Sumber : http://blogseotest.blogspot.com/2012/01/cara-memasang-artikel-terkait-bergambar.html#ixzz2HNYeE9JU

Pages

Blogroll

Tampilkan postingan dengan label NU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NU. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Januari 2014

Ceramahnya ajak memerangi kemaksiatan, KH Syihabudin malah dikeroyok Banser NU



D FPI Jateng KH Syihabudi yang dirusak Banser NU
WONOSOBO (Arrahmah.com) – Ketua Tanfidhiyah DPD Front Pembela Islam (FPI) Jawa Tengah, Temanggung, KH Syihabudin mengalami luka di bagian pelipis kiri akibat dikeroyok oleh gerombolan Banser NU di Wonosobo, Senin (20/1/2014) sekira jam 00.15 wib. Tidak hanya itu, mobil yang ditumpanginya pecah kacanya pada bagian depan, samping dan belakang serta penyok bodinya.
Banser (Barisan Ansor Serbaguna, Nahdhatul Ulama) yang seharusnya bertugas menjaga dan membentengi para ulama, malah melakukan perusakan di Desa Kembaran, Kecamatan Kalijajar, Kabupaten Wonosobo. Akibatnya, KH Syihabudin yang juga pengasuh pondok pesantren Al Hadits Wonoboyo Temanggung itu mengalami luka memar pada bagian pelipis sebelah kiri.
Sebelum pengeroyokan itu, Kyai Syihab, demikian KH Syihabudin akrab dipanggil, mengisi ceramah dalam rangkaian Maulid Nabi Muhammad Shallalahu ‘alaihi wa sallam di Desa Bowongso Kecamatan Kalikajar Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah (Jateng), Ahad (19/1/2014).
Dia berceramah jam  22.00 – 24.00 WIB dengan kondisi jamaah yang menyimak dengan tertib, tidak ada gangguan sama sekali. Sehingga panitia tidak melakukan pengawalan terhadap Kyai Syihab saat meninggalkan tempat pengajian.
“Saya ngisi pengajian itu dari jam 10 sampai jam 12 malam dan berlangsung lancar dan aman. Setelah saya minum dan makan jamuan yang disediakan panitia bersama para kyai dan ulama disitu, maka sayapun pamit pulang hanya ditemani sopir saya Sudibyo (45) dan salah satu ikhwan bernama Faizin (23),” tutur Kyai Syihab lansir Kompasislam Rabu (22/1/2014).
Namun, baru sekitar 1,5 kilometer perjalanan pulang dari tempat pengajian, mobil Toyota Kijang B 403 XF yang dinaiki pengasuh Ponpes Al-Hadits Wonoboyo Temanggung itu dihadang dan dihentikan paksa oleh massa yang mengenakan atribut Banser NU yang berjumlah sekitar 400 orang.
Kyai Syihab menambahkan, saat itu komandan Banser NU Wonosobo yang mengaku bernama Antok yang memimpin dan mengkoordinir massa, langsung menurunkan paksa dirinya dan dua orang yang mendampinginya. Tanpa basa-basi, sekitar 20 orang mengeroyok dan menganiayanya dan merusak mobilnya.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun redaksi islamlagi.com, kejadian itu dipicu adanya isi ceramah Kyai Syihab,  pada malam itu  yang membuat geram beberapa orang pro maksiat. Dalam pengajian yang dimulai pukul 22.00 WIB itu, beliau mengajak warga untuk memerangi kemaksiatan dengan membentuk FPI karena satu-satunya daerah di Jateng yang belum ada FPI yaitu di Wonosobo.
Selanjutnya, hasil tim investigasi FPI Temanggung di Bandungan Semarang, menemukan adanya pelaku dan pendukung maksiat yang memakai atribut GP Ansor. Beliau juga menyampaikan ketidaksetujuan sikap Banser Nahdlatul Ulama (NU) dalam pengamanan gereja saat Hari Raya Natal.
Terkait hal itu, Kapolres Wonosobo, AKBP Agus Pujianto, menjelaskan bahwa peristiwa itu kemungkinan besar dipicu oleh isi ceramah, sehingga menyulut emosi Banser.
“Sehingga, timbul kejadian ini. Kami kemarin melakukan pengamanan dengan membawa korban ke mobil patroli dan mendapat visum karena terluka,” katanya.
Pihaknya sejauh ini mengaku telah memeriksa enam orang terdiri dari lima saksi dan korban. Agus mengaku masih mendalami dan menyelidiki kasus ini.
“Untuk penetapan tersangka, nanti kami melihat hasil pengembangan. Kita tetap proses hukum, dan melihat perkembangan lebih lanjut. Kalau ada perdamaian, kita siap menjadi mediator,” paparnya.
Sedangkan untuk antisipasi pengamanan aksi susulan, pihaknya meminta bantuan satu peleton Brimob Kutoarjo dan mengerahkan satu kompi Dalmas Polres untuk berjaga-jaga di perbatasan. Hal tersebut, ujar dia untuk mencegah adanya mobilisasi massa.  (azm/arrahmah.com)
Komentarku ( Mahrus ali): 
Kisah diatas mengingatkan saya kepada kisah Banu Israil yang sampai hati membunuh  para nabinya dan mengangungkan ulama – ulama jahat yang anti tuntunan para nabi itu dan pro kepada  tradisi masarakat yang jelas bertentangan dengan tuntunan. Lihat ayat sbb:
إنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَيَقْتُلُونَ الَّذِينَ يَأْمُرُونَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
  Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memamg tak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yg pedih. Ali imran 14

Rabu, 04 Desember 2013

Ratusan Masjid NU Terancam Paham Radikal


REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Ratusan masjid milik ormas keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) atau masjid yang dikelola warga NU di Jawa Timur terancam disusupi paham radikal.

"Modus pengambilalihan itu bermacam-macam, mulai mencoba menyusup menjadi pengurus takmir, sampai memaksakan paham lain agar dianut di masjid NU itu," kata Ketua PW Lembaga Takmir Masjid NU (LTMNU) Drs KH Fuad Anwar MSi di Surabaya, Jumat (29/11) malam.

Data PW LTMNU mencatat masjid-masjid NU yang terancam itu rata-rata di kota besar, seperti Surabaya, Sidoarjo, Malang, Jember, dan Madiun. "Awalnya, mereka menjadi makmum di shaf terdepan, lalu menjadi tukang azan dan lama-kelamaan masuk menjadi pengurus takmir, kemudian mempengaruhi agar tidak pakai qunut," katanya.

Selanjutnya, shalat tarawih minta "diskon" dan beduk pun hilang. "Lama-lama masjidnya yang hilang," kata mantan Ketua Umum LPSNU Pagar Nusa Pusat itu. Menurut dia, kondisi itu tidak bisa dibiarkan agar ancaman itu tidak menjadi kenyataan, maka pengurus PC LTMNU se-Jatim pun dikumpulkan dalam rapat koordinasi (Rakor) di kantor PWNU Jatim.

"Rakor dibuka oleh Ketua PWNU KH Mutawakkil Alallah dan dihadiri Ketua LTMNU Pusat, Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Roziqi, dan ketua-ketua PC LTMNU se-Jatim," katanya.

Mantan Sekretaris PWNU Jatim itu mengatakan salah seorang narasumber rakor adalag Ketua Aswaja Center PWNU Jatim KH Abdurrahman Navis Lc. "Salah satu misi LTMNU adalah 'salamatan fiddin' yaitu menyelamatkan masjid NU dari rongrongan paham Islam transnasional atau paham lain di luar paham Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja) yang dianut NU," katanya.

Ia menambahkan misi LTMNU lainnya agar masjid NU menjadi "maghfirah bakdal maut" dengan memantapkan kebiasaan tahlil dan yasinan sehingga warga yang sudah mati terus menerus mendapat ampunan.


Redaktur : Dewi Mardiani

Sumber : Antara

Komentarku ( Mahrus ali): 
Tokoh – tokoh ahli bid`ah itu tidak terasa bahwa mereka menghalangi tegaknya sunnah Rasulullah SAW, mereka menegakkan kebid`ahan yang menyelisihi tuntunan Rasulullah SAW. Pada hal  dalam kebid`ahan banyak kesyirikan, dan  sunnah ditegakkan semata untuk menjunjung tauhid dan menginjak syirik. Apakah  mereka  kurang paham – duh kasihan sekali – bukan saya benci – bahwa mereka beragama  bukan untuk tegaknya ajaran Quran dan hadis tapi fanatisme  kepada  ajaran golongan  yang keliru. Maklum  setan sudah menghiasi hati dan pikiran mereka bukan dalil  tapi hawa nafsu. Ingatlah firmanNya:
وَعَادًا وَثَمُودَ وَقَد تَّبَيَّنَ لَكُم مِّن مَّسَاكِنِهِمْ ۖ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَكَانُوا مُسْتَبْصِرِينَ
Dan (juga) kaum 'Aad dan Tsamud, dan sungguh telah nyata bagi kamu (kehancuran mereka) dari (puing-puing) tempat tinggal mereka. Dan syaitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang berpandangan tajam, Ankabut 38

Selasa, 11 Juni 2013

UTUK APA NU DIDIRIKAN???

UTUK APA NU DIDIRIKAN??? Kalau anda...
Nukitab Salafiwahabi 11 Juni 13:10
UTUK APA NU DIDIRIKAN???
Kalau anda menyampaikan jawaban atas pertanyaan diatas dengan mengutip jawaban dari ASWAJA (salafi, md, persis, al irsyad, HTI, DDII, PAN, PKS, dll yang oleh AsWaJa ALA NU dikatakan WAHABI, MAKA SUDAH PASTI NU (ASWAJA ALA NU) akan menolak mentah2.
maka carilah referensi yang keluar dari tokoh idola NU sendiri (ASWAJA ALA NU) Yang sudah pasti membuat mereka bungkam.
Berikut saya kutipkan perkataan
SEORANG TOKOH IDOLA ASWAJA ALA NU.
1. seorang Profesor Doktor yang kepintarannya oleh AsWaJa ALA NU dikatakan tiada tandingan (sekalipun di sandingkan dengan prof, Dr. Amin Rais)
2. Dianggap maksum Oleh banyak orang AsWaJa ALA NU
3. Dianggap WALIYULLAH

Beliau tidak lain adalah Prof, Dr. KH. ABDURRAHMAN WAHID yang lebih ngetop dengan sebutan GUS DUR

Karena itu SETELAH ASWAJA ALA NU MEMBACA KUTIPAN PERKATAAN BELIAU dengan jantan berani menambahkan kata ALA NU setelah Akronim AsWaJa

“Ahli Sunnah Wal Jama’ah Ala NU “

BERIKUT KUTIPANNYA…..
BACA BAIK-BAIK

NU dan Peranan Kesejarahannya.
“Kebanyakan penulis sejarah kita sering kurang adil dalam menilai NU.
Umumnya (yang sekarang dikatakan wahabi. Red) mereka menganggap organisasi ini (NU) hanya sebagai reaksi belaka terhadap sesuatu yang lain. Ia (NU) lahir untuk ‘menghadapi’ organisasi yang mencanangkan pembaharuan, seperti Muhammadiyah.
Mengherankan juga, sebuah organisasi lahir hanya sebagai reaksi adanya organisasi lain belaka. Seolah-olah tidak punya peranannya sendiri, tidak punya keabsahannya sendiri (ini istilah yang salah kaprah. Keabsahan datang dari kata Arab afshahiyah artinya kefasihan menyebut suatu kata. Padahal maksudnya shihhiyyah, kesahan dan ketetapan dalam arti, status dan maksud sesuatu).
NU bermula dari gelora semangat Kiai Abdul wahab Hasbullah untuk berorganisasi. Di Mekah, tahun 1913, ia sudah menjadi sekretaris Sarekat Islam cabang Makah (Ketua Kiai Asnawi Kudus). Pulang ke Jawa, hanya beberapa tahun di kampung kelahirannya, Tambak Beras di Jombang. Lalu ke Surabaya, tempat kakeknya di Kertopaten. Sehari-hari nongkrong di tempat perkumpulannya para tokoh pergerakan di Surabaya. Cokroaminoto dan Kiai Mas Mansur adalah teman berkumpulnya. Wajarlah kalau ia ketularan ‘demam organisasi’ dari kawan-kawannya itu. Ketika ia harus memperjuangkan mempertahankan praktek fahamnya dalam beribadah haji di Mekah dari penghapusan oleh penguasa baru di Tanah Suci, wajar sekali kalau ia lalu melakukan tugas itu dengan cara mengorganisasi kekuatan golongannya sendiri.
Bahwa NU lahir bukan karena untuk menghadapi organisasi lain jelas terlihat dari pendekatannya kepada para penguasa Saudi Arabia waktu itu. Mereka adalah dari kelompok pembaharuan, namun NU didirikan justru untuk berunding dengan mereka tentang masalah di atas. Berhubungan baik-baik, dengan mengakui hak hidup mereka sebagai sesama muslimin. Kalau lahir sebagai reaksi terhadap pembaharuan, tentunya bersikap konfrontatif terhadap pemerintah Saudi Arabia. Dari lahirnya hingga saat ini (1984) ternyata NU tidak pernah bersikap begitu.
Memang NU diisi oleh para Kiai. Dan bukan Kiai yang sering berdebat dengan pihak lain. Terlibat dalam dialog yang terkadang pahit dengan kaum pembaharu. Dan itu akan tetap ada, tetapi NU sebagai organisasi tidaklah lahir dan hidup hanya untuk bertentangan dan berdebat.
NU ada karena sesuatu yang lain, yaitu mewujudkan tradisinya sendiri, mencapai cita-citanya sendiri. Ia ditaqdirkan ‘bernasib’ harus memperjuangkan faham Ahlus Sunnah wal Jama’ah menurut versinya sendiri.
Berfaham Ahlus Sunnah wal Jama’ah menurut versi sendiri itu tidak berarti harus bertentangan dengan orang lain. Memang jelas berbeda dari versi-versi orang lain, tetapi tidak harus bertentangan. Kalau meminjam istilah yang dipopulerkan Kruschov, itu dedengkot Komunis, ‘hidup berdampingan secara damai’. Kalau Komunis dan Kapitalis bisa begitu, apalagi sesama Muslimin.
Tugas kesejarahan ini sangat penting untuk diingat. Ia menentukan watak sesuatu organisasi seperti NU, yang kebetulan punya warga begitu banyak. Ada dimensi politiknya, dimensi sosial budayanya, dimensi pendidikannya, dan begitu seterusnya. Tugas memperjuangkan faham Ahlus Sunnah wal Jama’ah juga begitu. Tidak dapat dipersempit hanya pada satu bidang garapan saja. Atau dengan satu pola perjuangan saja. Pola perjuangan di satu bidang juga tidak dapat dibatasi hanya pada satu agenda belaka. Juga hanya dengan ‘kawan seperjuangan’ yang satu saja.
Karenanya, patut dipertanyakan mengapa NU selama ini hanya menekankan perjuangan politik belaka. Itupun hanya melalui pola perjuangan politik institusional, yang sering disebut politik praktis (padahal ia tidak praktis, karena sering menimbulkan kesulitan). Itupun hanya dengan kawan seperjuangan yang satu saja, yaitu PPP (Partai Persatuan Pembangunan, pen). Kalau NU besar, ia harus memakai jalur ganda dalam perjuangannya. Beragam lapangan perjuangannya, tekanan terpenting justru di bidang-bidang kekuatannya sendiri: pendidikan, dakwah, kesejahteraan masyarakat, komunikasi. Tidak lupa kerja-kerja sosial ekonomis, karena inilah kepentingan jumlah terbesar warga NU sebenarnya, karena kebanyakan mereka masih miskin dan terbelakang.
Secara nasional, NU juga punya tugas kesejarahan penting. Di satu pihak, ia harus melibatkan diri dalam upaya menegakkan sistem pemerintahan yang secara bertahap semakin membaik, menuju demokrasi penuh. Titik itu harus dicapai guna terwujudnya masyarakat adil dan makmur. Kerja itu diletakkan dalam kerangka turut melaksanakan GBHN. Di pihak lain, fungsi tersebut harus didukung oleh peranan untuk lebih mematangkan integrasi nasional yang telah dicapai. Peranan ini berbentuk upaya mencapai titik penuh dalam sikap saling mengerti, saling menghormati, dan saling tenggang rasa dengan golongan lain. Berlainan keturunan etnisnya, bahasanya, agamanya, budayanya, faham politiknya dan seterusnya seharusnya tidak membawa pertentangan dalam kehidupan bangsa. Boleh berbeda, tetapi hidup berdampingan secara damai.
Hanya dengan sayarat tercapainya itu semua integrasi nasional kita dapat dipertahankan. Dan hanya mempertahankan integrasi nasional kita dapat mewujudkan cita-cita kemerdekaan sepenuhnya di kemudian hari.
NU lahir untuk mempertahankan suatu faham, namun sejak lahir ia telah bertradisi hidup bersama faham-faham lain, dan organisasi yang berbeda dari dirinya. Patutlah kalau ia berperanan besar dalam mepertahankan dan mematangkan integrasi nasional kita.
3.10. 1984.”
(Harian Pelita, Jakarta, Sabtu 6/10 1984, halaman I).

Jadi sekarang jelas “untuk Apa NU didirikan?”
Jelas juga sekarang “Kenapa NU berbeda?” dengan As Wa Ja yang lain seperti Muhamadiyah, Persis, Salafi, Al Irsyad, DDII, dll yang oleh As Wa Ja ALA NU di STEMPEL WAHABI.

Wallahu a’lamu bishawab

Koreksi kalau sala

Senin, 15 April 2013

Katib PBNU: Indonesia Untung Punya Pesantren dan NU

Demak, NU Online
Sebagai lembaga pendidikan, pesantren merupakan lembaga tertua yang dimiliki Nahdlatul Ulama, ia sebagai pencetak kader bangsa dan merupakan gudangnya ilmu pengetahuan dan ilmu agama sejak zaman penjajahan hingga Indonesia merdeka seperti sekarang,

“Pesantren itu lembaga paling tua dalam pencetak kader akhlaq anak bangsa mulai merebut kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan.” 

Demikian disampaiakan Katib Syuriyah PBNU KH Muhammad Musthofa Aqil dari Kempek Cirebon Jawa Barat pada acara haflah khotmil Qur’an dan haul akbar KH Raden Muhammad bin Syech Mafduz At - Tarmasie di pesantren Busytanu Usyaqil Qur’an Betengan Demak Jl.Sunan Kalijaga no.35 Betengan Demak 59511, Sabtu (13/4).

Pengasuh pesantren Al-Gadzier Kempek Cirebon tersebut lebih lanjut menandaskan bangsa Indonesia sudah sewajarnya berterima kasih dengan pesantren dan pengelola yang masih mempertahankan sistem pendidikan Ahlussunnah wal Jamaah yang selalu berpedoman dengan Al Qur’an, sunnah Rasul serta salah satu imam empat sebagai acuan beraqidah sebagai pedoman orang orang NU

“Bangsa Indonesia dan umat muslim secara keseluruhan harus bersyukur masih ada pesantren masih ada Alqur’an masih ada NU,” tandas kiai Musthofa Aqil.

Pesantren dan NU merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan sejak berdirinya lembaga ini dan munculnya organisasi Aswaja tersebut dan jikalau ditengok dengan lahirnya para syuhada atau pejuang kemerdekaan banyak lahir dari pesantren di seluruh tanah air

“Kalau tidak ada pesantren dan NU maka rusak tatanan hidup bangsa ini, bahkan mungkin Indonesia belum merdeka,” tambahnya.

Redaktur     : Mukafi Niam
Kontributor : A.Shiddiq Sugiarto






Komentarku ( Mahrus ali): 
Kebanyakan pesantren di Indonesia adalah pesantren ahli bid`ah bukan pesantren ahlis sunnah, selalu pakai madzhab Syafii, bukan langsung mengacu kepada al Quran dan hadis. Dan anda tahu pendiri madzhab sendiri melarang kepada manusia untuk mengikuti madzhab atas nama dirinya. Bermadzhab menurut kami adalah melanggar ayat ini:

      وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ            مَسْئُولا
               Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui dalilnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. ( Al isra` 36 ).

Ingin tahu bermadzhab haram klik disini:




Jumat, 12 April 2013

Agus Sunyoto: Sejarah Selawat Badar Dipelintir

Jakarta, NU Online
Sejarah Selawat Badar dalam tayangan televisi sudah dipelintir. Pihak pengelola media komersial sudah mengabaikan hak warga dalam menerima kebenaran informasi-informasi yang ditayangkan terutama perihal keagamaan. Karena, urusan agama ini sangat sakral.


Demikian dikatakan oleh Wakil Ketua Pimpinan Pusat Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (PP LESBUMI) Agus Sunyoto kepada NU Online, di kantor PBNU, Jalan Kramat Raya Nomor 164, Jakarta Pusat, Jumat (12/4) pagi.

“Selawat Badar diciptakan pertama kali di tahun 1960an. Ini namanya pembodohan!” kata Agus Sunyoto dengan geram setelah menyaksikan tayangan program Khazanah di stasiun Trans 7 pagi ini.
Dalam tayangan program itu, lanjut Agus Sunyoto, sebuah narasi berkata bahwa seorang kiai dalam mimpinya berjumpa dengan habib berjubah hijau yang tengah mengumandangkan Selawat Badar. Sementara istri sang kiai dalam mimpinya bertemu dengan Rasulullah SAW.
Setelah terjaga, kiai itu mendatangi seorang habib yang memiliki pandangan ghaib. Habib itu mengakui mimpi kiai dan istrinya, sambung Agus Sunyoto. Karenanya, Selawat Badar yang diimpikan kiai itu perlu diamalkan untuk mengobarkan semangat umat Islam dalam mengatasi propaganda-propaganda Partai Komunis Indonesia (PKI). Padahal Selawat Badar sudah dikumandangkan umat Islam sejak ratusan tahun silam.
Konten tayangan seperti itu memang tidak digarap dengan serius. Pengelola media komersial, memang tidak memperhatikan validitas konten tayangan. Mereka hanya berpikir tayangan itu menarik pemirsa, tegas Agus Sunyoto.
Agus mengatakan, penanggung jawab redaksi tayangan itu harus ditegur karena keabaiannya. 
Karenanya, warga NU, umumnya umat Islam perlu mewaspadai nilai-nilai keislaman termasuk pemutarbalikan sejarah Islam yang ditayangkan di stasiun televisi. Karena, kebenaran nilai-nilai keislaman yang ditayangkan di dalamnya tidak sesuai dengan sejarah Islam yang sebenarnya, tandas Agus Sunyoto sambil pamit meninggalkan Jakarta menuju kediamannya di Malang.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Komentarku ( Mahrus ali ) :


Tidak semua pernyataan Bapak Agus Sunyoto itu benar,ada kesalahannya. Untuk mengetahui sejarah shalawat Badar, klik disini:
http://mantankyainu.blogspot.com/
 

Senin, 08 April 2013

Tokoh golongan menghancurkan Islam bukan membangunnya

Jakarta, NU Online
Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Adnan Anwar meminta supaya warga NU berhati-hati kepada manuver politik simbolik seperti yang dilakukan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Adnan mengatakan hal itu dalam menanggapi Presiden PKS, Anis Matta yang berziarah dan tahlilan ke makam Sunan Kalijaga pekan ini.

Ia menilai Anis Matta, lulusan Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA), sebuah lembaga di bawah naungan Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud Riyadh Saudi Arabia melakukan manuver politik.

“Itu politik pengelabuan!” tegas Adnan di gedung PBNU, Jakarta, Rabu, (3/4).

Adnan menambahkan, politikus PKS itu melakukan amalan warga NU, tujuannya hanya meraih simpati dan mendulang suara di saat citra PKS rusak. Karena partai yang mengaku islami tersebut dilanda skandal korupsi yang melibatkan presiden partainya.

Lebih jauh Adnan mempertanyakan sikap PKS yang menolak asas Pancasila. Simak saja suara mereka dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) Ormas di DPR.

Di akhir pernyataannya, Adnan kembali meminta warga NU kalau memilih partai harus memahami prinsip, kebijakan, dan sejarahnya. Jangan sampai dikelabui partai yang ternyata malah membidahkan amalan-amalan Ahlusunnah wal-Jamaah.

Penulis: Abdullah Alawi




Komentarku ( Mahrus ali): 
Nah begitulah bergolong – golong yang hanya menghancurkan Islam bukan membangunnya, membikin perpecahan bukan mempersatukan, membikin permusuhan bukan membikin simpati. Tokoh – tokoh golongan kayaknya memperjuangkan Islam, hakikatnya memperjuangkan kekufuran dan mengancurkan Islam, memberikan ruang bagi kekufuran untuk menusuk Islam dari perpecahan lalu diberi semangat untuk  fanatisme golongan yang akan menguntungkan kekufuran dan merugikan Islam, membikin permusuhan yang sangat antara golongan lalu simpati dengan kristen. Tepatlah bila dikatakan berormas adalah syirik, lihat ayat:
مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ(31)مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ(32)وَإِذَا مَسَّ النَّاسَ ضُرٌّ دَعَوْا رَبَّهُمْ مُنِيبِينَ إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا أَذَاقَهُمْ مِنْهُ رَحْمَةً إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ(33)
dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. Rum


Rabu, 27 Maret 2013

Serangan atau masukan baik

Jember, NU Online
Gerakan-gerakan kelompok yang menyudutkan NU dan amaliahnya tak akan pernah berhenti. Namun NU tidak perlu menghabiskan energi untuk melayani “serangan” kelompok kontra NU itu.

Demikian dikemukakan Rais Syuriyah PCNU Jember, KH Muhyiddin Abdusshomad saat memberi pengarahan dalam pelantikan MWCNU Ledokombo di lapangan Suren Dampar, Ledokombo, Senin malam (25/3).

Menurut Kiai Muhyiddin, dewasa ini kelompok-kelompok yang secara ideologi berseberangan dengan NU, sudah mulai berani terang-terangan menyerang amaliah NU, dan mereka masuk ke kantong-kantong NU, termasuk di pedesaan.

“Inilah salah satu tugas pengurus MWCNU, yaitu memperkuat dan memperkokoh keyakinan waga agar tak terpengaruh oleh propaganda mereka,” tukasnya.

Kendati demikian, lanjut Kiai Muhyiddin, para pengurus MWCNU tidak perlu menghabiskan energi untuk mereka. Sebab, masih banyak tugas lain yang harus ditunaikkan olah para kiai dan pengurus MWCNU.

“Kita perlu memakmurkan masjid, melayani kebutuhan umat sekaligus memberikan pencerahan. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana kita berupaya untuk meningkatkan perekonomian warga Nahdliyyin,”  ucapnya.

Pelantikan itu sendiri dilakukan oleh Kiai Muhyiddin di depan sekitar 5000 hadirin yang memaditi lapangan Suren Dampar. Selain Kiai Muhyiddin, hadir juga Sekretaris PCNU Jember, KH. Misbahussalam dan para pengasuh pesantren di Jember bagian timur. Sedangkan Ketua PCNU Jember, KH. Abdullah Syamsul Arifin tidak hadir karena mengisi pengajian di luar kota.

Dalam susunan kepengurusan yang baru dilantik tersebut, Ali Rahmatullah tercatat sebagai ketua, sedangkan posisi sekretaris dan bendahara ditempati oleh Ali Muhsin dan Jaya Wardi. Di jajaran Syuriah, KH. Kholili Abd. Mannan sebagai rais dan Miftahul Arifin Hasan di posisi Katib.

Secara terpisah, Ali Rahmatullah menegaskan bahwa ke depan pihaknya akan berusaha memanfaatkan pertemuan lailatul ijtima’ untuk berbagai agenda. “Termasuk soal ekonomi warga,” tukasnya kepada NU Online.

Redaktur    : A. Khoirul Anam
Kontributor: Aryudi A. Razak




Komentarku ( Mahrus ali): 
Tugas kita ini amar ma`ruf, bukan memerintah kebid`ahan dan kesyirikan lalu melarang tuntunan Nabi SAW dan ketauhidan. Jangan menuduh serangan atas nasihat kami tapi anggaplah masukan baik. Karena itu, kita dalam melaksanakan amar ma`ruf ini tidak terarah kepada salah satu golongan, tapi kepada kafir atau muslim. Terimalah nasihat baik dan jangan menolaknya nanti akan merugi sendiri didunia  dan diakhirat dan tidak akan laba di keduanya. Ingatlah firmanNya:
الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَءَاتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ(41)
(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma`ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. Al haj.

Minggu, 17 Maret 2013

NU tulen

Seorang kawan berseloroh, “Seandainya tidak ada NU mungkin saya tidak beragama Islam.” Saya mengamini selorohannya itu. Dan bukan omong kosong bahwa penganut-penganun agama lain semisal selain Islam, juga Kejawen, Sunda Wiwitan, pada betah duduk dengan Nahdliyin, meski tentu saja, ada kekecualian.
Ya, saya memang lahir dari keluarga santri. Bapak saya menghabiskan hampir seluruh waktunya menjadi “cantrik” Mbah Kiai Asyhari Lempuyangan, menjadi kurir pengantar bekal nyantri putranya, yaitu Daliri muda, selama jadi santri di satu pesantren di Jawa timur. Bahkan ketika Daldiri muda Mbah Asyhari diganti, dan mulai disebut kiai haji, bapak saya masih menyempatkan waktu untuk mengabdi di Lempuyangan. Sederhana, sekedar menghadiri acara “Sewelasan” yang dihelat pesantren tiap tanggal sebelas dalam penanggalan Hijriyah.

Sejak kecil saya tinggal di ujung Bantul yang kental tradisi kenuannya, mulai dari tahlilan, kenduri, dziba’an dan nyadran. Mulanya saya biasa saja dengan sederat tradisi keagamaan tersebut. Biasa, karena memang begitu akrab, dan sepertinya tradisi-tradisi keagamaan itu pemberian yang tidak bisa ditolak.

Samun, saat saya ikut pindah ke kota Jogjakarta di mana ayah saya berdomisili, yang kental dengan Islam ala Modernis nan puritan, saya baru sadar, betapa pentingnya tradisi-tradisi keagamaan di dusun saya itu. Saat itu pula, saya mulai membayangkan bahwa tradisi Islam ala NU, Aswaja, Islam yang hidup di kampung saya, adalah 'bentuk' yang penting dan sekaligus 'isi' kabudayan yang amat dibutuhkan. Pada saat itulah, saya sadar, bahwa NU memang menjadi kebutuhan hidup keberagamaan dan kemasyrakatan saya, bahwa mencintai NU itu memang kebutuhan, bukan sekedar keturunan.

Saat tinggal di kota Jogja, rasanya hidup harus terus memandang ke depan. Saya melihat tetangga-tetangga yang hidupnya tidak boleh 'belok' kanan-kiri, tidak boleh ambil 'jalan lain', apalagi belok dan ambil jalan lain, nengok saja langsung dicap bid'ah kok. Saya tidak yakin, pikiran dan hati lurus selurus-lurusnya. Hati tak mungkin menerima kondisi yang demikian, juga pikiran.

Hidup dengan karunia alami menjadi kreatif adalah proses untuk melahirkan hal-hal baru, juga kreasi-kreasi baru yang tak sembarangan bisa dikungkung oleh aturan yang kemudian memunculkan wacana bid’ah, kurafat dan lain sebagainya.

Menjadi kreatif, dalam eksistensinya bisa jadi menjelma sebagai seorang penyair, penulis, perupa, perajin dan hal-hal lain yang memaksimalkan kreativitas. Pilihan 'menjadi NU' akhirnya betul-betul dengan kesadaran penuh. Sebab, NU mengakomodasi itu semua, menganjurkan kreativitas, termasuk dalam ibadah yang sakral itu dan pada saat yang sama, NU menjadikan kabudayan bukan hal yang main-main.

NU tanggap memberi ruang pada jamaahnya untuk kreatif dalam beribadah.

Saat sedekah menjadi hal yang utama dengan pahala utama pula, memberi “makan” lewat kenduri dalam ritual tahlilan adalah karya seni yg bernilai budaya tinggi. Bisa dibandingkan dengan apa yang marak saat ini dilakukan oleh anak-anak anarki, yaitu membagi makanan gratis dalam  event “food not bomb.” Kenduri atau “kenduren” lebih dulu hadir dengan kemasannya yang lebih merakyat dan bernilai ibadah. Jadi, kalau pilihannya pun ingin jadi anarki, Nahdliyin kurang 'anarki' apa coba.

Lebih nyaman lagi, khusus buat saya, menjadi NU di jalanan itu, rasa-rasannya paling sempurna NU-nya. Menjadi NU secara jamaah di jalanan itu membuat saya merasa NU 100%, karena kreatifitasnya 100%. Saya lebih nyaman menjadi jamaah saja, yang lekat dalam suasana beragama yang berbudaya. Bahkan dalam keyakinan saya, agama itu ya, laku budaya.

Meskipun demikian, saya sangat setuju jika NU secara jamiyah (organisasi) memliki institusi-institusi yang diperlukan guna memperkuat nilai kebudayaan NU dari dalam. Dengan begitu, NU dapat menjadi saluran ekspresi para budayawan dan seniman yang kreatif. Ini amat penting dalam rangka menyediakan banyak ruang dan jalan menjadi NU. Dan di sinilah NU harus menjadi rumah yang nyaman buat para seniman-seniman yang beraneka ragam minat dan garis perjuangannya, bukan saja beraneka ragam model rambut, jenis pakaian, bahkan hingga tatonya. NU harus dapat menggaransi bahwa seni dan budaya harus memiliki ruang yang lapang untuk kreativitas, yang seringkali liar, liar seliar-liarnya. Coba, kurang apa liarnya tradisi tahlilan, tradisi uang shalawat, dan masih banyak lagi.

Dan contohnya sudah ada, dan lebih banyak dari yang kita tahu. Dalam NU tumbuh pemikir-pemikir ajaib, mulai dari Mahbub Djunaidi, Gus Dur, Gus Mik, sampai Gus Mus yang pernah menghentak dengan lukisan 'Dzkir Bersama Inul'. Padahal mereka semua santri dan Nahdliyin tulen setulen-tulennya.

Penulis adalah Rahman Seblat. Ia berprofesi sebagai perupa, pernah nyantri di Pesantren Krapyak Jogjakarta, alumni ISI Jogjakarta, tinggal di Depok, Jawa Barat.



Komentarku ( Mahrus ali): 
Satahu saya, profesi perupa itu tidak diperkenankan, bukan diperintahkan atau diperbolehkan. Lihat hadis sbb:
عَنْ أَبِي الْهَيَّاجِ اْلأَسَدِيِّ قَالَ: قَالَ لِي عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ: أَلاَ أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنْ لاَ تَدَعَ تِمْثَالاً إِلاَّ طَمَسْتَهُ, وَلاَ قَبْرًا مُشْرِفًا إِلاَّ سَوَّيْتَهُ .حَدَّثَنِي حَبِيبٌ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ,وَقَالَ: وَلاَ صُورَةً إِلاَّ طَمَسْتَهَا .
Abul Hayyaj Al asadi berkata : “ Ali bin Abu  Tholib ra berkata kepadaku : “ Aku mengutus kamu sebagaimana   Rasulullah  saw,   mengutus aku , bila ada  patung  hancurkan , bila ada kuburan yang tinggi ratakan dengan tanah .  Menurut  riwayat lain dengan sanad sama  ada tambahan :  Bila ada gambar  , hapuslah HR Muslim  969
Klik lagi disini:
 

Selasa, 12 Maret 2013

Srikandi Pejuang NU

Di dunia pewayangan, dikenal seorang wanita tangguh yang bernama Srikandi. Bersama sang suami, Arjuna, keduanya berjuang bersama membela panji Pandawa. Sosok Srikandi itu, rasanya patut kita sematkan pada diri Umroh Machfudzoh, ketua Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) yang pertama.

Jalan cerita Umroh bersama sang suami, KH Tolchah Mansoer, sekilas mirip kisah Arjuna-Srikandi. Hanya saja pada waktu itu, keduanya bukan membela panji Pandawa, melainkan panji pelajar putera-puteri NU (IPNU-IPPNU). Di organisasi itulah mereka bertemu, berjuang bersama, dan akhirnya meneruskan menuju ke jenjang pelaminan.

Umroh Lahir di Gresik 4 Februari 1936 M dari pasangan KH Wahib Wahab (Menteri Agama ke 7 yaitu  1958 - 1962) dan Hj Siti Channah. Beliau adalah cucu dari KH Abdul Wahab Hasbullah (pendiri NU dan Rais Aam PBNU 1946 - 1971). Sebagai cucu pendiri NU, masa kecil Umroh banyak dilalui di lingkungan pesantren, khususnya pada masa liburan yang banyak dihabiskan di Tambak Beras, Jombang, tempat kelahiran ayahnya.

Sebagai anak sulung dari lima bersaudara, sejak kecil Umroh dididik untuk bisa hidup mandiri. Umroh mengawali pendidikan dasar di kota kelahirannya. Sempat berhenti sekolah hingga tahun 1946 karena clash II, Umroh kemudian melanjutkan ke MI NU di Boto Putih, Surabaya. Hasrat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah menengah sekaligus mewujudkan impian merantaunya terpenuhi ketika diterima sebagai siswa SGA (Sekolah Guru Agama) Surakarta.

Ketika partai-partai politik meluaskan sayapnya pada pertengahan 50-an, Umroh mulai menerjunkan diri sebagai Seksi Keputrian Pelajar Islam Indonesia (PII) -organisasi pelajar afiliasi partai Masyumi- ranting SGA Surakarta. Namun, sejak berdirinya NU sebagai partai politik sendiri tahun 1952, Umroh mulai berkenalan dengan organisasi-organisasi di lingkungan NU.

Sembari mengajar di Perguruan Tinggi Islam Cokro, Surakarta, Umroh yang nyantri di tempat Nyai Masyhud (Keprabon Solo) mulai menerjunkan diri sebagai wakil ketua Fatayat NU Cabang Surakarta. Semangat Umroh yang menyala-nyala membawa pada kesadaran akan perlunya sebuah organisasi pelajar yang khusus menghimpun putra-putri NU.

Membidani Lahirnya IPPNU

Di mata kader IPPNU saat ini, Umroh merupakan sosok wanita inspiratif . “Beliau adalah inspirator bagi kami. Beliau adalah kebanggan kami,” kata Margaret Aliyatul, ketua IPPNU periode lalu kepada NU Online, saat wafatnya Umroh tahun 2009 lalu.

“Ini adalah hal yang luar biasa karena kondisi pada saat itu pasti lebih sulit dibandingkan saat ini, dan beliau bisa merealisasikan pendirian organisasi pelajar puteri dan kemudian berkembang menjadi organisasi nasional. Beliau adalah perintis dan kami tinggal melanjutkan saja,” lanjutnya.

Berdirinya IPNU yang khusus menghimpun pelajar-pelajar putra pada awal tahun 1954, memang tak lepas dari perjuangan Umroh dan kawan-kawan untuk membuat organisasi serupa khusus untuk para pelajar putri. Gagasannya dituangkan lewat diskusi intensif dengan para pelajar putri NU di Muallimat NU dan SGA Surakarta yang sama-sama nyantri di tempat Nyai Masyhud. Kegigihan Umroh memperjuangkan pendirian IPNU-Putri (kelak berubah menjadi IPPNU) membawanya duduk sebagai Ketua Dewan Harian (DH) IPPNU. DH IPPNU adalah organ yang bertindak sebagai inkubator pendirian sekaligus pelaksana harian organisasi IPPNU.

Aktivitas di IPPNU yang tidak begitu lama diisi dengan sosialisasi dan pembentukan cabang-cabang IPPNU, khususnya di Jawa. Umroh juga tampil sebagai juru kampanye partai NU pada pemilu 1955. Tidak genap setahun menjabat Ketua Dewan Harian, Umroh meninggalkan Surakarta untuk menikah dengan M. Tolchah Mansoer, Ketua Umum PP IPNU pertama.

Meskipun menetap di Yogyakarta, Umroh tidak pernah melepaskan perhatiannya terhadap organisasi yang ikut dia lahirkan. Kedudukan Dewan Penasehat PP IPPNU yang dipegang hingga saat ini, membuatnya tidak pernah absen dalam setiap perhelatan nasional yang diselenggarakan IPPNU.

Riwayat organisasi Umroh berlanjut pada tahun 1962 sebagai seksi Sosial PW Muslimat NU DIY. Kedudukan ini mengantarkan Umroh sebagai Ketua I Badan Musyawarah Wanita Islam Yogyakarta hingga tahun 1987.

Kesibukan keluarga tidak mengendurkan hasratnya untuk melanjutkan ke Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Pendidikan S-1 diselesaikan dalam waktu enam tahun sembari aktif sebagai Wakil Ketua Pengurus Poliklinik PW Muslimat NU DIY. Sementara itu, perhatian di bidang sosial disalurkan dengan menjabat sebagai Ketua Yayasan Kesejahteraan Keluarga (YKK) yang membidangi kegiatan-kegiatan di bidang peningkatan kesejahteraan sosial di wilayah Yogyakarta.

Berjuang Lewat Parpol

Jabatan Ketua PW Muslimat NU DIY diemban selama dua periode berturut-turut sejak tahun 1975. Kesibukan ini tidak menghalangi aktivitas sebagai Seksi Pendidikan Persahi (Pendidikan Wanita Persatuan Sarjana Hukum Indonesia) dan Gabungan Organisasi Wanita wilayah Yogyakarta. Naluri politik yang tersimpan selama belasan tahun ternyata tidak bisa dipendam Umroh begitu saja. Aktivitas sebagai bendahara DPW PPP mengantarkannya terpilih sebagai anggota DPRD DIY periode 1982-1987.

Karir politiknya terus meningkat dari Wakil Ketua menjadi Pjs. Ketua DPW PPP DIY. Jabatan terakhir ini membawa Umroh ke Jakarta sebagai anggota DPR RI dari FPP selama dua periode. Umroh pernah menjabat sebagai Ketua Wanita Persatuan Pusat, organisasi wanita yang bernaung di bawah PPP. Sebagai anggota dewan, Umroh tercatat beberapa kali mengadakan kegiatan internasional diantaranya muhibah ke India, Hongaria, Perancis, Belanda, dan Jerman.

Domisili di Jakarta memudahkan Umroh melanjutkan aktivitas ke-NU-an sebagai Ketua Departemen Organisasi PP Muslimat NU, berlanjut sebagai Ketua III sampai sekarang. Sempat menikmati pensiun pasca pemilu 1997, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang didirikan oleh Pengurus Besar NU mendorong Umroh terjun kembali ke dunia politik sebagai salah satu anggota DPR RI hasil pemilu 1999.

Sesepuh pendiri Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Hj Umroh Machfudzoh meninggal dunia pada Jumat (6/11/2009) pagi sekitar pukul 06.45 WIB di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Almarhumah meninggal pada usia 73 tahun dan dimakamkan sekitar pukul 15.30 WIB di pemakaman dekat kediaman Komplek Pondok Pesantren Sunni Darussalam, Tempelsari, Manguwoharjo, Sleman, Yogyakarta. (Ajie Najmuddin/red:Anam)
Komentarku ( Mahrus ali): 
Sosok sedemikian ini menurut saya telah menghabiskan waktu, tenaga dan pikirannya untuk kepentingan golongan bukan kepentingan Islam. Perjuangan untuk golongan bukan menguatkan Islam, malah melemahkannya, bukan mempersatukan kaum muslimin tapi mengajak berpecah belah. Dia  tokoh baik menurut golongannya dan jelek menurut golongan lain. Menurut pandangan Islam yang saya ketahui dia termasuk ayat ini:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ(105)
Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai ( berfirqah – firqah, bergolong – golong ) dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,  Ali imran

Sabtu, 09 Februari 2013

Santri Babus Salam Tampilkan Tari Ngremo





Jombang, NU Online
Meski sering diidentikkan dengan kesenian kaum abangan, Tari Ngremo juga ditekuni kalangan pesantren di Kabupaten Jombang.

Santri dari Pondok Pesantren Babussalam Kalibening Mojoagung Jombang menampilkan tarian ini saat pembukaan Pasar Rakyat yang digelar PBNU dan PCNU Jombang di kecamatan Ploso Jombang, Sabtu (9/2).
Tidak berbeda dengan penari Ngremo yang biasa mengiringi kesenian Ludruk, penari yang merupakan santri perempuan ini dengan atribut tari khas jawa Timur tepatnya Jombang ini lemah gemulai menggerakkan tangan dan sekali kali menggertakkan kaki. Hanya satu yang membedakan yakni, karena santriwati mereka tetap menggunakan jilbab sebagai penutup aurat.

“Mereka memang diajar menari di pondok (sekolah lingkungan pondok), dan mereka sudah pernah juara tingkat Jawa Timur,”ujar Gus Salman pengasuh Pesantren Babus Salam yang ikut mendampingi santrinya dengan bangga.

Tari ngremo merupakan tarian khas Jawa Timur dan telah menjadi salah satu budaya bangsa Indonesia. Tari ini berasal dari kesenian ludruk. Tarian ini berasal dari Desa Ceweng kecamatan Diwek, tidak jauh dari tanah kelahiran KH Abdurrahman Wahid Alias Gus Dur.  Di Diwek juga terdapat Pesantren KH Hasyim Asyari yang juga pendiri NU.

Tari Ngremo menurut sejarah diciptakan oleh warga yang berprofesi sebagai pengamen tari di kala itu, memang banyak profesi tersebut di Jombang, kini Tarian ini pada awalnya merupakan tarian yang digunakan sebagai pengantar pertunjukan kesenian Ludruk.

Namun, pada perkembangannya tarian ini sering ditarikan secara terpisah sebagai sambutan atas tamu kenegaraan, ditarikan dalam upacara-upacara kenegaraan, maupun dalam festival kesenian daerah. Tarian ini sebenarnya menceritakan tentang perjuangan seorang pangeran dalam medan laga.

Hadir dalam pembukaan pasar rakyat diantaranya Ketua Tim Umat  Power H Bambang P. Soemardjo, serta wakil bupati Jombang Widjono Soparno, dan sekdakab Munif Kusnan.

“Terimakasih kepada PBNU, Jombang menjadi tempat digelarnya pasar rakyat. Kita minta setiap tahun pasar rakyat seperti ini bisa digelar di Jombang,”ujar Wabup saat membuka kegiatan yang dilanjutkan dengan pemukulan bedug sebanyak sembilan kali.



Redaktur    : A. Khoirul Anam
Sumber: http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,2-id,42413-lang,id-c,daerah-t,Santri+Babus+Salam+Tampilkan+Tari+Ngremo-.phpx

Komentarku ( Mahrus ali)
Setahu saya tari ngremo itu identik dengan kemaksiatan, kedurhakaan bukan ketaatan atau setia kepada ajaran Allah.Ini menggembirakan setan setan manusia dan membencikan Allah. Ini harus diberantas bukan dilestarikan, apalagi yang menampilkannya santri sebagai simbol pelajar Islam bukan pelajar umum. Ini sinyal kemunduran Islam dan kemajuan kekufuran  dan ini tanda kurang pedulinya umat kepada ajaran Allah karena perhatian mereka sudah terfokus untuk mengeruk harta kekayaan duniawi, lupa dengan pahala akherat. Ingat saja dengan ayat:

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ﴿١٩﴾
019. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.  Nor 19.

Selasa, 22 Januari 2013

Kartanu Potong 20% Ongkos Kesehatan




Jakarta, NU Online
Kartu Tanda Anggota NU (Kartanu) memberikan jaminan potongan sebesar 20 % biaya di Rumah Sakit Islam Surabaya bagi siapa saja yang memilikinya. Karenanya, Kartanu memberikan kemudahan bagi anggota NU sendiri.

Perihal ini disampaikan oleh M. Nuh, Mendikbud RI saat memberikan kata sambutan pembukaan Rapat Kerja Nasional 2013 LP Maarif NU di Wisma Syahida Inn, Kampus II UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Senin (21/1) sore.

“Setiap kecamatan di kota Surabaya mendapatkan jadwal khusus yang melayani warga NU yang ingin membuat Kartanu,” kata M. Nuh saat mempresentasikan Pengembangan Kurikulum 2013 Depdikbud RI.

M. Nuh menambahkan, pembuatan Kartanu diawali dengan pendataan pribadi. Untuk administrasi, mereka dikenakan biaya sebesar 8000 saat pembuatan Kartanu. Pembuatan kartu anggota tersebut diliput langsung oleh TV 9, salah satu stasiun televisi lokal Jawa Timur.

Kartu itu suatu saat nanti dapat digunakan untuk meringankan biaya Rumah Sakit Islam yang ada di Surabaya. Materi pendataan kartu tersebut kemudian diolah oleh pengurus NU dan semua rumah sakit Islam yang ada di Surabaya, tambah M. Nuh.

Nuh menegaskan, warga NU yang tidak memiliki Kartanu, saat berurusan dengan rumah sakit Islam, tidak dapat keringanan biaya pengobatan. Karena, data pribadi mereka tidak terdapat dalam arsip yang dikelola oleh pihak rumah sakit maupun pengurus NU setempat.

Perihal pendataan dalam kasus Kartanu di Surabaya, diuraikan oleh M. Nuh dalam rangka pentingnya sebuah kesadaran akan data. Kesadaran akan data, dapat dibangun sejak dini melalui institusi pendidikan, tegas M. Nuh di hadapan peserta Rakernas 2013 LP Maarif.

‘Melek’ akan data, dapat menumbuhkan sikap ilmiah dan kritis. Sebab, mereka yang ‘melek’ data dapat mempertanggungjawabkan dan memberikan rasa aman atas persoalan yang tengah dihadapi, tutup M. Nuh.

Redaktur: Mukafi Niam
Penulis   : Alhafiz Kurniawan
Komentarku ( Mahrus ali): 
Saya dan keluarga saya al hamdulillah bukan inna lillah selama tujuh tahun  tidak pernah pergi ke rumah sakit, namun keadaan saya dan keluarga al hamdulillah sehat wal afiat  bukan sakit dan banyak bahaya. Saya dan keluarga saya tidak mau pergi ke rumah sakit karena di dalamnya banyak kemungkaran bukan ketaatan, dosa bukan pahala. Obat, pil, syrup dan cairan infusnya masih banyak mengandung barang subhat dan haram. Ada yang terbuat pankreas babi, usus babi, jeroan babi, glatin, jeroan kera, biawak dan luwak dll – Ini semua layak menjadi pengobatan  kafirin, munafikin dan musyrikin bukan mukminin yang komitmen pada ajarannya dan bertauhid. Ingatlah firman Allah:

كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَلَا تَطْغَوْا فِيهِ فَيَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبِي وَمَنْ يَحْلِلْ عَلَيْهِ غَضَبِي فَقَدْ هَوَى
Makanlah di antara rezki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia.( Thoha 81)

Minggu, 13 Januari 2013

500 Pendekar Porsigal di Gembleng Aswaja Ala NU

Blitar, NU Online Ratusan pendekar muda Porsigal (Pendidikan Olah Raga Silat Indah Garuda Loncat), Kabupaten Blitar, digembleng faham Ahlussunnah Waljamaah ala NU. Acara berlangsung di Masjid Al-Ma’arif, milik Yayasan Al-Ma’arif Udanawu, Blitar. Ada sekitar 500 peserta yang mengikuti acara malam itu. Mereka adalah para pesilat muda yang baru sekitar 6 bulan bergabung dengan Porsigal dan berasal dari beberapa sekolah diwilayah Blitar. Turut memberikan materi ujian pada malam itu, H Imam Kusnin Ahmad SH selaku, tim dari PCNU dan H Lutfi Aziz dari PC GP Ansor dan Ustadz Taufick dari LP Ma’arif dan Jamqur. Serta dr H Syahrul Alim dari tim kesehatan. Menurut, Moh. Rokib, panitia acara, mengatakan bahwah kegiatan ini digelar setiap enam bulan sekali dalam rangka kenaikan tingkat. “Lha saat ini adalah kenaikan tingkat bagi anggota yang baru masuk atau istilahnya dalam Porsigal, prapta, tingkat paling dasar dalam organisasi ini. Tingkatan ini adalah para pesilat yang baru berlatih dan akan menerima sabuk sebagai anggota,” ungkap Rokib. Ada beberapa syarat yang harus dijalankan oleh para pesilat ini. Diantaranya, selain bisa memperagakan empat jurus dasar yang sudah diajarkan para instruktur, juga harus bisa melaksanakan tata cara wudlu, tayamum dan sholat berserta bacaannya serta syarat rukunnya. “Tata cara wudlu dan sholat semua harus menggunakan amaliyah NU. Lo mengapa kok NU, ya..karena memang Porsigal ini didirikan para sesepuh dan ulama NU,” ungkap Rokib. Instrukturlanjut Rokib, akan mengawasi secara detail saat ujian berlangsung. Instruktur wanita mengawasi peserta wanita dan laki-laki mengawasi laki-laki. Ini dilakukan dalam rangka menanamkan mental agama melalui syariat Islam yang benar-benar sesuai dengan amaliyah yaumiyah NU. “Porsigal ini memang didirikan oleh para kiai NU. Satuan ini juga salah satu organisasi silat yang ikut membidani kelahiran IPSNU Pagar Nusa,” kata Rokib. Ia jelaskan, di Porsigal ada enam tingkatan, mulai dari dari dasar Prapta, Kawi, Gladi, Wira, Manggala, Purusa. Anggota bisa lulus hingga tingkatan Purusa, minimal belajar di Porsigal sekitar 40 tahunan. Karena, harus melalui tahapan-tahapan. “Seleksi dilakukan secara ketat. Paling dari 500 peserta yang bisa lolos sampai ke purusa hanya sekitar 5 orang. Rata-rata mereka hanya sampai Wira. Tingkatan itupun sudah luar biasa. Karena para pesilat di tingkat itu sudah aktif menjadi pengurus NU dan banomnya di tingkat anak cabang dan cabang NU,” tambah Moh. Shobiri salah satu pendekar Porsigal yang kini juga menjadi anggota Dewan Pendekar Pagar Nusa Pusat. “Ya… kalau di IPNU dan IPPNU ujian ini semacam Makesta. Kalau di Ansor dan Banser semacam LKD atau Diklatsar,” tambah Sobiri. Porsigal yang berdiri secara formal pada 2 Maret 1979 oleh H Atim Miyanto SH sebagai ketua umumnya, ungkap Sobiri, saat ini memiliki sekitar 27.000 anggota. Yang menyebar di seluruh Indonesia. Bahkan ada anggota yang dari luar negeri. Seperti Belgia, Inggris, Australia, Jepang, Malaysia, Brunai Darussalam, Hongkong, Jerman dan Arab. “KH Abdurrohman Wahid (Gus Dur) dan KH Abdul Djalil Mustaqim, pernah duduk sebagai dewan pengasuh Pusat Porsigal,” katanya. “Singkat cerita, anggota Porsigal ini adalah pasukan garis pendemnya NU. Anggotanya menyebar ke mana-mana dan terbanyak menjadi anggota Ansor dan Banser, khususnya di Jawa Timur,“ Redaktur: Mukafi Niam Komentarku ( Mahrus ali): Wudhu ala NU ini yang perlu di ingatkan bukan di biarkan saja, sebab ada kesalahan yang harus di buang jauh, bukan dibuang di tempat yang dekat lalu diambil lagi. Kesalaha itu sudah mengakar, bukan baru, dari waktu ke waktu dan dimana – mana. Kesalahan fatal itu adalah mengusap sebagian kepala. Boleh anda baca lagi disini: RUKUN WUDHU YANG SALAH TOTAL http://mantankyainu.blogspot.com/2011/08/rukun-wudhu-yang-salah-total.html

Rabu, 26 Desember 2012

Kristen di Maroko: Sejarah dan Toleransi Beragama



MUANNIF RIDWAN*

Maroko sangat dikenal sebagai negeri eksotik di ujung barat dunia Islam. Maroko merupakan salah satu negara kerajaan dengan penduduk mayoritas muslim. Bahkan Pemerintah Kerajaan Maroko hanya mengakui Islam sebagai agama resminya.

Agama Islam di negeri ini dikembangkan dengan menghargai tradisi lokal, seperti yang dilakukan oleh para dai atau wali songo ketika menyebarkan Islam di Nusantara. Maka tak heran jika ada ritual-ritual keagamaan yang mirip dengan keislamaan di Indonesia.

Maroko juga dikenal sebagai negara Arab yang gaul, nuansa Eropanya sangat kuat, tetapi tak kehilangan akar tradisi Arab dan Islam. Kebebasan berpendapat dan tradisi berpikir sangat terbuka di negeri Ibnu Batutah ini. Pemerintah tidak memaksa rakyatnya untuk berpola pikir secara kaku atau seragam. Barangkali salah satunya adalah karena faktor penguasa Maroko saat ini, Raja Muhammad VI, seorang lulusan Eropa yang berpikiran Modern. Ia bertekad untuk memodernkan Maroko, namun tetap melandaskannya kepada ajaran Islam.

Raja yang hampir berusia 50 tahun itu sedang berupaya mempertahankan tradisi keagamaan yang berusia ribuan tahun dengan arus globalisasi. Maka tak heran, jika di negeri bekas jajahan Perancis dan Spanyol ini, simbol-simbol tradisi Islam tetap kelihatan. Aktifitas religius selalu semarak. Aneka ritual tarekat sufi bebas berekspresi. Di tengah kuatnya arus modernisasi dan globalisasi yang berhembus kencang dari Barat. Bahkan kaum wahabi Maroko pun kadang-kadang sering kewalahan untuk mempengaruhi “Islam Tradisional” ini.

Kristen di Maroko

Walaupun Maroko dikenal sebagai negera kerajaan dengan penduduk mayoritas muslim, yaitu 98,7 %. Namun pada tahun 2009 sensus mencatat ada 1,1 % atau 380.000 dari penduduknya beragama Kristen. Untuk mudah mengetahuinya, biasanya mereka itu mempunyai rumah dengan ciri khas yang sering dinamai dengan al Mallah.

Kristen di Maroko telah lama muncul, yaitu sejak masa kerajaan Romawi. Yang dikenal dengan Kristen Babar yang menganut aliran Qibtiyah. Saat penaklukan Islam di Maroko yang dipimpin oleh ‘Uqbah ibn Nafie’ antara tahun 681 dan 683 M. mereka perlahan mulai sembunyi-sembunyi dalam membawa misinya.

Sekitar abad ke 19 dan 20 atau pada masa penjajahan Perancis terhadap Maroko, kaum Kristen mulai berdatangan kembali ke Maroko dengan jumlah yang sangat banyak. Kelompok ini kemudian disebut dengan al aqdam as sauda’ (Pendatang gelap). Mereka ini kebanyakan dari Italia, Spanyol, Perancis, dan bahkan dari Eropa timur. Mayoritas kelompok ini adalah para penganut Kristen Katholik.

Sementara pada tahun 1830 jumlah Kristen-Eropa di Maroko masih sangat sedikit, yaitu hanya berkisar 250 orang dan yang tinggal di kota Tanger sebanyak 220 orang. Jumlah ini melonjak pada tahun 1858 menjadi 700 orang. Kemudian pada tahun 1864 menjadi 1400 orang dan hingga tahun 1910 mencapai 10.000 orang.

Saat ini umat Kristen di Maroko sering mengadakan ritual keagamaannya di dua gereja, yaitu Gereja Romawi Katholik dan Protestan. Mereka mayoritas tinggal di Casablanca dan kota-kota lainnya seperti Rabat, Tanger, Meknes, Marrakech dan Essaouira. Kebanyakan dari mereka adalah berasal dari Eropa yang tinggal sejak awal pejajahan dan ditambah dengan penduuk asli Maroko yang dulunya beragama Islam. Mereka sering melakukan ritual-ritual keagamaannya dengan sembunyi-sembunyi bertempat di gereja khusus yang hanya di ketahui kalangan mereka, dan Mayoritas dari mereka ini menganut ajaran kristen protestan dengan ajaran yang khas.

Toleransi Antar Umat Beragama

Sepanjang sejarah, praktek Tasamuh (toleransi) antar umat beragama di Maroko sangat dikenal dengan baik sejak abad ke 3 sebelum masehi. Sebagaimana Raja Maroko pernah megizinkan kaum Yahudi Israel untuk kembali lagi ke Maroko dan memberikan kesempatan tinggal. Bahkan Raja pun memberikan kesempatan bagi mereka yang ingin mengubah kewarganegaraannya menjadi warga Negara Maroko.

Dalam undang-undang Kerajaan Maroko, Pasal tiga mengatakan, “Setiap warga Negara dijamin dan diberikan kebebasan untuk melaksanakan agamanya masing-masing”. Walaupun demikian, saat ini ada undang-undang baru yaitu al Qanun al Jina’i (hukum pidana) yang melarang warga asli Maroko untuk pindah agama, dari Islam ke agama lain. Kecuali bagi warga maroko yang sudah memeluk ajaran Kristen sejak dulu, dan kini diberikan kesempatan bagi mereka untuk mengamalkan ajarannya secara terang-terangan.

Bahkan saat ini di Maroko ada Majlis al Kanais al Khomsi (Forum perkumpulan lima Gereja), yaitu semacam wadah pertemuan agama-agama Kristen di Maroko yang terdiri dari lima gereja yang berbeda-beda, dan forum perkumpulan ini sangat diakui secara resmi dan dilindungi oleh undang-undang Kerajaan Maroko.
Foto: Raja Maroko Mohamed Sadis sedang mengunjungi Gereja
*Penulis adalah mahasiswa S1 Jurusan Islamic Studies, Univ. Imam Nafie’, Tanger-Maroko
Komentarku ( Mahrus ali): 
Biasa dan lagu lama bukan lagu baru, bila negara mayoritas muslim,maka di kumandangkan toleransi beragama, tapi bila mayoritas kristen, maka  toleransi itu hilang, sampai ada di negara kafir, mendirikan masjid sangat di batasi bahkan ada yang di larang mendirikan masjid lagi, lalu perizinannya sangat sulit.
Bagaimana di Prancis, Belanda, mana toleransinya. Ingatlah ayat:

إِنْ يَثْقَفُوكُمْ يَكُونُوا لَكُمْ أَعْدَاءً وَيَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ وَأَلْسِنَتَهُمْ بِالسُّوءِ وَوَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ(2)
Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti (mu); dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir.Mumtahanah 2

Selasa, 25 Desember 2012

Rais Syuriah NU: Saya Juga Ucapkan Selamat Natal





Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Masdar Farid Mas’udi. (ANTARA/Rezza Estili)
dakwatuna.com – Jakarta. Menanggapi pernyataan Menteri Agama Suryadharma Ali bahwa memberi ucapan selamat natal itu dibolehkan, Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Masdar Farid Mas’udi pun turut menyetujui.
Menurut Masdar, tidak ada salahnya mengirimkan ucapan selamat natal kepada pemeluk agama Kristen. “Saya juga mengucapkan,” kata dia, Senin (24/12) sore, sebagaimana dilaporkan Republika Online.
Saling mengucapkan selamat, kata dia, berarti adanya saling menghargai antarpemeluk agama. Dan mengucapkan selamat natal tidak ada salahnya dalam aturan agama Islam.
Tidak ada hubungannya, lanjut dia, antara mengucapkan selamat natal dengan mempercayai ritual agama lain. Dia menyatakan, membahas hal itu hanya akan menambah konflik antar agama.
“Sudah cukup, nanti malah timbul polemik,” tutup dia. (Heri Ruslan/aldian wahyu ramadhan/ROL)
Topik: Natal

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/12/25806/rais-syuriah-nu-saya-juga-ucapkan-selamat-natal/#ixzz2G3dbJTZz

•        M Romzul Islam • 17 hours ago
o      
o      
Saat
ini orang ramai membicarakan masalah ucapan selamat natal karena semua
pihak merasa paling benar. Padahal, hanya Allah swt yang mengetahui mana
yang benar atau nggak.

Tetapi , kita sebenarnya telah diberi
hukum sederhana untuk menyikapi hal ini. Hukumnya adalah lebih baik
meninggalkan hal-hal yang ragu dan belum pasti. Artinya, selama ulama
masih berbeda pendapat dan bagi kita yang ilmu agamanya masih kurang,
bisa menggunakan hukum tersebut sebagai pegangan.

Intinya, selama kita ragu-ragu dan tidak mengetahui mana yang LEBIH BENAR, sebaiknya ditinggalkan.
Bagi umat Islam, lebih selamat apabila meninggalkan keraguan dengan tidak mengucapkan selamat natal agar terhindar dari dosa.

Toh teman kita yang Nasrani juga tidak akan marah apalagi tersinggung kalau kita tidak mengucapkan. Mengapa itu menjadi beban ?
Jadi, nggak usah bingung dengan dalil yang macam-2. Dengan dalil ini,
kita berpikir dengan cara yang lebih sederhana dan Insya Allah lebih
selamat.
•       
priyayimuslim • 20 hours ago


Ini mah orang liberal antek JIL.
Ini yang bilang pajak sama dengan zakat.

•       
Nofrian Rahmat • 2 hours ago
o      
o      
gawat

•       
Ar Rizqi Satria • 5 hours ago
Pantas saja sekarang mereka senang bergandengan dengan kaum kristen, dengan menyediakan BANSER NU sebagai JONGOS JAGAIN GEREJA
Dilarang mengucapkan selamat na**l, dalilnya sudah jelas, eh masih ngeyel, tetap ngucapin. lantas bagaimana Islam menyikapi orang yg menolak kebenaran macem ni. mari simak:
Satu sifat yang paling dibenci oleh Allah SWT adalah sombong. Sombong adalah menganggap dirinya besar dan memandang orang lain hina/rendah.
Allah melarang kita untuk sombong:
”Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” [Al Israa’:37]
Allah benci dengan orang-orang yang sombong:
”Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” [Luqman:18]
Nabi berkata bahwa orang yang sombong meski hanya sedikit saja niscaya tidak akan masuk surga:
Dari Ibn Mas’ud, dari Rasulullah Saw, beliau bersabda: “Tidak akan masuk sorga, seseorang yang di dalam hatinya ada sebijih atom dari sifat sombong”. Seorang sahabat bertanya kepada Nabi Saw: “Sesungguhnya seseorang menyukai kalau pakainnya itu indah atau sandalnya juga baik”. Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Swt adalah Maha Indah dan menyukai keindahan. Sifat sombong adalah mengabaikan kebenaran dan memandang rendah manusia yang lain” [HR Muslim]
o      

     
•       
Ar Rizqi Satria • 5 hours ago


orang ini nanti bareng Gus Dur terlunta-lunta di Padang Mahsyar
•       
Hobir Nur Ikhsan • 6 hours ago

apa org ini tidak mau berpaling ke Al-Quran? terutama QS Al-Maidah ayat 72-73?