/1
  Kelemahan perkataan Umar  - sebaik – baik bid`ah adalah ini  itu bertentangan dengan hadis :
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا  هٰذَا  مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ
 Aisyah ra menuturkan: “Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang membuat perkara yang baru dalam agama kami tanpa petunjuk dari kamu, maka perkaranya itu ditolak.” (Bukhari, 53, Kitabush Shulukh, 5, Bab jika berdamai dalam masalah dosa, maka perdamaiannya ditolak)
Allu`lu` wal marjan 537/1 Al albani berkata : Muttafaq alaih
Lihat di kitab karyanya : Misykatul  mashobih ,nomer hadis:  140
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ *
Berhatilah  terhadap perkara baru. Sesungguhnya tiap perkara baru adalah bid`ah dan setiap bid`ah adalah sesat. [5]
 Seluruh sahabat tidak kenal terhadap perkataan Umar tadi kecuali satu orang . Kita punya konsep bila ada hilaf maka harus di kembalikan kepada al quran sebagaimana ayat :
وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللهِ  ذَلِكُمُ اللهُ رَبِّي عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ
Tentang sesuatu apapun kamu berselisih maka putusannya (terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nyalah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali.[6]
 Dan al quran menyatakan agar kita ini tidak mengikuti perbedaan itu dimanapun dan kapanpun , tapi ikutilah ayat Allah  bukan UU Thaghut atau pendapat ulama , profesor , sarjana dll . Allah menyatakan :
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[7]

Di ayat lain di jelaskan :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوُلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, bagi mereka yang mengharap Allah dan hari kiamat, dan dia banyak mengingat Allah.” (Al-Ahzab: 21)

 Jadi hadis  “ sebaik – baik bid`ah ini tertolak , tidak usah di pakai karena  segi redaksi hadis, sanad nya  cacat dan ganjil  , juga bertentangan dengan hadis sahih lainnya dan ayat bukan ayat – ayatan.


[1] HR Bukhari 2010 . MALIK  252

[2] Mausuah ruwatil hadis 4561
[3]  Mausuah ruwatil hadis 3938
[4] Mausuah ruwatil hadis 4888
[5] HRAbu Dawud  / Assunnah /4607. Darimi /Muqaddimah /95
[6] Assyura 10
[7] Ali imran 31

Jawabanku untuk Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama

Di tulis oleh Mahrus ali
Sepaham saya artikel ini di tulis oleh KH. A.N. Nuril Huda,
Ketua Lembaga Dakwah
 Nahdlatul Ulama (LDNU) tapi di copi oleh Muhammad Irfan , lalu diletakkan  dalam kolom komentar  untuk mengeritisi saya  di bab : Jawabanku untuk KH Bisyri Musthofa . Jadi gaya bantahan saya arahkan kepada Muhammad Irfan . Setelah kami menulis cukup banyak , tahu – tahu  ini asalnya artikel milik KH AN Nuril Huda . Mau mengganti gaya bahasanya  lagi kesal deh . Saya biarkan begini saja.
MUHAMMAD IRFAN Menulis dalam

Sayyidina Umar Ibnul Khattab, stlah mengadakan   Tarawih berjama’ah dgn dua puluh raka’at
yg diimami   oleh  sahabat Ubai bin Ka’ab beliau berkata :

ﻧِﻌْﻤَﺖِ ﺍْﻟﺒِﺪْﻋَﺔُ ﻫﺬِﻩِ

“Sebagus bid’ah itu ialah  ini”.
Bolehkah kita mengadakan Bid’ah?
tuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita kembali kepada hadits Nabi SAW. yangmenjelaskan adanya Bid’ah hasanah dan bid’ah sayyiah.
ﻣَﻦْ ﺳَﻦَّ ﻓِﻰ  ﺍْﻻِﺳْﻼَﻡِ ﺳُﻨَّﺔً ﺣَﺴَﻨَﺔً ﻓَﻠَﻪُ ﺃَﺟْﺮُﻫَﺎ ﻭَﺃَﺟْﺮُ ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﺑِﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِ ﺍَﻥْ ﻳَﻨْﻘُﺺَﻣِﻦْ ﺃُﺟُﻮْﺭِﻫِﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ   ﻭَﻣَﻦْ ﺳَﻦَّ ﻓِﻰ ﺍْﻻِﺳْﻼَﻡِ ﺳُﻨَّﺔً ﺳَﻴِﺌَﺔً ﻓَﻌَﻠَﻴْﻪِ  ﻭِﺯْﺭُﻫَﺎﻭَﻭِﺯْﺭُ ﻣَﻦْ  ﻋَﻤِﻞَ ﺑِﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِﺍَﻥْ ﻳَﻨْﻘُﺺَ ﻣِﻦْ ﺃَﻭْﺯَﺍﺭِﻫِﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ.  ﺍﻟﻘﺎﺋﻰ, ﺝ5 :ﺹ :76.


“Barang siapa yang  mengada-adakan satu  cara yang baik dalam Islam mk ia akan  mendapatkan pahala org yg turut mengerjakannya dg tdk mengurangi dr pahala mereka sedikit pun, dan barang siapa yang mengada-adakan suatu cara yang jelek maka ia akan mendapat dosa dan dosa-dosa orang yang ikut mengerjakan  dengan tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikit  pun”.

Apakah yang dimksud dengan segala bid’ah itu  sesat & segala  kesesatan itu masuk neraka?

ﻛُﻞُّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَ ﻟَﺔٍﻭَﻛُﻞُّ ﺿَﻼَ ﻟَﺔٍ ﻓِﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ

“Semua bid’ah itu sesat dan semua kesesatan itu di neraka”.
Mari kt pahami menurut Ilmu Balaghah.tiap benda pasti mempunyai sifat, tidak mungkin ada benda yang tidak bersifat, sifat itu bisa bertentangan seperti baik dan buruk,panjang pendek,gemuk dan kurus.Mustahil ada benda dalam satu waktu dan satu tempat mempunyai dua sifat yg bertntangan, kalau dikatakan benda itu
baik mustahil pada waktu dan tempat yang sama dikatakan jelek;kalau dikatakan si A berdiri mustahil pada waktu dan t4 yg sama diktkan duduk.Mari kita kembli kpd hadits.
“Semua bid’ah tu sesat dan setiap kesesatan itu masuk neraka”.
Bidah itu kt benda, tentu punya sifat,tidak mungkin ia tdk mempunyai sifat,
mungkin saja ia b'sifat baik/ mungkin bersifat jelek. Sifat tersebut tidak ditulis dan
tidak disebutkan dalam hadits di atas; dalam Ilmu Balaghah diktkan “membuang sifat dari benda yang bersifat”.
andai kita tulis sifat bid’ah mk terjadi 2 kemungkinan:
Kemungkinan 1 :“Semua bid’ah yg baik sesat, dan semua yg sesat masuk neraka”.
Hal ini tdk mungkin, bagaimana sifat baik dan sesat berkumpul dlm satu benda dan dalam waktu dan tempat yang sama, hal itu tentu mustahil. Maka yang bisa
dipastikan kemungkinan yang ke2 :
ﻛُﻞُّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺳَﻴِﺌَﺔٍﺿَﻼَ ﻟَﺔٍ ﻭَﻛُﻞُّ ﺿَﻼَﻟَﺔٍ ﻓِﻰ ﺍﻟﻨَّﺎِﺭ


“Semua bid’ah yang jelekitu sesat, dan semua kesesatan itu masuk
 neraka”.
--(KH. A.N. Nuril Huda,
Ketua Lembaga Dakwah
 Nahdlatul Ulama (LDNU)dalam "Ahlussunnah wal
Jama'ah (Aswaja)
 Menjawab", diterbitkan oleh PP LDNU)
Contohnya spt:
- memakai celana bid"ah dong apalagi saat solat
- memberi istilah hadist doif , shohih , dan hasan. Apa ini dholalah?
- barzanji(membc sholawat al-barzanji). Apa ini dholalah? Disamping menyejukkan hatikan jg mengenang Nabi SA. Disana spt siroh nabawiyah. Lagipula saat kaum Anshor menyambut Nabi Saw dg sholawat dan rebana Nabi Saw ok2 aja.


Komentarku ( Mahrus ali )
Anda menyatakan :


Sayyidina Umar Ibnul Khattab, stlah mengadakan   Tarawih berjama’ah dgn dua puluh raka’at yg diimami   oleh  sahabat Ubai bin Ka’ab beliau berkata :

ﻧِﻌْﻤَﺖِ ﺍْﻟﺒِﺪْﻋَﺔُ ﻫﺬِﻩِ

“Sebagus bid’ah itu ialah  ini”.

Komentarku ( Mahrus ali )
Mana dalilmu bahwa  saat itu , Umar bin Al Khatthab melakukan taraweh dua puluh rakaat apakah tidak 11 rakaat dengan witirnya ? , Jangan ngawur ya, nanti menyesatkan orang NU , Muhammadiyah dll. Dan kita tidak ingin hal itu terjadi kepada NU atau lainnya .Bagaimanakah bila saat itu , Umar tidak menjalankan taraweh dua puluh rakaat , apakah perkataanmu bisa di benarkan atau di salahkan ? . Dari siapa kamu tahu itu ? Kapan dan di mana ? Kamu pernah menjadi santri atau tidak ?  Bila kamu bilang dari kiyai , teman , guru – apakah mereka harus benar dan ajarannya tidak boleh di kritisi ? Mereka itu manusia biasa atau nabi hingga ajarannya yang salah  harus di ikuti ?
Ya, begitulah santri ahli bid`ah bukan ahli hadis dimanapun dan kapanpun , serba bingung , mudah di bawa arus ,tidak mengerti yang salah dan yang benar . Allah berfirman :
وَمَا تَفَرَّقُوا إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ أُورِثُوا الْكِتَابَ مِنْ بَعْدِهِمْ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مُرِيبٍ
Dan mereka (ahli kitab) tidak berpecah belah melainkan sesudah datangnya pengetahuan kepada mereka karena kedengkian antara mereka. Kalau tidaklah karena sesuatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulunya (untuk menangguhkan azab) sampai kepada waktu yang ditentukan, pastilah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka Al-Kitab (Taurat dan Injil) sesudah mereka, benar-benar berada dalam keraguan yang menggoncangkan tentang kitab itu.[1]
 Ayat itu mengkisahkan ahli kitab bukan kaum muslimin umat nabi yang di beri kitab suci lalu mereka tidak berpegangan kepadanya , lalu berpegangan kepada ajaran pendeta dan guru – gurunya . Mereka selalu hilaf dengannya sama dengan ajaran gurunya yang suka bergolong – golong .Prilaku mereka tidak memeraktekkan isi kitab suci itu tapi ikut kepada hawa nafsunya dan apa yang di senangi oleh lingkungannya – boleh di katagorekan ahli bid`ah lah . Dan memang ahli bid`ah  dimanapun dan kapanpun anti kepada ahli hadis dan quran . Boleh juga anda baca  di
Anda menyatakan lagi dengan menyampaikan hadis sbb :

ﻧِﻌْﻤَﺖِ ﺍْﻟﺒِﺪْﻋَﺔُ ﻫﺬِﻩِ

“Sebagus bid’ah itu ialah  ini”.
Komentarku ( Mahrus ali )
Hadis itu tertolak , lemah sekali dan tidak boleh di buat pegangan , lihat kajian kami di blog kami di bab :

25 Jul 2011

Anda menyatakan lagi :


Bolehkah kita mengadakan Bid’ah?
tuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita kembali kepada hadits Nabi SAW. yangmenjelaskan adanya Bid’ah hasanah dan bid’ah sayyiah.
ﻣَﻦْ ﺳَﻦَّ ﻓِﻰ  ﺍْﻻِﺳْﻼَﻡِ ﺳُﻨَّﺔً ﺣَﺴَﻨَﺔً ﻓَﻠَﻪُ ﺃَﺟْﺮُﻫَﺎ ﻭَﺃَﺟْﺮُ ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﺑِﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِ ﺍَﻥْ ﻳَﻨْﻘُﺺَﻣِﻦْ ﺃُﺟُﻮْﺭِﻫِﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ   ﻭَﻣَﻦْ ﺳَﻦَّ ﻓِﻰ ﺍْﻻِﺳْﻼَﻡِ ﺳُﻨَّﺔً ﺳَﻴِﺌَﺔً ﻓَﻌَﻠَﻴْﻪِ  ﻭِﺯْﺭُﻫَﺎﻭَﻭِﺯْﺭُ ﻣَﻦْ  ﻋَﻤِﻞَ ﺑِﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِﺍَﻥْ ﻳَﻨْﻘُﺺَ ﻣِﻦْ ﺃَﻭْﺯَﺍﺭِﻫِﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ.  ﺍﻟﻘﺎﺋﻰ, ﺝ5 :ﺹ :76.


“Barang siapa yang  mengada-adakan satu  cara yang baik dalam Islam mk ia akan  mendapatkan pahala org yg turut mengerjakannya dg tdk mengurangi dr pahala mereka sedikit pun, dan barang siapa yang mengada-adakan suatu cara yang jelek maka ia akan mendapat dosa dan dosa-dosa orang yang ikut mengerjakan  dengan tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikit  pun”.

Ada anonim menjawab sbb :
Untuk saudaraku MUHAMMAD IRFAN,antum berdalil:“Barang siapa yang mengada-adakan satu
cara yang baik dalam Islam mk ia akan mendapatkan pahala org yg turut....
Sebab disebutkannya hadits tsb berkenaan : Dari Jabir bin Abdulloh berkata :Rasululloh pernah berkutbah kpd kami,lalu beliau memberi semangat kpd manusia untuk bersedekah,akan tetapi mereka berlambat-lambat untuk bersedekah,sampai-sampai nampak kemarahan diwajah beliau,kemudian datanglah seorang Anshar dengan sekantong (sedekah) lalu orang-orang (bersedekah) mengikutinya sehingga nampak keceriaan diwajah beliau,maka beliaupun bersabda”Barangsiapa....dst”(HR,Muslim)
Jadi hadits yang antum ajukan bukan dibolehkan membuat bid’ah (syariat baru) justru yang benar adalah menjalankan sunnah (sunnah yang sudah ada ,bukan bid'ah), ialah dengan bersedekah, karena bersedekah sudah ada contoh dari Rasululloh.
Bila kurang jelas , ana beri contoh berkenaan hadits yang antum ajukan diatas,
Misal, dijalan banyak batu dan banyak orang yang terganggu ,kemudian ada seorang yang menyingkirkan dari jalan lalu diikuti orang lain berbuat demikian,maka pahala orang yang mengikuti akan diberikan juga pada orang yang pertama memulai,sebaliknya apabila ada orang yang melemparkan batu kejalan kemudian diikuti orang lain ,maka dosa orang lain yang mengikuti tsb akan ditanggung juga orang yang memulai, tanpa mengurangi dosanya orang yang mengikuti (krn tdk boleh mengganggu jalan adalah sunnah sesuai sabda Rasululloh sampaikan tentang apa hak-hak jalan,dan menyingkirkan gangguan di jalan bagian dari pada iman ,jadi termasuk amal soleh juga) .
Mulia dg manhaj salaf,syukron.
Komentarku ( Mahrus ali )
Hadis yang anda  gunakanan adalah sbb :
حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى الْعَنَزِيُّ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَوْنِ بْنِ أَبِي جُحَيْفَةَ عَنْ الْمُنْذِرِ بْنِ جَرِيرٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ

كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَدْرِ النَّهَارِ قَالَ فَجَاءَهُ قَوْمٌ حُفَاةٌ عُرَاةٌ مُجْتَابِي النِّمَارِ أَوْ الْعَبَاءِ مُتَقَلِّدِي السُّيُوفِ عَامَّتُهُمْ مِنْ مُضَرَ بَلْ كُلُّهُمْ مِنْ مُضَرَ فَتَمَعَّرَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَا رَأَى بِهِمْ مِنْ الْفَاقَةِ فَدَخَلَ ثُمَّ خَرَجَ فَأَمَرَ بِلَالاً فَأَذَّنَ وَأَقَامَ فَصَلَّى ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ إِلَى آخِرِ الْآيَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا وَالْآيَةَ الَّتِي فِي الْحَشْرِ اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِنْ دِينَارِهِ مِنْ دِرْهَمِهِ مِنْ ثَوْبِهِ مِنْ صَاعِ بُرِّهِ مِنْ صَاعِ تَمْرِهِ حَتَّى قَالَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ قَالَ فَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ بِصُرَّةٍ كَادَتْ كَفُّهُ تَعْجِزُ عَنْهَا بَلْ قَدْ عَجَزَتْ قَالَ ثُمَّ تَتَابَعَ النَّاسُ حَتَّى رَأَيْتُ كَوْمَيْنِ مِنْ طَعَامٍ وَثِيَابٍ حَتَّى رَأَيْتُ وَجْهَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَهَلَّلُ كَأَنَّهُ مُذْهَبَةٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
Kami disisi Rasulullah   di permulaan siang , lalu kaum yang tidak bersandal , telanjang mengenakan  pakaian jelek dari bulu mirip dengan singa atau abayah dengan mengenakan pedang . Kebanyakan dari Mudhar , lalu Rasulullah   berobah karena melihat kefakiran mereka , lalu masuk rumah  lalu keluar dan memerintah Bilal , lalu membaca qamat dan melakukan salat , lalu berhutbah :
Wahai manusia takutlah kepada Allah yang menjadikan kamu dari satu orang ( Adman ) ……………………Sesungguhnya Maha meneliti kepadamu .
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Seorang lelaki bersedekah dengan dinar , dirham , gandum satu gantang , kurma satu gantang  …………  lalu beliau bersabda :  sekalipun dengan satu belahan  kurma …………
Lantas seorang lelaki  Ansor datang dengan membawa pundi yang tapak tangannya  hampir tidak mampu membawanya , bahkan tidak mampu membawanya .
Lantas manusia bersedekah dengan bergantian , hingga aku lihat dua undukan makanan dan pakaian
Aku melihat wajah Rasulullah   tampak gembira , lalu  Rasulullah   bersabda :
مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ    
Barang siapa melakukan suatu perbuatan baik dalam  Islam akan mendapat pahalanya dan pahala  orang yang menjalankannya tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka . Barangsiapa  yang melakukan  perbuatan jelek  akan mendapat dosanya dan  dosa orang yang melakukannya  tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun . 

Di situ adalah Rasulullah   memerintah sedekah , lantas ada  sahabat yang mendahului , dan ada sahabat yang agak lambat dan ada sahabat yang lambat dalam merespon perintah Rasulullah   . lalu  Rasulullah   bilang seperti itu  . Yaitu  orang yang pertama  kali mengeluarkan santunan  itu mendapat pahala  banyak  dan itulah yang di namakan sunnah hasanah yang di contoh oleh orang lain dan pelaku sedekah pertama jelas mendapat pahala banyak .
Kalau bid`ah adalah barang baru yang sengaja di masukkan ke dalam ajaran Islam  , ia tertolak dan menyesatkan  sebagaimana hadis :
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَاهَذَا مَالَيْسَ مِنْهُ فَهُوَرَدٌّ
Barang siapa mengada-ngadakan sesuatu dalam urusan agama yang tidak terdapat dalam agama maka dengan sendirinya tertolak  
Kalau sedekah ada perintahnya dalam ayat al quran maupun hadis sebagaimana ayat :
ءَامِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ فَالَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ(7)
Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.

Untuk masalah bid`ah , jangan menggunakan dalil itu sebagaimana di lakukan oleh sang doktor Kamel , nanti akan di ketawakan pembaca yang mengerti .

Anda menyatakan lagi :
Apakah yang dimksud dengan segala bid’ah itu  sesat & segala  kesesatan itu masuk neraka?

ﻛُﻞُّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَ ﻟَﺔٍﻭَﻛُﻞُّ ﺿَﻼَ ﻟَﺔٍ ﻓِﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ

“Semua bid’ah itu sesat dan semua kesesatan itu di neraka”.
Mari kt pahami menurut Ilmu Balaghah.tiap benda pasti mempunyai sifat, tidak mungkin ada benda yang tidak bersifat, sifat itu bisa bertentangan seperti baik dan buruk,panjang pendek,gemuk dan kurus.Mustahil ada benda dalam satu waktu dan satu tempat mempunyai dua sifat yg bertntangan, kalau dikatakan benda itu
baik mustahil pada waktu dan tempat yang sama dikatakan jelek;kalau dikatakan si A berdiri mustahil pada waktu dan t4 yg sama diktkan duduk.Mari kita kembli kpd hadits.
“Semua bid’ah tu sesat dan setiap kesesatan itu masuk neraka”.
Bidah itu kt benda, tentu punya sifat,tidak mungkin ia tdk mempunyai sifat,
mungkin saja ia b'sifat baik/ mungkin bersifat jelek. Sifat tersebut tidak ditulis dan
tidak disebutkan dalam hadits di atas; dalam Ilmu Balaghah diktkan “membuang sifat dari benda yang bersifat”.
andai kita tulis sifat bid’ah mk terjadi 2 kemungkinan:
Kemungkinan 1 :“Semua bid’ah yg baik sesat, dan semua yg sesat masuk neraka”.
Hal ini tdk mungkin, bagaimana sifat baik dan sesat berkumpul dlm satu benda dan dalam waktu dan tempat yang sama, hal itu tentu mustahil. Maka yang bisa
dipastikan kemungkinan yang ke2 :
ﻛُﻞُّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺳَﻴِﺌَﺔٍﺿَﻼَ ﻟَﺔٍ ﻭَﻛُﻞُّ ﺿَﻼَﻟَﺔٍ ﻓِﻰ ﺍﻟﻨَّﺎِﺭ


“Semua bid’ah yang jelekitu sesat, dan semua kesesatan itu masuk
 neraka”.
--(KH. A.N. Nuril Huda,
Ketua Lembaga Dakwah
 Nahdlatul Ulama (LDNU)dalam "Ahlussunnah wal
Jama'ah (Aswaja)
 Menjawab", diterbitkan oleh PP LDNU)
Contohnya spt:
- memakai celana bid"ah dong apalagi saat solat
- memberi istilah hadist doif , shohih , dan hasan. Apa ini dholalah?
- barzanji(membc sholawat al-barzanji). Apa ini dholalah? Disamping menyejukkan hatikan jg mengenang Nabi SA. Disana spt siroh nabawiyah. Lagipula saat kaum Anshor menyambut Nabi Saw dg sholawat dan rebana Nabi Saw ok2 aja.

Komentarku ( Mahrus ali )
Bila anda katakan setiap benda bersifat , maka saya katakan setiap sifat berbenda – maksudnya ada benda yang di sifati .
Khomer adalah benda , lalu anda  katakan harus ada sifatnya , lalu di katakan khomer jelek adalah haram . Khomer baik boleh . Mirip dengan contohmu  setiap bid`ah jelek , adalah jelek dan bid`ah baik boleh .
Itu semua bukan dalil sekalipun di katakan dalil menurut ahli bid`ah. Ia akal akalan aristoteles menggunakan ilmu mantik  bukan ayat quran atau hadis .
Keteranganmu itu bertentangan dengan hadis :
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
Barang siapa mengada-ngadakan sesuatu dalam urusan agama yang tidak terdapat dalam agama maka dengan sendirinya tertolak  [2]

« مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ » .
Barang siapa yang menjalankan sesuatu yang tidak cocok dengan urusan kami maka tertolak .
Anda menyatakan lagi
-         memakai celana bid"ah dong apalagi saat solat
-          
-         Komentarku ( Mahrus ali )
Saya kira kamu itu orang lihay , lebay , paham benar dengan agama  , tahu – tahu , paham setengah bodoh separoh . Celana itu ada dalilnya  , lihat hadis :
Umar berkata :
صَلَّى رَجُلٌ فِي إِزَارٍ وَرِدَاءٍ فِي إِزَارٍ وَقَمِيصٍ فِي إِزَارٍ وَقَبَاءٍ فِي سَرَاوِيلَ وَرِدَاءٍ فِي سَرَاوِيلَ وَقَمِيصٍ فِي سَرَاوِيلَ وَقَبَاءٍ فِي تُبَّانٍ وَقَبَاءٍ فِي تُبَّانٍ وَقَمِيصٍ
Seorang lelaki menjalankan salat dengan sarung dan selendang , selendang dan gamis ,kain sarung dengan pakaian luar, celana panjang  dan selendang , celana panjang dan gamis, celana panjang dan pakaian luar,celana pendek dan pakaian luar, celana pendek dan gamis[3] 
Lihat para sahabat mengenakan celana waktu salat bukan saja sarung atau gamis , lalu kamu katakan bid`ah hasanah , mengapa anda belum tahu juga.
Saya ingat firman Nya :
وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِمَّا خَلَقَ ظِلَالًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْجِبَالِ أَكْنَانًا وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَابِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ وَسَرَابِيلَ تَقِيكُمْ بَأْسَكُمْ كَذَلِكَ يُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْلِمُونَ(81)
Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan ni`mat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya). Nahel 81
Dalam ayat itu , di perkenankan mengenakan pakaian , tidak harus sarung , gamis tapi kain yang  bisa di gunakan untuk pakaian , celana atau lainnya.

Anda menyatakan lagi :
-         
- memberi istilah hadist doif , shohih , dan hasan. Apa ini dholalah?

Komentarku ( Mahrus ali )
Lalu maunya hadis itu tidak boleh di komentari sahih , lemah atau hasan . Biarkan hadis itu lemah , atau sahih  tidak usah di komentari Itu ilmu seperti mantik , Balaghoh dan Nahwu , bukan menambah ajaran Islam . Bid`ah adalah menambah ajaran . Allah berfirman :
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. [4]
Anda menyatakan :



- barzanji(membc sholawat al-barzanji). Apa ini dholalah? Disamping menyejukkan hatikan jg mengenang Nabi SA. Disana spt siroh nabawiyah.
Komentarku ( Mahrus ali )
Apakah anda  tidak tahu bahwa dalam berzanji banyak kesirikan , bacalah :
23 Apr 2011
18 Mei 2011

Anda menyatakan lagi :

 Lagipula saat kaum Anshor menyambut Nabi Saw dg sholawat dan rebana Nabi Saw ok2 aja.
Komentarku ( Mahrus ali )
Mana dalilmu ?   kisah tsb legenda kuno yang menyesatkan . Rasulullah SAW tidak pernah di sambut dengan rebana ketika datang ke Medinah .
Al Bara`  bin Azib ra  berkata :
أَوَّلُ مَنْ قَدِمَ عَلَيْنَا مُصْعَبُ بْنُ عُمَيْرٍ وَابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ وَكَانَا يُقْرِئَانِ النَّاسَ فَقَدِمَ بِلَالٌ وَسَعْدٌ وَعَمَّارُ بْنُ يَاسِرٍ ثُمَّ قَدِمَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فِي عِشْرِينَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَا رَأَيْتُ أَهْلَ الْمَدِينَةِ فَرِحُوا بِشَيْءٍ فَرَحَهُمْ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى جَعَلَ الْإِمَاءُ يَقُلْنَ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَا قَدِمَ حَتَّى قَرَأْتُ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى فِي سُوَرٍ مِنَ الْمُفَصَّلِ *
Permulaan  orang yang datang ke Medinah  adalah Mus`ab bin Umair dan  Ibnu Ummi Maktum .Keduanya mengajarkan al Qur`an ke penduduk Medinah . Lantas Bilal , Sa`ad ,Ammar bin Yasir , lalu Umar bin Al Khotthob bersama  dua puluh sahabat Nabi SAW .lalu Nabi SAW  datang . Aku melihat penduduk Medinah sangat gembira dengan kehadiran  Rasulullah SAW  ,hingga para budak perempuan sama mengatakan : “Rasulullah SAW  telah datang “. Ketika itu , aku bacakan  surat sabbihisma  dan  beberapa surat Mufasshol.[5]
Menurut riwayat Bukhori  sbb :
حَتَّى رَأَيْتُ الْوَلَائِدَ وَالصِّبْيَانَ يَقُولُونَ هَذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ جَاءَ فَمَا جَاءَ حَتَّى قَرَأْتُ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى فِي سُوَرٍ مِثْلِهَا
Hingga  anak –anak  budak dan anak kecil berkata :” Ini Rasulullah SAW  telah datang , ketika itu aku bacakan sabihisma rabbikala`la  dan surat sesamanya . [6] Jadi tidak disambut dengan terbang lalu membaca :                                 طلع البدر علينا من ثنيات الوداع




[1] Syuroo 14
[2] HR Bukhori / Salat / 2499. Muslim / Aqdliah / 3242. Abu dawud/Sunnah / 3990. Ibnu Majah / Muqaddimah /14. Ahmad / 73,146,180,240,206,270/6
[3] Bukhori 385
[4] Al maidah 3
[5] Bukhori 3925
[6] Bukhori /4941