Sumber : http://blogseotest.blogspot.com/2012/01/cara-memasang-artikel-terkait-bergambar.html#ixzz2HNYeE9JU

Pages

Blogroll

Tampilkan postingan dengan label Demokrasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Demokrasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Juli 2013

Kemenangan partai dalam pemilu adalah kemenangan yang rapuh



KAIRO (Arrahmah.com) – Jendral Abdel Fattah al-Sisi membuktikan dirinya sebagai presiden Mesir yang sebenarnya, sekaligus menegaskan bahwa lembaga militer merupakan satu-satunya unsur yang solid dan mampu untuk menjungkalkan hasil pemilihan umum kapan saja ia menghendakinya, dengan judul “memenuhi keinginan rakyat dan menjaga kepentingan nasional”. - See more at: http://www.arrahmah.com/rubrik/mesir-kudeta-militer-dalam-wajah-sipil-dengan-topeng-agama.html#sthash.DJrJLfsx.dpuf
Ini merupakan kudeta militer, dalam wajah sipil, dengan topeng agama. Inilah yang menginterpretasikan penyertaan Syaikh Al-Azhar dan Paus Kristen Koptik dalam proses pengambilan keputusan pemecatan Presiden Mursi dan gerakan Ikhwanul Muslimin, serta melemparkan mereka ke dalam ketidak jelasan, yang barangkali juga berujung pada penjeblosan ke dalam penjara-penjara, berdampingan dengan sel mantan Presiden Husni Mubarak dan kroni-kroninya.
Ketika kita mengatakan ini adalah kudeta militer dalam wajah sipil, maka yang kami maksudkan adalah lembaga militer memilih presiden sipil sebagai pejabat sementara, yaitu ketua Mahkamah Konstitusi, lalu lembaga militer menyerukan pemilihan presiden dan pemilihan legislatif pada waktu enam bulan mendatang, serta membentuk panitia ahli untuk menyusun konstitusi baru.
Jendral Abdel Fattah al-Sisi tidak mengikuti langkah pendahulunya, Jendral (purnawirawan) Husain Tanthawi yang memimpin Dewan Militer. Jendral Al-Sisi lebih memilih sebagai “pembuat raja” dan duduk di kursi kepemimpinan tanpa menjadi pemimpin langsung. Persis seperti posisi Mursyid ‘Am Ikhwanul Muslimin atau Mursyid A’la (Pemimpin Tertinggi) dalam Revolusi Iran.
***
Sudah jelas sekali, lembaga militer Mesir memilih berpihak kepada kelompok yang lebih mampu mengerahkan jutaan massa di lapangan-lapangan dan jalan-jalan Mesir, sesuai pernyataan sikap militer yang dirilis kemarin sore.  Namun juga jelas sekali bahwa Ikhwanul Muslimin yang harus menunggu 90 tahun untuk mencapai kursi kekuasaan, kini merasa menjadi korban dan kursi kepresidenan dicuri dari mereka, baik kita sepakat dengan pemikiran itu maupun tidak sepakat dengannya.
Pendukung gerakan pembangkangan yang mengerahkan jutaan massa ke Tahrir Square dan Istana Kepresidenan  merayakan kemenangan mereka dengan perayaan yang lebih meriah disbanding perayaan saat rakyat menjatuhkan mantan Presiden Husni Mubarak. Itu hak mereka, karena cita-cita mereka telah teraih dan tuntutan mereka untuk menyingkirkan “Kepemimpinan Mursyid ‘Aam” telah dipenuhi, seperti slogan yang selalu mereka kumandangkan selama beberapa hari dan beberapa pekan yang lalu.
Tentara Mesir telah merencanakan peristiwa hari ini dengan sangat baik. Nampaknya Tentara Mesir telah mengambil pelajaran dari pengalaman Tentara Turki yang memainkan dirinya sebagai “Pelindung Negara Sipil” dan menghalangi “kaum fundamentalis Islam” dari memegang kursi kekuasaan, meskipun melalui jalur Pemilihan Umum, seperti yang diraih oleh Partai Refah wa Sa’adah pimpinan Najmuddin Erbakan.
Ketika kita menyatakan Tentara Mesir telah merencanakan peristiwa hari ini dengan sangat baik, maka yang kita maksudkan adalah dengan dukungan dan loyalitas dari lembaga Al-Azhar, Gereja Koptik Mesir, Oposisi Front Penyelamatan (Jabhah Inqadz) dan Gerakan Pembangkangan (Harakah Tamarrud) yang merektrut generasi muda. Tentara Mesir telah memberdayakan semua unsure tersebut dan massa anggotanya untuk mendukung intervensi militer yang menentukan nasib.
Pertanyaannya saat ini adalah bagaimana cara Jendral Al-Sisi menjajakan peta jalan yang ia lontarkan tersebut kepada pihak yang dirugikan, yaitu Ikhwanul Muslimin, dan kemudian apa respon Ikhwanul Muslim terhadap peta jalan tersebut?
Sudah pasti sebuah gerakan yang memiliki dukungan rakyat yang kuat (Ikhwanul Muslimin, edt) tidak bisa diremehkan, khususnya di wilayah pesisir Mesir. Sebelumnya telah dikatakan oleh Presiden Muhammad Mursi, Dr. Muhammad Baltaji dan Dr. Isham al-Uryan, bahwa Ikhwanul Muslimin tidak akan diam dan akan berjuang demi membela legalitas kepemimpinan sampai tetes darah penghabisan.
Ada dua sayap dalam kelompok Ikhwanul Muslimin. Sayap rajawali yang direpresentasikan oleh Muhammad Mursi dan Muhammad Baltaji, dan sayap merpati yang direpresentasikan oleh sejumlah tokoh seperti Khairat Shatir dan Sa’ad al-Katatani pemimpin Partai Kebebasan dan Keadilan.
Meskipun sebagian pihak mengatakan tidak ada perbedaan di antara kedua sayap tersebut dan persoalannya sebatas masalah pergantian peranan saja dan bahwa masih terlalu dini untuk menyatakan sayap mana yang akan mengalahkan sayap lainnya. Namun ketika Muhammad Mursi berbicara dengan berdiri dan menyelempangkan kain kafan di atas bahunya, dan ketika Muhammad Baltaji menegaskan akan terus “berperang” demi mempertahankan kepemimpinan legal sampai titik darah penghabisan, dan ia menyerukan kepada para pendukungnya untuk berjuang sampai meraih kesyahidan, maka kita bisa memperkirakan peristiwa paling buruk.
***
Mesir telah terbagi-bagi sebelum adanya pernyataan resmi lembaga militer. Kini Mesir semakin terpecah-belah. Kita tidak merasa aneh atau tidak merasa mustahil jika nanti terjadi pergantian peranan, di mana kelompok oposisi meninggalkan lapangan-lapangan dan jalanan, digantikan oleh massa yang dirugikan, dalam jumlah yang lebih besar.
Peristiwa kudeta militer di Aljazair kini terulang di Mesir, dengan sedikit perbedaan, yaitu militer Aljazair membatalkan hasil Pemilu yang dimenangkan oleh kelompok Islam, sebelum kemenangan pemilu itu resmi diumumkan. Sementara militer Mesir membatalkan hasil pemilu setelah pemilu itu nampak jelas hasilnya.
Syaikh (Rektor Universitas) Al-Azhar kemarin mengatakan: “Mesir sekarang dihadapkan pada salah satu dari dua pilihan. Pilihan yang paling buruk adalah mengalirnya darah rakyat di atas tanah Mesir, oleh karena itu kita wajib mengamalkan kaedah syariat yang menyatakan menempuh pilihan yang paling ringan dari dua pilihan bahaya.”
Kita sepakat dengan Syaikh Al-Azhar Ahmad at-Thayib dalam menjelaskan kaedah ini. Namun kita tidak meyakini optimismenya tersebut. Sebab, pilihan bahaya yang paling ringan dari dua pilihan bahaya yang ada tersebut, mungkin akan menjadi pilihan bahaya paling besar atau sebab terjadinya peperangan saudara di Mesir.
Kami menentang penumpahan darah, kami juga menentang penggunaan senjata sebagai kata pemutus konflik apapun alasannya. Oleh karenanya kami mengharapkan lebih kuatnya penggunaan akal sehat, hendaknya Ikhwanul Muslimin menerima perkara tersebut dan rela menelan racun tersebut, lalu mempersiapkan diri untuk menghadapi pemilihan presiden dan pemilihan legislatif yang akan datang.
Dengan demikian, Ikhwanul Muslimin bisa menegaskan kepada bangsa Mesir sikap damai Ikhwanul Muslimin, keseriusan mereka untuk kepentingan Mesir dan menjaga nyawa rakyat Mesir, dan hendaknya mereka melakukan hal yang tidak dilakukan oleh lawan mereka, maksudnya hendaklah mereka menyelesaikan perkara mereka lewat pemilu mendatang.
Kami terlalu berlebihan dalam menyampaikan optimisme kami, ya memang, kami menawarkan pikiran yang terlalu “lugu” dalam pandangan sebagian pihak. Memang, namun kami menyampaikan ini karena sangat cintanya kami kepada Mesir dan keinginan besar kami untuk menjaga nyawa rakyat Mesir, di saat kita bisa melihat kondisi yang terjadi di negara-negara tetangga, khususnya Suriah, Irak dan Libya.
Penulis: Abdul Bari Athwan
Koran Al-Quds al-Arabi
London, 3 Juli 2013 M

Catatan redaksi Arrahmah.com:
1.    Kita meyakini demokrasi adalah sistem kufur dan thaghut kufur. Kita meyakini perjuangan Islam melalui jalur pemilihan umum dalam system demokrasi sekuler adalah perjuangan yang tidak Islami.   
2.    Kudeta militer di Mesir sekali lagi membuktikan perjuangan Islam melalui jalan yang “tidak Islami” tidak akan mengantarkan umat Islam kepada Daulah Islamiyah dan Khilafah Islamiyah yang menegakkan syariat Islam secara kaafah.
3.    Perjuangan Islam melalui jalur demokrasi sekuler yaitu pemilihan legislatif dan pemilihan presiden merupakan perjuangan yang rapuh secara realita lapangan dan menyelisihi syariat Islam. Perjuangan Islam memerlukan gerakan jihad bersenjata untuk sampai kepada kekuasaan Daulah Islamiyah yang menegakkan syariat Islam secara kaafah. Wallahu a’lam bish-shawab.
4.    Tidak selayaknya para aktivis Islam dan umat Islam terperangkap dalam lubang yang sama berulang kali. Cukuplah kudeta militer di Aljazair, Turki dan Mesir sebagai pelajaran bagi perjuangan lewat jalur demokrasi dan pemilu. 
(muhibalmajdi/arrahmah.com)

Komentarku ( Mahrus ali): 
Kemenangan Islam dengan jalan pemilu adalah kemenangan yang rapuh sekali. Maksudnya  sangat kuat peluang untuk digulingkan dengan kekuatan militer dan kelemahan kaum sipil yang tidak memiliki senjata tidak mampu untuk menjaga kemenangannya sewaktu pemilu. Karena itu, kaum muslimin  harus menempuh kemenangan  yang kuat yaitu dengan menjalankan  perintah Allah:
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَءَاخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ(60)
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). Al anfal . .

Rabu, 17 April 2013

Demokrasi sekuler, perusak generasi



Oleh: Fatimah Azzahra

(Arrahmah.com) – Stres, pusing, inilah beberapa hal yang dialami oleh siswa siswi yang mengikuti UN tahun ini. Mereka menyibukkan diri dengan belajar, dan mengerjakan latihan-latihan soal. Di tengah-tengah kesibukkan ini, ada peserta UN yang harus menanggung ‘beban’ lain, hamil. Di Surabaya, jumlah peserta UN yang hamil mengingkat 100 persen dibandingkan tahun kemarin. Tahun lalu tercatat ada tiga siswi hamil, kali ini jumlahnya mencapai tujuh orang. Ketujuh orang siswi ini duduk di bangku SMP dan SMA yang memiliki umur kandungan antara tiga sampai enam bulan (okezone.com, 01/04/2013). Jumlah ini yang tercatat melapor, bagaimana dengan yang tidak melapor? Fenomena ini sudah seperti fenomena gunung es, hanya sedikit yang terungkap.  

Mengapa hal ini bisa  terjadi, bahkan lebih parah dari tahun yang lalu? Ketua Hotline Pendidikan Jawa Timur, Isa Ansori menjelaskan, berdasarkan hasil survei Hotline Pendidikan Jatim bersama Yayasan Embun Surabaya (YES) dan Lembaga Perlindungan Anak Jatim ke sekolah-sekolah serta Telepon Sahabat Anak (Tesa), lebih dari 450 pelajar di Surabaya, sebanyak 16 persen mengaku pernah berhubungan seks (detik.com, 01/04/2013). Tak heran jika jumlah siswi hamil pun meningkat.

Sistem pendidikan Indonesia yang sudah sekian kali mengalami proses bongkar pasang, tambal sulam, ternyata menghasilkan individu yang seperti ini. Bukannya perbaikan yang ada, malah keadaannya bertambah parah. Ini terjadi karena di tengah sulit dan rumitnya proses perbaikan sistem pendidikan, pemerintah tetap menerapkan sistem yang memisahkan antara agama dengan kehidupan. Sistem demokrasi yang mengusung ide kebebasan; kebebasan berpendapat, kebebasan beragama, kebebasan kepemilikan, dan kebebasan bertingkah laku. Dari dasar kebebasan dalam demokrasi ini menimbulkan mindset bebas dalam diri masyarakat Indonesia, termasuk para pelajar. Mereka merasa bebas untuk melakukan apapun tanpa memperhatikan koridor norma, bahkan agama.

Pengacuhan terhadap norma yang berlaku, bahkan aturan agama ini terjadi karena sistem yang diterapkan sekarang tidak memupuk keimanan dan ketakwaan masyarakatnya. Yang ada justru pemisahan agama dari kehidupan, menjauhkan nilai-nilai agama dari kehidupan. Ide-ide kebebasan demokrasi telah menggiring generas di negeri ini ke dalam jurang kenistaan. Demokrasi telah menciptakan iklim kondusif bagi pergaulan bebas.  Hal ini disebabkan karena demokrasi memberikan hak kepada manusia untuk membuat aturan kehidupan sesuai dengan akal dan hawa nafsu manusia, dan mengabaikan aturan Allah dan Rasul-Nya. Investasi dosa yang sungguh luar biasa.

Lantas bagaimana agar fenomena yang membuat hati miris ini tidak terjadi lagi? Setelah mengetahui dan memahami bahwa penyabab kerusakan ini adalah dengan adanya penerapan sistem Demokrasi Sekuler yang merupakan buatan manusia. Maka, sudah saatnya kita  kembali kepada sistem buatan Allah , Sang Pencipta kita, karena hanya Ia lah yang tahu apa yang terbaik untuk kita. Islam, hadir di tengah-tengah kita tidak hanya sebagai agama yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya, juga dengan Tuhannya, melainkan juga mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya.,

Islam mewajibkan pemerintah untuk memupuk keimanan dan ketakwaan masyarakatnya. Hal ini membuat kurikulum pendidikan pun dibuat untuk memenuhi kewajiban tersebut. Anak-anak seumuran TK dan SD mendapatkan materi aqidah dan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. Hal ini sebagai bentuk penanaman akar aqidah yang kokoh dalam setiap masyarakat. Di tingkat SMP, SMA, Perguruan Tinggi Negeri, pelajar mulai dikenalkan dengan ilmu terapan, pengaplikasiannya, mendebat tsaqofah asing, dengan terus dikuatkan tsaqofah Islamnya. Sehingga jika ada pengetahuan atau ilmu yang tidak sesuai dengan Islam, seperti kebebasan bertingkah laku, pergaulan bebas, mereka sudah tahu apa hukum perbuatan tersebut dalam Islam. Dalam Islam, setiap perbuatan manusia terikat dengan hukum syara’ yang bersumber dari Al Qur’an dan Sunnah. Pergaulan bebas yang merebak kini merupakan dampak tidak dilaksanakannya hukum Islam, salah satunya ayat yang melarang kaum Muslim untuk mendekati perbuatan zina.

Islam bukan sekedar teori tanpa praktek. Keberhasilannya sudah terbukti selama 13 abad, mulai dari tahun 623 – 1924 Masehi. Mari selamatkan adik-adik kita, anak-anak kita, cucu-cucu kita, saudara kita, teman kita, generasi penerus bangsa ini dengan memperjuangkan kembali penerapan Islam sebagai sistem dalam naungan negara, Daulah Khilafah islamiyah.

Wallahu’alam bish shawab.


Komentarku ( Mahrus ali): 
Kalau melihat banyak kalangan siswa yang mentalnya rusak karena diprogram begitu oleh kafirin, Yahudi , kristen dan sekuler. Program ini telah diketahui oleh kalangan  orang yang komitmen dengan al Quran dan hadis, tapi apa daya mereka dengan begitu kuatnya menekan keadaan untuk mengurangi  ajaran agama  di jam pelajaran sekolah umum. Ini pangkal kerusakan dan bukan yang terahir. Mereka ingin mengkafirkan kaum muslimin via pendidikan, merusak tata cara pergaulan Islami di ganti dengan  cara gaul orang – orang kafir. Ingat saja ayat;
وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً فَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ أَوْلِيَاءَ حَتَّى يُهَاجِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ
Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong (mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Nisa` 89
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.Ali imran 118

Sabtu, 09 Maret 2013

Menag : Akar Radikal Tak Hanya di Agama, Tapi Juga Paham Demokrasi

Hidayatullah.com-- Islam selama ini selalu dipojokan dengan stigma negatif dengan tudingan sebagai agama yang radikal, dan agama yang mengajarkan teroris ujar Menteri Agama H Suryadharma Ali.
Pernyataan ini disampaikan Suryadharma Ali dalam sambutannya pada acara silaturahmi dengan pimpinan Ponpes Minhaajurrosyidin, Lubang Buaya, Pondok Gede, Jakarta Timur, Jumat (08/03/2013).
Hadir pada acara itu, Dewan Penasihat Ponpes Minhaajurrosyidin, Ketua Umum Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Abdullah Syam, Kepala Kantor Wilayah Kemenag DKI Jakarta Akhmad Murtadho, serta para ulama lainnya.
Suryadharma mengakui memang ada yang memahami agama secara radikal, dan itu tidak saja terjadi di Islam tapi juga pada penganut agama lainnya yang memahami ajaran agamanya secara radikal.
Bahkan, menurut Suryadharma, pemahaman radikal sesungguhnya bukan hanya terhadap pemahaman agama, tapi juga oleh mereka yang menjunjung demokrasi dan Hak Asasi Manusia (HAM).
“Kalau dulu akarnya radikalisme adalah hanya pada ajaran agama, tapi sekarang meluas kepada mereka yang menjunjung tinggi paham demokrasi, dan pikiran-pikiran HAM juga berbuat radikal. Namun, masalah ini yang tidak pernah diungkap,” paparnya dikutip laman Kemenag.
Dikatakan Suryadharma, mereka yang menganut paham demokrasi tapi juga radikal karena kerjanya saat unjuk rasa dengan bakar ban, menutup jalan raya sehingga menimbulkan kemacetan yang luar biasa panjang, termasuk merusak kantor gubernur, bupati dan kantor pemerintahan lainnya.
“Mereka itu termasuk penganut paham demokrasi radikal. Jadi ada HAM radikal juga ada demokrasi radikal. Jadi kenapa Islam saja yang dituding sebagai agama yang mengajarkan radikal,” papar Suryadharma yang juga ketua umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Dikatakannya, HAM itu memperhatikan unsur agama, kepentingan suatu bangsa dan budaya yang berkembang. “Jadi kalau kita mengambil pemikiran (HAM) dari barat begitu saja, tanpa menjaringnya pasti tidak cocok,” papar Suryadharma.*
Rep: Panji Islam
Red: Cholis Akbar




Komentarku ( Mahrus ali): 
Sejak dulu bukan sekarang saja, konfrontasi antara kebenaran dan kebatilan  berjalan, tidak akan berhenti. Kapan dan dimanapun. Pihak – pihak pembela kebenaran terus ingin menegakkan kebenarannya, begitu juga pihak – pihak penegak kebatilan takkan mau mengalah, maunya mereka ingin mengubur kebenaran hingga yang tampak diatas bumi hanyalah kemungkaran dan kedurhakaan, bukan kebaikan dan ketaatan. Pihak akar rumputpun begitu, gemar menghadiri acara kemungkaran dan ada yang benci dan enggan menghadirinya, lalu bikin acara kebenaran sendiri untuk tetap exis dan tak mau kalah, inginnya menumpas kebatilan. Ingat saja firman Allah:
إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ(140)
Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim,

Minggu, 23 September 2012

Keputusan presiden di tentang pengadilan



Eramuslim.com | Media Islam Rujukan, Pengadilan Mesir pada hari Sabtu kemarin (22/9) membenarkan putusan oleh Mahkamah Konstitusi Tinggi yang membatalkan keputusan dari Presiden Muhammad Mursi untuk mengembalikan parlemen yang didominasi kelompok Islam terpilih pada bulan November 2011 lalu.

Mursi sebelumnya telah memerintahkan parlemen untuk mengadakan pembangkangan atas keputusan dewan militer yang berkuasa untuk membubarkan parlemen sejalan dengan putusan pengadilan sebelumnya di mana para jenderal menyerahkan kekuasaan kepada presiden.

Keputusan Mursi yang banyak dipuji oleh para pendukungnya meyakini keputusan pengadilan untuk membubarkan parlemen adalah bermotif politik, namu langkah Mursi memicu kecaman dari lawan politiknya yang menuduh Mursi melangkahi wewenangnya.

Menurut konstitusi sementara negara, yang disusun oleh para jenderal militer yang mengambil alih setelah penggulingan Presiden Hosni Mubarak awal tahun lalu, militer membatasi kekuasaan parlemen.(fq/aby)

Komentarku ( Mahrus ali): 
Parlemen yang dikuasai oleh mayoritas muslim masih tetap tetap menggunakan UU kafir, apalagi yang dikuasai mayoritas kafir. Sebab , jiwa berjuang untuk Islam telah menipis dan berjuang untuk diri sendiri menebal sekali. Seandainya ada yang berjiwa Islami bukan kafiri, namun tetap terkalahkan, karena jumlahnya minim sekali. Sudahlah ingat firmanNya:
فَلَوْلَا كَانَ مِنَ الْقُرُونِ مِنْ قَبْلِكُمْ أُولُو بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّنْ أَنْجَيْنَا مِنْهُمْ وَاتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مَا أُتْرِفُوا فِيهِ وَكَانُوا مُجْرِمِينَ
Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.[1]



[1] Yunus 116

Senin, 04 Juni 2012

Keputusan Perjanjian antara Ansar Al-Din dan MNLA dalam pendirian Negara Islam Azawad




MALI - Dalam deklarasi pendirian Negara Islam Azawad, Mujahidin Ansar Al-Din dan Gerakan Nasional untuk Pembebasan Azawad (MNLA) sepakat untuk menggunakan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai dasar hukum negara. Kedua belah pihak tersebut mengeluarkan keputusan perjanjian untuk pendirian dan pembangunan Negara Islam Azawad, sebagai berikut:
***
بسم الله الرحمن الرحيم
Keputusan Perjanjian
Antara: 
Gerakan Nasional untuk Pembebasan Azawad dengan Jama’ah Ansar Al-Din
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai” (Ali-Imran: 103)
Tunduk pada perintah Allah dalam ayat yang mulia ini, saudara-saudara dari Gerakan Nasional untuk Pembebasan Azawad dan Jama’ah Ansar Al-Din, melakukan serangkaian pertemuan dan konsultasi selama seminggu penuh, mendiskusikan konsep-konsep dasar:
·         Konsep Kufur kepada Thaghut
·         Konsep Al-Wala wal Bara’
·         Perlunya pendirian Negara Islam di Azawad ini karena kami diperintahkan oleh Tuhan Semesta Alam dalam firman-Nya, “(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (Al-Hajj: 41)
Kedua belah Pihak:
·         Menekankan pada pemegangan Kemerdekaan Azawad, dengan pengakuan total dan menghormati perbatasan negara-negara tetangga.
·         Berkomitmen untuk bekerja pada pendirian dan pembangunan sebuah Negara Islam di Azawad yang metodologinya adalah Kitab Suci Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW berdasarkan pemahaman para Salafus shalih.
·         Memutuskan untuk bergabung untuk kepentingan yang lebih tinggi dari Islam dan Kaum Muslimin di tanah rakyat Azawad ini.
·         Berkomitmen – sebagai hasil dari itu – untuk menggabungkan pasukan bersenjata mereka segera, untuk membentuk sebuah persatuan Tentara.
·         Bersepakat untuk membentuk sebuah badan eksekutif transisi atas nama: “Dewan Transisi Negara Islam Azawad”.
·         Bersepakat untuk bendera khusus untuk Negara Islam Azawad.
·         Menyeru kepada semua kelompok Azawad yang bersifat organisasi untuk perlunya mengambil inisiatif dan berkerja bergabung dengan kerangka kerja baru ini.
·         Dewan Transisi Negara Islam Azawad bekerja untuk menyusun rencana untuk melaksanakan ketentuan dari perjanjian ini.
·         Pernjanjian ini akan mulai berlaku setelah penandatanganan ini.
Gao, 5 Rajab 1433 H
Sesuai dengan 26 Mei 2012
Atas nama Gerakan Nasional Pembebasan Azawad dan Jama’ah Ansar Al-Din
Bilal Ag Charif Alghabass Ag Intalla (Sekjen MNLA)
(siraaj/arrahmah.com) Senin, 28 Mei 2012 08:26:32/ Pers rilis
***
Kesepakatan antara Mujahidin Ansar Al-Din dan MNLA terkait pendeklarasian Negara Islam Azawad
MALI - Mujahidin Ansar Al-Din (Jama’ah Islam lokal) dan Gerakan Pembebasan Azawad (MNLA) – juga biasa disebut milisi Tuareg – pada hari Sabtu (26/5/2012) telah menandatangani kesepakatan untuk mendeklarasikan Negara Islam Azawad di wilayah utara Mali. Wilayah Azawad terdiri dari wilayah Timbutku, Gao, Kidal dan sebagian wilayah Mopti yang secara keseluruhan meliputi 60 persen wilayah Mali.
MNLA setuju untuk membentuk Dewan yang akan menerapkan Syari’at Islam di Azawad bersama Mujahidin Ansar Al-Din yang juga dibantu oleh Mujahidin Al-Qaeda in the Islamic Maghreb (AQIM). Negara yang akan menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salafus shalih sebagai dasar Negara Islam Azawad.
Berikut adalah terjemahan pers rilis kesepakatan antara Mujahidin Ansar Al-Din dan MNLA untuk mendeklarasikan Negara Islam Azawad.
***
بسم الله الرحمن الرحيم
Dalam pengakuan terhadap tanggungjawab besar yang diserahkan pada kedua belah pihak menuju tanah dan rakyat ini
Dan sesuai dengan Ajaran Islam yang murah hati
Dan sehubungan  denga keinginan kuat rakyat Azawad untuk mempersatukan putera-putera mereka
Gerakan Nasional untuk Pembebasan Azawad dan Jama’ah Ansar Al-Din telah bersepakat untuk bergabung dalam sebuah Negara Islam Azawad, setelah menekankan hal-hal sebagai berikut:
·         Menuntut masyarakat Internasional untuk mengakui Negara Azawad ini.
·         Menjadikan Kitab Suci Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW sebagai sumber undang-unda di Negara Azawad ini.
·         Untuk mempercepat pembentukan otoritas Azawad untuk menjalankan urusan-urusan tanah ini.
·         Penggabungan lengkap pasukan bersenjata mereka untuk membentuk Tentara Azawad.
·         Menyeru kepada semua kelompok bersenjata Azawad yang bersifat keorganisasian untuk perlunya mengambil inisiatif dan bekerjasama bergabung dengan Tentara Azawad.
·         Menyeru kepada seluruh rakyat Azawad untuk menjawab permintaan dari persatuan Azawadi yang komprehensif untuk membangun Negara Islam Azawad.
·         Memikirkan penyediaan keamanan dan stabilitas di seluruh tanah Azawad adalah prioritas pertama dari tahap ini.
·         Penolakan pasti atas setiap langkah yang membahayakan Azawad dan rakyatnya, atau mempengaruhi pada keamanan dan stabilitas di lingkungan negara ini.
Gao, 5 Rajab 1433 H
Sesuai dengan 26 Mei 2012
Atas Nama Jama’ah Ansar Al-Din dan Gerakan Nasional Pembebasan Azawad
Bilal Ag Charif Alghabass Ag Intalla (Sekjen MNLA)
(siraaj/arrahmah.com)/ Pers rilis
Senin, 28 Mei 2012 07:52:12
 Komentarku ( Mahrus ali ):

Bila pendirian negara Islam ini berhasil, maka inilah permulaan negara Islam bukan yang terahir setelah masa kejayaan Islam – Ia di hasilkan melalui konfrontasi dengan sejata penuh bukan dengan jalan PEMILU  atau melalui pesta demokrasi lainnya. Kalau melalui pesta demokrasi, sekalipun partai Islam menang , negara tetap menggunakan sistim kufur atau Jahiliyah sebagaimana yang terjadi di Mesir, Tunisia atau Turki.
  

Selasa, 01 Mei 2012

Capres nasionalis, sekuler bukan capres Islami



Pro-Kontra Seruan Agar Muslim Perancis Memilih dalam Pemilu Presiden

Menjadi minoritas di Perancis dan biasanya golput pada saat pemilu. Namun pada tahun ini, ada upaya baru khusus untuk memobilisasi Muslim Perancis agar memberikan hak mereka di kotak suara dalam pemilihan presiden hari Minggu nanti - di tengah gelombang anti Islam-yang semakin marak di Perancis.
Imam dan asosiasi Islam Perancis menyerukan umat Islam untuk melakukan kewajiban mereka sebagai warga negara dan pergi ke tempat pemungutan suara. Meskipun tidak menyerukan untuk mendukung siapa pun, panggilan itu sendiri adalah langkah berani di negara di mana statistik tentang afiliasi agama secara resmi dilarang dan sekularisme diabadikan dalam konstitusi.
Capres dari kubu sosialis Francois Hollande, lebih mungkin memperoleh manfaat dari desakan memberikan hak suara umat Islam, karena Presiden konservatif Nicolas Sarkozy telah berbicara menentang praktik-praktik Muslim dalam kampanyenya dan para ahli mengatakan bahwa umat Islam di lingkungan miskin dan pemuda Muslim cenderung memilih kubu kiri.
Tapi suara umat Islam cukup beragam, dan tidak ada jaminan bahwa tekanan dan seruan para pemimpin agama akan membawa warga Muslim memberikan hak suara mereka, karena umat Islam di masa lalu cenderung untuk menghindari politik.
Muslim Perancis telah menjadi obyek seluruh kampanye terkait daging halal, bagaimana mereka shalat di jalan dan dugaan pertumbuhan cepat mereka akan berusaha menggantikan peradaban Perancis dengan peradaban mereka sendiri.
Untuk beberapa pemimpin agama Islam, sekarang saatnya untuk bertindak.
"Kita tidak tinggal di Mars. Kita hidup di Perancis dan kita terus mendengarkan apa yang terjadi," kata Kamel Kabtane, pimpinan Masjid Lyon, yang berada di antara sekelompok imam di 30 masjid di tenggara Perancis yang menekan umat Islam untuk memilih dalam pemilu.
"Dengan inisiatif ini, kita ingin menunjukkan bahwa umat Islam bukan warga negara dari zona kedua ... Mereka dapat memilih yang mereka inginkan, tetapi hadir di bilik suara," ujarnya.
Lebih dari 5 juta Muslim di Perancis - penduduk Muslim terbesar di Eropa Barat - berpotensi bisa membuktikan dukungan yang menentukan untuk atau terhadap seorang kandidat.
Kabtane mengatakan inisiatif agar Muslim memberikan suara mereka di tenggara Perancis adalah yang pertama dari jenisnya, meskipun beberapa masjid di wilayah Paris juga meminta umat Islam untuk pergi ke tempat pemungutan suara pada pemilu nanti.
Namun bagi kepala Masjid Agung Paris, Dalil Boubakeur, seruan untuk memilih tersebut sangat berbahaya karena berisiko menyeret agama ke dalam politik, dan "Saya menolaknya," tegasnya
Masjid Paris dengan tegas mengeluarkan pernyataan menentang seruan dari Lyon.
"Memobilisasi, ya, tapi bukan atas nama Islam," ujarnya. "Atas nama keadilan, ekonomi, proyek-proyek perumahan, kesengsaraan, pengangguran. Tapi tidak atas nama Islam."(fq/ap)

Sumber: eramuslim


Komentarku ( Mahrus ali ): =
Sebagai muslim bukan kafir memiliki ajaran Islam sendiri bukan ajaran sekuler atau nasionalis. Kita tidak diperkenankan untuk memilih presiden sekuler yang nantinya akan menjalankan berbagai kedurhakaan, anti ketaatan , senang dengan aturan sekuler dan anti kepada ajaran Allah, berganti dengan  ajaran setan yang terkutuk bukan ajaran Rasul yang mendapat rahmat. Ingatlah ayat:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللهِ رَبِّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي تُسِرُّونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنْتُمْ وَمَنْ يَفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيْلِ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir  Rasul  dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus. Mumtahanah 1

Baca lagi disini:
03 Mar 2012

28 Jun 2011

05 Mei 2011
25 Apr 2011