Sumber : http://blogseotest.blogspot.com/2012/01/cara-memasang-artikel-terkait-bergambar.html#ixzz2HNYeE9JU

Pages

Blogroll

Tampilkan postingan dengan label figur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label figur. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Oktober 2013

Hitam Putih Presiden Soekarno



Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, dikenal sebagai penakluk perempuan cantik. Menikah sembilan kali dan dengan mudah dan para wanita cantik-pun takluk padanya
“Media Seringkali Membuat Banyak Orang Salah Idola” (anonim)
SOEKARNO, laki-laki proklamator RI ini kini menjadi banyak idola kawula muda. Buku-buku banyak ditulis memuji-muji kehebatan dia. Mulai dari masa kecilnya, remaja dan dewasanya. Dibukukan tulisan-tulisannya dan divideokan pidato-pidatonya. Film-film pun dibuat untuk mempropagandakan kepribadian dan kehebatannya. Benarkah Soekarno manusia yang hebat tidak ada cacat atau justru banyak cacatnya? Tulisan ringkas ini akan mencoba menelaahnya.
Bila ditelusuri Soekarno ternyata pintar bicara tapi ‘miskin’ dalam perbuatan. Pidatonya yang berapi-api memang membakar semangat rakyat. Tapi sikap-sikapnya terutama dalam politik seringkali menjadi blunder, bahkan kepada dirinya. Egonya yang terlalu berlebihan, menjadikan banyak temannya menjadi korban. Nafsunya kepada perempuan seringkali tidak terkendalikan.
Entah berapa orang yang menjadi istri atau pasangannya. Ideologi Islam yang semasa remaja ditanam Tjokroaminoto di Surabaya, seolah ‘hilang lenyap’ tergantikan dengan ideologi Marxisme atau Marhaenisme  yang dipahat oleh dosen-dosen Belanda di ITB Bandung.
Kita coba telisik Soekarno mulai dari kasus Piagam Jakarta. Piagam Jakarta yang sudah ditandatangani oleh Soekarno sendiri pada 22 Juni 1945, disepakati akan dibacakan pada proklamasi republik Indonesia, diganti dengan coret-coretan Soekarno.  Hal itu terjadi pada subuh hari 17 Agustus 1945, Soekarno mengajak Hatta ke rumah Laksamana Maida untuk mendiskusikan lagi naskah proklamasi yang sudah disepakati Tim Sembilan.
Di rumah itu, selain ada petinggi Jepang juga ada Ahmad Subarjo (Nasionalis Sekuler) sekretaris Laksamana Maida. Dan akhirnya dalam sejarah tercatat Soekarno membacakan proklamasi dengan coretan-coretannya sendiri pada sekitar pukul 10.00, 17 Agustus 1945. Tidak ada dalam perundingan dalam rumah Maida itu tokoh nasionalis Islam. (lihat Jangan Pertentangkan Islam dan Pancasila)
Lebih tragis lagi pada 18 Agustus 1945. Soekarno lewat rapat kilat tidak sampai tiga jam mengganti hal-hal penting yang berkaitan dengan Islam dalam urusan politik. Yakni mengganti hal-hal penting dalam UUD 45.  Lewat rapat yang dipimpinnya Soekarno mengganti kata Mukaddimah menjadi pembukaan, kata Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa dan kata presiden adalah orang Indonesia asli dan beragama Islam kata “dan beragama Islam dicoret.
Karena tragedi itu, maka setelah Pemilu 1955, tokoh-tokoh Islam bersatu menuntut pengembalian Piagam Jakarta atau Islam sebagai dasar negara. Karena kemerdekaan Indonesia diperoleh dengan darah dan keringat mayoritas rakyat yang beragama Islam. Maka diadakanlah penyusunan UUD kembali oleh Majelis Konstituante 1957-1959. Setelah bersidang lebih dari dua tahun, hasilnya mentok. Faksi Nasionalis  Islam dengan faksi nasionalis sekuler tidak ada yang menang mutlak. 
Soekarno akhirnya membubarkan Majelis Konstituante dengan didukung TNI, dengan mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Yang menarik Soekarno saat itu menerima usulan dari tokoh-tokoh Islam, untuk menampung aspirasi dari nasionalis sekuler dan nasionalis Islam, maka dirumuskanlah salah satu isi dekrit itu adalah : Piagam Jakarta menjiwai UUD 45 dan merupakan satu rangkaian kesatuan yang tidak terpisahkan. Sayangnya meski bunyi dekrit seperti itu, Soekarno tidak menerjemahkannya dalam undang-undang atau peraturan presiden.
Masa Soekarno atau Orde Lama
Bila banyak yang mencela Orde Baru, maka Orde Lama bagi umat Islam terutama tokoh-tokohnya terasa ‘lebih sengsara’.  Buya Hamka, ulama besar ini menyampaikan isi hatinya dalam Majalah Panjimas yang diasuhnya. Setelah mengritik mantan Menteri Subandrio –di sidang Mahmilub- yang hingga tuanya tidak mengenal rakaat shalat dan Yusuf Muda Dalam yang tidak mengerti bahwa beristri lebih dari empat dilarang dalam Islam, HAMKA menyatakan:
“Inilah contohnya orang-orang yang memegang kekuasaan negara di masa Orde Lama. Mengaku percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa di bibir, tetapi tidak pernah mendekatkan diri kepada Tuhan menurut agama yang mereka peluk sebagai pusaka dari ayah bundanya.
Sehingga terbaliklah keadaan; orang yang tekun kepada Tuhan; mengerjakan perintah dan menghentikan larangan Tuhan, dipandang anti Pancasila, orang yang taat mengerjakan agama di cap reaksioner atau kontra revolusioner.
“Bersuluh kepada matahari, bergelanggang di mata orang banyak”, bagaimana setiap hari hukum-hukum agama itu dilanggar, didurhakai.
Zina menjadi kemegahan, minuman keras diminum laksana minum air teh saja, uang negara dihamburkan untuk kepentingan pribadi. Tidak ada sedikit juga rupanya rasa takut kapada Tuhan. Karena Tuhan itu hanya untuk penghias pidato, bukan untuk penghias hidup, budi moral dan mental.
Mereka pun melanggar dasar negara yang kedua, yaitu Pri Kemanusiaan. Tengoklah bagaimana sengsaranya rakyat. Tengoklah kelaparan, karena banjir di Solo, karena letusan Gunung Agung di Bali, karena letusan Gunung Kelud, bencana kelaparan di Lombok. Tidak seorang juga diantara mereka itu yang sudi meringankan langkah buat melihat keadaan rakyat yang malang dan sengsara itu…
Peri Kemanusiaan : dalam prakteknya orang-orang yang dicemburui, dibenci dan dipandang akan menghalangi langkah-langkah mereka meneruskan kezaliman itu.
Sampai Sutan Syahrir mati dalam status tahanan. Mereka ditahan, kadang-kadang rumah kediamannya dirampas dan dengan seenaknya didiami oleh khadam-khadam (pembantu) para pembesar itu. Benar-benar berlaku di negeri ini sebagai yang berlaku berates tahun yang laludi zaman kekuasaan raja-raja tidak terbatas, yang nasib malang akan menimpa orang yang dibenci oleh pihak istana. Dan anak istri orang yang ditahan itu dibiarkan melarat.
Alangkah banyaknya paradoks di dalam negara yang berdasar Pancasila di zaman itu. Mobil mewah pejabat meluncur di atas jembatan, sedang dibawahnya tidur orang-orang yang kehabisan tenaga buat hidup. Yang di atas menikmati rasa kemerdekaan, yang di bawah terlempar ke dalam lumpur kehinaan sejak negara merdeka.
Disorak-soraikan amanat penderitaan rakyat. Alangkah seramnya jika dikaji bahwa kata-kata Amanat Penderitaan Rakyat itu diungkapkan oleh pemimpin-pemimpin itu sendiri, padahal merekalah yang mengkhianatinya.
Mereka belum merasa puas kalau  belum ada undang-undang untuk menyikat bersih dari masyarakat orang-orang yang dibenci, sedang kesalahan mereka yang terang tidak ada. Lalu diadakan Penetapan Presiden   (Pen-Pres) buat menangguk sisa-sisa orang yang dibenci yang masih tinggal, orang-orang yang dipandang  masih ada pengaruhnya dalam masyarakat. Dengan “dugaan saja, walaupun tidak ada bukti sama sekali orang bisa dibenamkan ke dalam tahanan. Itulah Pen-Pres No 11 yang terkenal dengan sebutan Undang-Undang Subversif…
Indonesia benar-benar menjadi “Mercusuar” dari kebrobokan. Indonesia diteropong, bahkan di mikroskop oleh bangsa lain, lalu menjadi tertawaan.  Tetapi surat-surat kabar yang memuat berita tentang kebrobokan dilarang masuk Indonesia.
Sebentar-sebentar diadakan pidato, rapat raksasa, rapat samudera.
Diobati perut yang lapar dengan pidato, diobat jalan-jalan yang rusak dengan pidato. Rakyat dikerahkan dengan segala macam daya upaya supaya dari subuh sudah berangkat ke tanah lapang mendengarkan pidato.
Perusahaan-perusahaan wajib menutup usahanya dan mengerahkan buruhnya pergi mendengarkan pidato. Produksi menurun karena hari habis untuk mendengarkan pidato…
Berdirilah gedung-gedung monument, patung-patung yang tidak akan dapat mengenyangkan perut rakyat, yang hanya akan ditegahkan (dipertunjukkan) kepada tamu luar negeri, padahal kalau tetamu itu datang, sasaran tustel mereka bukanlah monument dan patung, melainkan rakyat yang tidur di dalam pipa air yang belum dipasang atau mandi telanjang di kali Ciliwung.” ” (lihat Hamka, Dari Hati ke Hati, Pustaka Panjimas,2002, hal. 259-262).
Hamka juga mengritik keras gagasan Nasakom yang digulirkan Soekarno.  Karena Masyumi dan PSI (Partai Sosialis Indonesia) tidak mau ikut bergabung dengan pemerintahan Soekarno, maka kedua partai itu dipaksa bubar.  Tokoh-tokohnya dipenjarakan tanpa kesalahan yang jelas di pengadilan –termasuk Buya Hamka yang dipenjara lebih dari dua tahun.  Maka, kata cendekiawan ulung ini :
“Akhirnya datanglah klimaks dari NASAKOM ini, yaitu peristiwa Lubang Buaya! Inilah akibat dari penyelewengan Pancasila atau Munafik Pancasila itu; yang dipidatokan buat dikhianati. Atau di dalam jiwa sendiri tidak ada, sebab itu menjadi kosong ke tengah udara bebas.
Tetapi Tuhan Allah tidaklah mengizinkan kemunafikan itu berlanjut sehingga lanjutan dari peristiwa Lubang Buaya ialah terbukanya mata rakyat malang yang selama ini hanya dibuat, dinina-bobokkan dengan janji-janji dari mereka yang berkuasa yang sekali-kali tidak sanggup mereka memenuhinya. ABRI (TNI) dan rakyat jelata semuanya bersatu menghadapi Orde Lama yang munafik dan bobrok ini dan setiap yang berhutang musti membayarnya” (Hamka, Dari Hati ke Hari, hal. 265).
Selain HAMKA, mantan Wakil Perdana Menteri RI, Mohammad Roem juga kritis kepada Soekarno. Kritik Roem lain lagi. Menurut Roem, Soekarno kurang jujur menceritakan masa kecilnya yang dipenuhi kemiskinan, kepada penulis biografinya Cindy Adams.
Sebelumnya Roem menyatakan bahwa Soekarno adalah bagaikan buku terbuka.  Kata tokoh Masyumi ini :
“Bagi penulis sendiri umpamanya, perjuangan Soekarno sejak ia memimpin PNI 1926 sampai sekarang  laksana buku terbuka. Tapi kita ingin tahu juga riwayat hidupnya menurut buku ini (buku Cindy Adams –pen). Keturunan Soekarno tidak tanggung-tanggung! Ibunya Idaju, seorang Bali dari kasta Brahmana keturunan bangsawan. Raja Singaradja terakhir adalah  paman ibunya. Ayahnya, Raden Sukemi Sosrodihardjo, keturunan Sultan Kediri. Baikpun dari fihak Ibu ataupun dari fihak ayah, para nenek moyang Soekarno adalah pejuang-pejuang kemerdekaan melawan penjajah Belanda. Salah seorang nenek moyangnya, seorang wanita, berjuang di samping pahlawan besar Pangeran Diponegoro di dalam peperangan tahun 1825-1830, sampai menemui ajalnya.” (Lihat Mohammad Roem, Bunga Rampai Dari Sejarah I, 1977, hal. 167-183).
Roem kemudian mengulas tentang kemungkinan besar ketidakjujuran Soekarno tentang kemiskinannya itu.  Roem mengutip biografi Soekarno yang menyatakan : “Aku dilahirkan di tengah kemiskinan dan dibesarkan dalam kemiskinan. Aku tidak mempunyai sepatu. Aku mandi tidak dalam air yang keluar dari kran. Aku tidak mengenal sendok dan garpu. Ketiadaan yang keterlaluan demikian ini dapat menyebabkan hati kecil di dalam menjadi sedih.
Mengenai hidup dalam “kemiskinan” ini sangat lengkap…Begitu lengkapnya cerita itu, sehingga orang yang tahu keadaan di Indonesia terutama di Pulau Jawa pada waktu itu, dengan angka-angka Soekarno sendiri melihat, bahwa keluarga Raden Sukemi Sosrodihardjo tidak miskin sama sekali.
Dilihat dalam rangka “Gobang Report”, dalam mana orang Indonesia rata-rata hidup dari dua setengah sen setiap hari, maka tiap anggota dari keluarga Raden Sukemi Sosrodihardjo yang terdiri dari empat orang, hidup dari 250 gobang sebulan atau lebih dari 8 gobang sehari.”
Maka, kata Roem: “ Tidak masuk akal, seperti yang ia (Soekarno –pen) ceritakan  “Kami sangat melarat sehingga hampir tidak dapat makan satu kali dalam sehari.” (Mohammad Roem, hal. 170).
Kritik keras Roem yang lain adalah sikap Soekarno yang merangkul PKI untuk menyingkirkan Masyumi. Syafii Maarif mengutip Roem, dalam bukunya “Islam dan Politik Teori Belah Bambu Masa Demokrasi Terpimpin 1959-1965” menyatakan logika revolusi Soekarno ialah menarik garis yang tegas antara sahabat dan musuh revolusi. Kata Syafii : “Pada masa demokrasi terpimpin, jargon politik PKI tentang golongan “Kepala Batu” sudah menyatu dengan jargon politik Soekarno yang juga menilai Masyumi sebagai kekuatan “Kepala Batu” yang merintangi penyelesaian revolusi Indonesia.” Demokrasi Terpimpin ini mulai mengkristal ketika Soekarno pada 20 Maret 1960 membubarkan parlemen hasil pemilihan umum 1955 dan membentuk DPRGR (Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong) dimana Masyumi dan PSI tidak diikutsertakan.
Walhasil, sebelum merdeka memang Soekarno adalah seorang pemuda yang mempunyai ide besar dan semangat tinggi melawan penjajah Belanda. Ia pernah dipenjara dan diasingkan pemerintah Belanda saat itu. Tapi pemikirannya sayang setelah dewasa lebih banyak diwarnai Marxisme (sekuler) daripada Islam. Sehingga tahun 1930-an ia berdebat keras di media massa dengan pemuda Natsir tentang bagaimana bentuk negara ke depan. Soekarno menginginkan Indonesia menjadi negara sekuler sebagaimana yang dibentuk Kemal Attaturk. Natsir menginginkan negara yang dilandasi oleh nilai-nilai Islam, sebagaimana yang diteladankan Rasulullah saw dan para sahabatnya.  Soekarno akhirnya menjadi presiden dengan menerapkan ide-ide sekuler yang diyakininya dan kemudian di periode akhir pemerintahannya menyingkirkan kelompok Natsir Masyumi yang dianggap mengganggu jalan revolusinya.
Natsir memang pernah ikut dalam pemerintahan Soekarno, sebagai Menteri Penerangan dan Perdana Menteri, karena Natsir ingin membaktikan hidupnya memperbaiki atau mengislamkan negeri ini. Tapi ia kemudian berlepas diri dari pemerintahan karena partainya ‘dibubarkan dengan paksa’ oleh presiden pada tahun 1960.
Kini pertarungan ide negara sekuler dan ide negara Islami terus berlangsung di negeri ini. Sebagaimana ide menggulirkan tokoh-tokoh idola. Siapakah yang akan menang? Wallahu alimun hakim.*
Penulis adalah peneliti Insitute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS)


Rep:
Anonymous
Editor: Cholis Akbar
                               
         
                             

Minggu, 02 Juni 2013

Ulama Saudi ( wahabi ) lebih dewasa dari pada saya, kata Qurdhawi

Qardhawi : Bagaimana mungkin 100 juta Syiah (di seluruh dunia) mengalahkan Muslim 1,7 miliar?

Qardhawi : Bagaimana mungkin 100 juta Syiah (di seluruh dunia) mengalahkan Muslim 1,7 miliar?

Redaksi – Minggu, 2 Juni 2013 07:00 WIB
Ulama Muslim , Sheikh Yusuf Al-Qaradawi mengimbau Muslim Sunni di seluruh dunia untuk bergabung  dan mendukung  mujahidin oposisi Suriah dalam perjuangan mereka melawan rezim  Suriah Bashar Al-Assad.
“Setiap muslim dilatih untuk melawan dan mampu melakukan hal itu (harusnya) membuat dirinya bersedia” untuk mendukung oposisi Suriah, Qaradhawi mengatakan di sebuah Demonstrasi di Doha dikutip oleh Agence France-Presse (AFP) pada hari Sabtu, 1 Juni.
Pertempuran telah menyebabkan tewasnya lebih dari 70,000 nyawa melayang dan memaksa lebih dari satu juta warga Suriah meninggalkan rumah mereka ke negara-negara tetangga di samping perpindahan dari dua juta lainnya di negara itu.
Ribuan mujahidin  asing diyakini telah bergabung dalam pertempuran di Suriah melawan rezim Assad.
Sheikh Qaradawi mengecam Iran dan Hizbullah yang sekutu Syiah untuk mendukung rezim Assad.
“Iran mendorong para lelakinya maju dengan senjata untuk mendukung rezim Suriah,  jadi mengapa kita berdiri menganggur?” katanya.
Ulama terkemuka itu menggambarkan kelompok Hizbullah Lebanon, sebagai “partai setan”.
“Pemimpin partai Setan datang untuk melawan Sunni … Sekarang kita tahu apa yang Iran inginkan … Mereka ingin pembantaian lanjutan untuk membunuh Sunni,” kata Qaradhawi.
Hizbullah, sekutu dekat Iran dan rezim Suriah, secara terbuka terlibat dalam perang melawan pasukan anti-rezim di Suriah.
Pejuang Hizbullah saat ini terlibat dalam pertempuran sengit melawan pasukan anti-rezim untuk saling kuasai  kota Qusayr dekat perbatasan Lebanon.
Kelompok Hizbullah Lebanon telah kehilangan puluhan orang dalam pertempuran untuk Qusayr.
Pada hari Sabtu, pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah bersumpah kepada Assad untuk memberikan  kemenangan dalam perang sipil Suriah.
Pemimpin Syiah itu juga berjanji bahwa Hizbullah akan memainkan gelombang konflik dalam mendukung Assad, dan tetap bersama Assad selama diperlukan untuk melakukannya.
“Bagaimana mungkin 100 juta Syiah (di seluruh dunia) mengalahkan 1,7 miliar (Sunni)?” Qaradhawi berseru.
“Hanya karena (Sunni) Muslim yang lemah.”
Syeikh Qaradhawi menyesali dukungan sebelumnya  untuk Hizbullah dan pemimpinnya, yang meraih popularitas pada  perang melawan Israel pada 2006. “Ternyata ulama Saudi lebih dewasa dibanding saya” ucapan penyesalan dari Syeikh Qordhowi atas dukungan yang pernah ia lontarkan pada saat perang Libanon 2006. (OI.net/Dz)
Sumber: Era muslim

Kamis, 18 April 2013

Jahatnya media! Mengusung para tokoh busuk disulap seakan harum

***
Penguasa yang Mengajak dan Membawa Kesesatan Rakyatnya
Jakarta- Hanya bermodalkan wajah manis, senyum, tutur bahasa yang diatur, retorika dan dukungan media massa, maka jadilah dia sebagai pemimpin atau penguasa yang mulia.
Tetapi, dia itu sejatinya hanya sebagai : “Pemimpin dan Penguasa yang Mengajak dan Membawa Kesesatan Rakyatnya”.
Rakyat selalu menjadi korban. Rakyat selalu menjadi fihak yang dirugikan. Rakyat ditipu dan dikelabuhi. Rakyat disihir dengan retorika palsu yang tanpa isi. Rakyat dinina-bobokkan dengan janji dan khayalan yang menggiurkan. Rakyat dicekoki dengan doktrin  yang mengikuti hawa nafsu. Sejatinya mereka ini para pendusta.
Rakyat Indonesia adalah rakyat yang paling sengsara. Rakyat yang paling mudah ditipu dan didustai. Seperti tak pernah jera dengan model orang-orang yang sekarang ini tampil di panggung. Bangsa dan rakyat Indonesia sangat bermurah hati, selalu menyediakan panggung  bagi para penjahat, penipu dan pendusta.
Ada yang wajahnya sangat nampak sebagai “innocence”(tanpa dosa), gemar berbicara tentang moral, dan  mengutip kitab suci, serta kebenaran. Dirinya selalu dikaitkan sosok pribadi yang sangat mulia. Tanpa cacad. Mewakili komunitas kebenaran. Komunitas suci.
Banyak rakyat yang menjadi kagum dan mengeluarkan decak, saat tokoh ini tampil di depan publik. Ternyata tokoh itu yang  bertopeng belaka. Ketika kedoknya dibuka, tak lain tokoh ini, sejatinya mewakili para penipu dan pendusta.
Sekarang mereka berusaha menyembunyikan jatidirinya yang asli. Para tokoh dan orang penting itu,  risau dan selalu takut. Takut terbongkar kedoknya, dan akan terlihat sosoknya yang sejati.
Karena, di zaman sekarang ini, susah menyembunyikan diri. Hidup seperti di rumah  kaca. Sangat nampak dengan jelas. Apapun yang dikerjakan. Tidak ada yang bisa disembunyikan lagi. Tidak bisa berpura-pura.
Tokoh pura-pura dan hanya menjadi pemain sandiwara picisan itu, sekarang hidup mereka penuh dengan risau. Takut kedoknya terbuka di depan publik. Sebuah khazanah yang sangat dengan jelas, membuat rakyat menjadi sadar, dan tahu sejatinya  apa yang selama ini tidak tahu. Peristiwa yang ada membuat semuanya menjadi sangat jelas. Rakyat mengerti mereka berhadapan dengan penipu.
Ada  tokoh dan komunitas mengaku bersih, dan selalu lekat dengan kebenaran, dan seakan menjadi pejuang dan pembela kebenaran. Tetapi, kenyataannya mereka itu, tokoh yang busuk, dan komunitas penuh dengan kepalsuan.
Mereka hanya menampakkan “cashingnya” belaka seakan orang-orang  yang mulia, jujur, bersih, dan memiliki kepedulian terhadap rakyat. Ternyata mereka tokoh yang hanya senang melihat kerusakan, dan menjadi pelaku kejahatan nyata.
Mereka menjadi tokoh dan komunitas yang paling korup. Sekalipun asal mulanya meneriakkan anti korupsi. Tetapi, mereka adalah kumpulan orang-orang yang sangat gemar memakan uang, barang, dan harta yang bukan menjadi haknya.
Mereka tokoh dan kumpulan komunitas yang menghalalkan yang diharamkan. Tidak ada lagi dalam kamus hidup mereka itu, antara halal dan haram. Mereka tidak memiliki standar dan patokan hidup yang jelas. Halal, syubhaat, dan haram, bagi mereka sama saja. Mereka terus berlomba-lomba menikmati kehidupan dunia, tanpa merasa risih. Mereka tokoh dan kumpulan orang-orang yang disebut : ”kanan-kiri ok”.
Jangan salah dalam sepuluh tahun terakhir ini, mereka menjadi komunitas baru, yang disebut : ”Kelompok okb”.Alias orang kaya baru. Mereka memiliki filsafah : ”Meok”. Alias makan enak ogah kerja. Mereka ingin sedikit bekerja, mereka tidak ingin capek, tetapi ingin mendapatkan uang banyak.
Mereka ingin menikmati kehidupan dunia, tanpa ragu. Sepanjang hidupnya mereka gunakan memikirkan kenikmatan dunia. Sejatinya mereka barisan kaum hedonis, yang menyusup di seluruh lapisan kehidupan. Termasuk di dunia politik.
Karena itu, jangan salah, jika sekarang ini Indonesia menjadi surganya para koruptor dan anak keturunannya. Mereka tahu korupsi menjadi modus atau bahkan manhaj (methode) bagi kehidupan mereka.
Mereka korupsi puluhan dan bahkan ratusan miliar, plus mengoleksi rumah mewah, isteri dan gundik banyak, dan hanya dihukum lima tahun, kemudian sesudah dua tahun di penjara, mereka bisa bebas, dan mereka menikmati kembali hasil korupsinya.
Tak heran kalau melihat para wajah koruptor, tak satupun mereka nampak wajahnya yang sedih. Selalu senyumnya mengembang di depan kamera. Mereka sudah habis rasa malunya. Mungkin korupsi itu sudah menjadi aqidah mereka. Bahkan, tokoh yang sudah jelas-jelas korup itupun, masih dibela habis oleh para anggota di komunitasnya.
Anehnya, model dan tipe orang-orang seperti itu, diangkat tinggi-tinggi oleh media, dan rakyat percaya serta memberikan dukungan mereka. Seakan mereka itu, benar-benar  tokoh dan pemimpin yang akan memberikan kebahagian bagi masa depan mereka. Semuanya itu, tak bisa  dilepaskan dari peran media. Menyulap dan mengubah, tokoh yang busuk,  menjadi tokoh yang harum.
Melalui media polling, rating mereka membubung, dan dikatakan tokoh yang dapat menjadi pemimpin masa depan. Media kafir dengan sangat fasih dan ahli, bagaimana menjadikan tokoh-tokoh busuk itu, kemudian menjadi tokoh yang harum dan wangi.
Mereka datang kepada rakyat dengan wajah yang penuh empati dan keberpihakan. Tetapi, sejatinya mereka itu, para begundal orang-orang kafir, dan menjadi alat penjajah kafir, yang bertujuan ingin menguasai dan menjajah negeri mereka.
Allah Azza Wa Jalla berfirman :

وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلا (٦٧)

“Dan mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar”. QS : al-Ahzab : 67.
Betapa rakyat dan bangsa selalu menjadi korban tokoh-tokoh dan komunitas, yang sejatinya para penjahat dan pengkhianat, dan mereka bukan pembawa jalan kebaikan dan kebenaran yang akan membahagiakan mereka.
Hanya dengan dukungan media kafir, mereka – tokoh-tokoh busuk, pengkhianat, dan pendusta, menjadi pahlawan. Wallahu a’lam. (voa-islam.com) , Senin, 01 Apr 2013.
(nahimunkar.com)


Jumat, 05 April 2013

Pastur Amerika Tuding Obama Gay

Added by sil sega on February 24, 2013.
Saved under Dunia
Tags: ,

moral-politik.com – Seorang pastur anti-gay asal Amerika Serikat bernama Scott Lively mengaku mempunyai bukti yang menunjukkan Presiden Amerika Barack Hussein Obama adalah seorang gay.
Scott menyatakan pengumuman mengejutkan itu pada situs organisasi bernama Pertahankan Keluarga yang dikelolanya, seperti dilansir situs Huffington Post. Scott selama ini dikenal sebagai pastur yang mendukung usulan pengajuan rancangan undang-undang bernama Bunuh Kaum Gay.
Pada situs itu termuat berita Obama pergi berlibur dengan Reggie Love, mantan asisten pribadinya, bukan dengan istrinya Michelle. Berita itu berhubungan dengan laporan dari sebuah artikel di The Weekly Standard yang menyatakan Obama baru pulang dari liburan sendiri.
Artikel itu menyebut itu adalah indikasi Obama dan Reggie Love menjalin hubungan dan kepergian mereka berlibur berdua adalah kencan. Tudingan ini telah beberapa kali dimuat di blog kelompok politik beraliran kanan, termasuk kelompok ultra-konservatif WorldNetDaily (WND). Kelompok itu mengklaim Love selama ini sempat dipotret dengan gerak-gerik menunjukkan dia seorang homoseksual dalam pesta di Universitas North Carolina.
Lively tahun lalu menyatakan Obama pernah menikah dengan seorang pria dan dia menguatkan argumennya dengan dukungan sebuah rekaman video dan teori konspirasi dari Jerome Corsi.
Artikel di blog WND yang bekerja sama dengan kolumnis berita gosip Kevin DuJan menyatakan Obama merupakan pengunjung di bar kaum gay di Kota Chicago. “Saya pikir Obama ingin menyembunyikan kehidupan ala gay yang dia jalani,” kata DuJan kepada Corsi.
“Jika Anda mampir ke bar itu, orang tua di sana yang sudah 25 tahun mengunjungi bar itu akan menceritakan kisah ini,” kata DuJan.


Komentarku ( Mahrus ali): 
Cinta sejenis bukan cinta dengan lawan jenis adalah dilarang, bukan diperintahkan.Ini kedurhakaan bukan ketaatan, durhaka kepada Allah dan taat kepada setan. Tak layak seorang pemimpin, bahkan jelek sekali  memiliki gaya hidup seperti itu> hendaknya pimpinan memiliki karakter yang elok bukan karakter yang sangat buruk. Ia mirip dengan kaum Luth yang dimurkai oleh Allah bukan kaum yang di senangi atau diridaiNya. Ingat ayat ini:
وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ(28)أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ وَتَقْطَعُونَ السَّبِيلَ وَتَأْتُونَ فِي نَادِيكُمُ الْمُنْكَرَ فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا ائْتِنَا بِعَذَابِ اللَّهِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ(29) قَالَ رَبِّ انْصُرْنِي عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ(30)وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُشْرَى قَالُوا إِنَّا مُهْلِكُو أَهْلِ هَذِهِ الْقَرْيَةِ إِنَّ أَهْلَهَا كَانُوا ظَالِمِينَ(31)قَالَ إِنَّ فِيهَا لُوطًا قَالُوا نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَنْ فِيهَا لَنُنَجِّيَنَّهُ وَأَهْلَهُ إِلَّا امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ(32)وَلَمَّا أَنْ جَاءَتْ رُسُلُنَا لُوطًا سِيءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالُوا لَا تَخَفْ وَلَا تَحْزَنْ إِنَّا مُنَجُّوكَ وَأَهْلَكَ إِلَّا امْرَأَتَكَ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ(33) إِنَّا مُنْزِلُونَ عَلَى أَهْلِ هَذِهِ الْقَرْيَةِ رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ(34)وَلَقَدْ تَرَكْنَا مِنْهَا ءَايَةً بَيِّنَةً لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ(35)
Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kamu". Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu? Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: "Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar". Luth berdo`a: "Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu". Dan tatkala utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk (Sodom) ini, sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zalim". Berkata Ibrahim: "Sesungguhnya di kota itu ada Luth". Para malaikat berkata: "Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah karena (kedatangan) mereka, dan (merasa) tidak mempunyai kekuatan untuk melindungi mereka dan mereka berkata: "Janganlah kamu takut dan jangan (pula) susah. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikutmu, kecuali isterimu, dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan)." Sesungguhnya Kami akan menurunkan azab dari langit atas penduduk kota ini karena mereka berbuat fasik. Dan sesungguhnya Kami tinggalkan daripadanya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang berakal.



Kamis, 21 Maret 2013

Hidup sampai mati untuk golongan bukan Islam

Biografi KH. Ali Maksum, Krapyak, Yogyakarta


BIOGRAFI KH. ALI MAKSUM, PONPES KRAPYAK, YOGYAKARTA

Alhamdulillah, di sore hari ini saya dapat posting lagi di blog sederhana ini. kali ini saya akan memposting biografi seorang ulama besar nuswantara, gurunya guru-guru saya, beliau adalah Syaikhuna KH. Ali Maksum almarhum, yang merupakan pengasuh pondok pesantren Krapyak, Yogyakarta. Berikut Biografi beliau:
Ali bin Maksum bin Ahmad dilahirkan di Lasem Rembang Jawa Tengah pada tanggal 2 Maret 1915. Ayahnya, Maksum adalah pendiri Pondok Pesantren Al-hidayah Lasem Rembang. Nama aslinya hanyalah Ali. Sedangkan Nama Ali Maksum adalah gabungan dari nama ayahnya.   
Ali Maksum dikenal sebagai gurunya para intelektual Muslim. Di antara para intelektual Muslim yang pernah berguru kepadanya adalah, KH Abdurrahman Wahid, KH Chalil Bisri, KH Masdar Farid Mas’udi, KH Ahmad Musthofa Bisri, dan sebagainya.
Menurut Gus Mus, panggilan akrab KH Ahmad Musthofa Bisri, KH Ali Maksum dan ayahnya KH Bisri Mustofa adalah guru yang paling banyak mempengaruhi perjalanan hidupnya. Kedua kiai itu memberikan kebebasan kepada para santri untuk mengembangkan bakat seni.       
Semasa kecil Ali Maksum dibimbing langsung oleh ayahnya. Sejak usia dini, ia sudah akrab dengan dunia pesantren dan kitab kuning. Pertama kali, Ali Maksum diajari mengaji Alquran oleh ayahnya. Setelah lancar, Ali Maksum dikirim ayahnya untuk belajar di Pondok Pesantren Termas Pacitan di bawah asuhan KH Dimyati. Sejak di Termas inilah, Ali Maksum terlihat menonjol dan akhirnya ikut membantu gurunya mengajar dan mengurus pesantren dan membuat karangan tulisan.     
Ali Maksum dikenal cerdas dan tekun. Ia akhirnya ditunjuk menjadi kepala madrasah di Pondok Pesantren Termas Pacitan. Selama delapan tahun di Termas, Ali Maksum mempelajari dan menguasai berbagai cabang ilmu agama.  
Setelah dewasa, Ali Maksum menikah dengan Hasyimah, putri KH M Munawwir al-Hafidh al-Muqri Krapyak Yogyakarta. Tidak lama setelah menikah, dengan dibantu oleh seorang saudagar Kauman Yogyakarta Ali Maksum berhaji ke Mekah. Kesempatan ini beliau gunakan pula untuk belajar ilmu agama kepada para ulama Mekah.        
Di Mekah, Ali Maksum belajar agama kepada Sayyid Alwi al-Maliki al-Hasani, Syaikh Masyayikh Hamid Mannan, Syaikh Umar Hamdan, dan lain-lain. Ketekunan dan kecerdasannya, akhirnya mengantarkan dirinya menjadi ulama yang fasih berbahasa Arab.
Setelah dua tahun mengaji di Mekah, Ali Maksum kembali ke tanah Jawa pada masa pemerintahan Jepang tahun 1942. Ketika itu pesantren ayahnya di Lasem nyaris bubar. Sedianya beliau hendak tinggal di Lasem membantu ayahnya mengembangkan pesantren. Namun, sepeninggal KH Munawwir Krapyak, pondok Krapyak membutuhkan dirinya untuk melanjutkan perjuangan di bidang pendidikan. Bersama-sama dengan KH R Abdullah Affandi Munawwir dan KH R Abdul Qadir Munawwir, ia menghabiskan umur dan segenap daya upaya untuk merawat dan mengembangkan pondok Krapyak. Dari pondok Krapyak inilah cikal bakal pesantren Alquran di Indonesia.
Pesantren yang diasuhnya semakin mengalami perkembangan. Dalam bidang pendidikan pesantren, Ali Maksum merintis pola semi modern dengan sistem klasikal hingga berkembanglah madrasah-madrasah hingga saat ini. Dari kesabaran dalam berjuang pondok Krapyak yang diasuhnya telah berdiri dan berkembang Taman Kanak-Kanak, Madrasah Diniyyah, Madrasah Tsanawiyyah, Madrasah Aliyah, Madrasah Tahfidzil Quran dan Madrasah Takhassusiyah untuk para santri mahasiswa. Di samping itu kemajuan telah dicapainya dalam bentuk pembangunan sarana dan prasarana fisik.
Selain mengasuh pesantren, Ali Maksum juga diminta untuk menjadi dosen luar biasa pada Institut Agama Islam Negeri (sekarang UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Di bidang kemasyarakatan dan politik, Ali Maksum pernah menjadi anggota majlis Konstituante, sebuah lembaga pembuat Undang-Undang Dasar pada masa rezim Orde Lama.
Dalam organisasi Nahdlatul Ulama, Ali Maksum pernah memangku jabatan sebagai Rais ‘Am Syuriyyah yang mengantarkan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama keluar dari jalur politik pada masa rejim Orde Baru.     
Sejak tahun 1970, Ali Maksum telah memangku jabatan Rais Syuriah Pengurus wilayah NU Yogyakarta. Ia terpilih sebagai Rais ‘Am Syuriah Pengurus Pusat Nahdhatul ‘Ulama dalam musyawarah alim ulama NU di Kaliurang Yogyakarta pada tahun 1981.
Pada tahun 1984, pada muktamar ke-27 di Sitobondo, Ali Maksum terpilih sebagai penasihat dan muktasyar PBNU sampai wafatnya.     
Di sela-sela mengasuh ribuan santrinya, Ali Maksum masih saja menyempatkan diri untuk memberikan pengajian di masyarakat. Ali Maksum telah menulis beberapa kitab, di antaranya; Hujjah Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Argumentasi Ahlussunnah wal jama’ah), Tasriful Kalimah fis Shorf (Tasrif Kalimah dalam Shorof), Mizan al-’Uqul fi ‘Ilmil Manthiqi (Morfologi Arab yang Jelas), Ilmu Mantiq dan beberapa kitab berbahasa Arab lainnya.
Dari Pondok Krapyak yang dipimpinnya itu telah dilahirkan ratusan kyai dari ribuan santri yang mengaji pada beliau pada kurun 1946 hingga 1989. Pondok Krapyak, beberapa hari sebelum dirinya meninggal, menjadi tempat penyelenggara Muktamar Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, pertemuan paling bergengsi organisasi para ulama Indonesia.
KH Ali Maksum wafat pada tangga 7 Desember 1989. Dimakamkan di Dongkelan Bantul Yogyakarta. Sekarang, pengelolaan Pondok Pesantren ditangani oleh lembaga berbadan hukum dengan nama Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta dipimpin oleh KH Attabik Ali, putra pertama dari KH Ali Maksum.


 
Komentarku ( Mahrus ali): 
Kesan saya dalam membaca biografi tsb adalah KH Ali Maksum  figur golongan, tokohnya, bukan anggota biasa, sangat fanatik kepada golongannya bukan kepada Islam. Jadi hidupnya sampai matinya  untuk kepentingan golongan itu, terkadang berbahaya kepada golongan yang lain.
Setahu saya, bergolong – golong dalam al Quran dilarang, lihat ayat :
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ(105)
Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat, Ali imran
Memperjuangkan golongan adalah kedurhakaan untuk mendekat kepada setan bukan kebaikan untuk mendekat kepada Allah.


Rabu, 20 Maret 2013

Mahbub Junaidi Nasionalis atau pejuang Islam

Jakarta, NU Online
“Buah tidak jauh dari pohonnya.” Demikian pepatah bijak mengatakan. Kelakuan baik dan buruk anak membebek pada orang tuanya. Kuda terbang memang takkan melahirkan kuda lumping, tetapi kuda pacu tak terkalahkan pun masuk di akal. Namun, buaya boleh jadi memperanakkan kadal.

Sedikit-banyaknya tentu jamak. Kalau banyak kebaikan yang ditiru, tentu kita bersyukur. Tetapi kalau terlalu banyak keburukan dicontoh, maka pening akan mendera isi batok kepala tetangga seisi kampung.
Benar-tidaknya pepatah di atas, Wallahu A‘lam. Tetapi sekurang-kurangnya kebenaran itu berlaku bagi mantan Ketua II PBNU (1979) almarhum Mahbub Djunaidi.
Ia seorang kolumnis cap jempol yang menjadi rujukan utama bagi para penulis di Indonesia. Karyanya tersebar di harian Duta Masyarakat, Warta NU, dan sejumlah koran nasional lainnya. “Tulisannya kritis dan berbobot,” kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. 
Kang Said menyatakan kerinduannya pada Mahbub saat menerima kru NU Online di Kantor PBNU Lantai 3, Jakarta Pusat, Senin (18/3) petang. Kru NU Online yang didampingi dua pendirinya Masduki Baidlowi dan Abd. Mun'im DZ, menyampaikan akan menggelar harlah ke-10. "NU Online harus ada yang seperti Pak Mahbub dong. Ya minimal ditiru istiqomahnya, kalau tidak bisa meniru kualitasnya," pinta Kang Said disambut tertawa kru NU Online.
Mahbub kerap melihat pemerintah di masanya tersasar. Ia cepat-cepat menuntun tangan pemerintah. Seperti membimbing orang buta menyeberang jalan, ia tak ingin pemerintahnya tercinta mendapat celaka akibat disambar pengendara liar atau terjerumus masuk lubang jalan. Baginya, kalau pemerintah salah-salah ambil keputusan maka selain pemerintah, rakyat pun menerima getahnya.
Berhubung orang tuanya (KH Muhammad Djunaidi) bukan tukang pukul, jawara pasar, tukang jagal, atau yang dapat dipersamakan dengan itu, maka Mahbub tidak mewarisi main lempar sekepal batu ke halaman kantor pemerintah.
Ia pun tidak pergi kemana-mana. Ia cukup duduk menghadap meja ketik, lalu merampungkan satu-dua halaman kolom untuk dikirim ke surat kabar. Kolomnya yang “menyentil” menjadi jurus andalannya.
Kalau ada peraturan atau undang-undang yang terselip lecak di saku baju safari pejabat, maka satu judul kolomnya segera tercetak di sebuah harian yang akan diketahui banyak orang. Hal ini dimaksudkan agar pikiran masyarakat dan pemerintah menjadi enteng; enak makan dan gampang tidur.
“Nafas kolomnya selalu pro rakyat. Namun, ungkapan-ungkapannya yang humroris kerap membuat pembaca tertawa tiba-tiba,” tambah Kang Said.
Misalnya terkait tradisi kasak-kusuk anggota parlemen baik di masa Orde Lama maupun Orde Baru, Mahbub mengungkapkan ketidaksetujuannya dalam majalah Tempo 1975 (5/4), “Maka ada kabinet kerja di bawah PM Djuanda itu, teriring semboyan: ‘Sedikit bicara, banyak kerja.’ Semua orang yang bermodal mulut semata-mata menyempit lapangannya. Bursa mulut turun, dan keringat naik derajat. 
Kegaduhan sedikit demi sedikit berkurang, orang makin lama bicara makin pelan, sehingga mau tidak mau coraknya berganti jadi kasak-kusuk. Padahal, ditilik dari sudut kebajikan, omong besar dan kasak-kusuk sama-sama bukan tabiat yang layak dipuji, seperti halnya orang kegemukan atau kekurusan.
Melihat gelagat ini, semboyan ditinjau kembali. Bukannya ‘Sedikit bicara banyak kerja,’ melainkan ‘Banyak bicara banyak kerja.’ ‘Akur,’ kata KH Idham Chalid waktu itu. Mengapa? Sebab, bicara saja tanpa kerja itu namanya beo. Bekerja saja tanpa bicara itu namanya maling. Perumpamaan ini membuat para pendengar tertawa terpingkal-pingkal, baik yang merasa dirinya memang beo, atau yang merasa dirinya memang maling.”
Mahbub meyakini perihal setuju-tidak sebagai hak. Kalau setuju, pemerintah perlu dijunjung tinggi seperti tetangga baru pulang naik haji. Kalau tidak setuju, jidat pemerintah tidak harus dijatuhkan palu godam. Menjewer telinga pemerintah pun tidak. Ia menemukan nalar kritis namun humoris dari kebiasaan para kiai berhadapan dengan pemerintah.
Lantaran keturunan baik-baik, jalan memutar yang dipilih Mahbub adalah mengajak pemerintah bicara baik-baik lewat surat kabar. Karena, ia saat itu yakin bahwa pejabat pemerintah merupakan pelanggan setia koran yang dibacanya saban pagi barang semenit sebelum menuju kantor.
Penulis: Alhafiz Kurniawan




Komentarku ( Mahrus ali): 
Setahu saya sosok Mahbub Junaidi itu bukan pejuang Islam, tapi nasionalis. Dia juga pernah menjadi ketua PWI , juga menulis di majalah Tempo. Dia sektarian yang fanatik kepada golongannya bukan kepada Islam yang anti golongan. Dia dihormati dikalangan golongannya dan terhina dimata ahli hadis dan Al Quran. Dia terancam dengan ayat  bahaya fanatikus firqah sbb:
مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah,
مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ(32)
yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.

Ayat tsb menyatakan orang yang bergolong – golong apalagi tokohnya adalah  syirik.


Selasa, 12 Maret 2013

Penghargaan yang mulia menurut Nasionalis, hina menurut ahli hadis

Solo , NU Online
Ketua MK, Mahfud MD, hadir di Solo dalam rangka Dies Natalies ke-37, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Senin (11/3) kemarin.

Dalam kesempatan itu UNS juga memberikan penghargaan kepada Mahfud yang dinilai berperan dalam penegakan hukum, konsisten, dan memiliki komitmen.

Rektor UNS, Ravik Karsidi mengatakan, Mahfud MD terbukti memiliki komitmen tinggi dan berkiprah penting dalam penegakan hukum di Indonesia. Peran itu sangat menonjol saat ia menjadi Ketua MK.

"Ini merupakan penghargaan tertinggi UNS dalam pengembangan keilmuan dan kemasyarakatan," kata Ravik di Kampus UNS Kentingan.

Mahfud mendapatkan penghargaan bertitel 'Parasamya Adi Karya Anugraha Yustisia Baraya'. Ia memaparkan pidato 'Penegakan Hukum Dalam Rangka Meningkatkan Daya Saing dan Keunggulan Bangsa'.

Mahfud mengatakan, timbulnya berbagai problem di Indonesia, termasuk melemahnya daya saing bangsa, bukan disebabkan oleh kesalahan konseptual paradigmatik. Tapi disebabkan banyaknya pejabat yang tidak memiliki kejujuran ilmiah.

“Kejujuran ilmiah merupakan kunci kejujuran di tengah masyarakat”, tandas Mahfud.Dies Natalies UNS dihadiri sejumlah tokoh seperti Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh dan Akbar Tandjung.

Kontributor: Ajie Najmuddin



Komentarku ( Mahrus ali): 
Itu penghargaan mulia di mata nasionalis, hina dimata ahli hadis, mungkin juga kesenangan bagi ahli bid`ah dan hal yang tidak disukai oleh ahlis sunnah. Kita ingat firmanNya:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ(50)
Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? Maidah

 

Jumat, 08 Februari 2013

Harun Nasution bagai dagang racun disebutnya obat



Kalau ada pedagang yang jualan racun namun disebutnya obat untuk menyembuhkan penyakit, maka akan disebut penipu yang membahayakan.

Bagaimana kalau yang jualan tipuan itu seorang intelektual bahkan penyusun kurikulum perguruan tinggi Islam se-Indonesia? Tentu sangat membahayakan. Harun Nasution sendiri mengaku, ketika mengubah kurikulum itu dari Ahlus Sunnah diubah jadi (aliran sesat) Mu’tazilah, banyak rektor IAIN yang tua-tua tidak setuju, namun kalah pengaruh dengan Muki Ali yang mantan Menteri Agama. (Dua-duanya sudah di alam kubur).

Dalam pepatah, sekali lancung ujian, seumur hidup orang tak percaya. Sekali menipu, maka seumur hidup orang tak percaya.

Seharusnya Ummat Islam juga sejak lama tidak percaya kepada Harun Nasution dan kurikulum yang dibuatnya. Namun karena yang berkuasa selama ini bukan Ummat Islam yang menjunjung tinggi Islam, namun sebaliknya bahkan menghadapi Islam, maka penipu itu lah yang dipakai karyanya hingga kini. Dan itulah sejatinya pembelokan Islam, dari Tauhid ke liberal kemudian pluralism agama dan multikulturalisme alias kemusyrikan baru. Memang arahnya adalah pemurtadan.

Pantas saja di antara orang yang dijagokan oleh Harun Nasution yakni Azra yang dua kali ( ?) jadi rektor IAIN (kini UIN) Jakarta dan masih memimpin sekolah Pascasarjana UIN Jakarta begitu lobanya dalam membela pemalsu Islam yaitu Ahmadiyah, dan juga membela budaya dari orang kafir apa yang disebut valentin’s day. Bukankah itu menjerumuskan Ummat Islam ke arah murtad ?

Masih tidak percaya juga? Baca buku Hartono Ahmad Jaiz, Ada Pemurtadan di IAIN.

Dan berikut ini diantara bukti tipuan Harun Nasution dalam membelokkan arah Islam.

***

    Antara Harun Nasution, Attaturk dan Sekularisme

    Jum’at, 08 Februari 2013

    Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi

    EKSPOINEN neo-Mu’tazilah, Harun Nasution (1919-1998) menyatakan bahwa Mustafa Kemal Attaturk merupakan orang penting dalam pembaruan dalam tubuh Turki Utsmani. Dalam bahasa Harun, “Dalam suasana inilah muncul Mustafa Kemal, seorang pemimpin Turki baru, yang menyelematkan Kerajaan Usmani dari kehancuran total dan bangsa Turki dari penjajahan Eropa. Ialah pencipta Turki modern dan atas jasanya, ia mendapat gelar Attaturk (Bapak Turki).” (Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam: Sejarah dan Gerakan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), hlm. 142).

    Jadi, menurut Harun, Attaturk adalah pemimpin Turki baru, yang menyelamatkan Kerajaan Usmani sehingga Turki berubah menjadi “modern”. Dengan prestasi pembaruan itu lah Mustafa Kemal menjadi “Bapa Turki” Modern (Attaturk). Padahal, dalam pembaruannya – seperti juga diakui oleh Harun – Attaturk dipengaruhi oleh ide golongan “nasionalis” dan ide golongan Barat. Harun juga menambahkan dengan jujur, “Setelah perjuangan kemerdekaan selesai, demikian Mustafa Kemal, perjuangan baru dimulai, yaitu: perjuangan untuk memperoleh dan mewujudkan peradaban Barat di Turki. Peradaban Barat akan diambil bukan hanya sebahagian-sebahagian, tetapi dalam keseluruhannya.” (Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, hlm. 147).

    Ini mirip dengan pemikir sekular asal Mesir, Thaha Husein, yang menyatakan, “Kita harus mengadopsi peradaban Barat manis dan getirnya.” (Ṭāhā Ḥusayn, Mustaqbal al-Tsaqāfah fī Miṣr)

    Sejatinya pembaruan yang diajukan oleh Attaturk, sebagaimana dicatat juga oleh Harun ketika mengutip pandangan Ahmed Agouglu dalam The Development of Secularism, adalah “sekularisasi”.

    Dalam satu pidatonya, Attaturk menyampaikan bahwa di zaman yang dalamnya ilmu-pengetahuan membawa perubahan terus-menerus bangsa yang berpegang teguh pada pemikiran dan tradisi tua lagi usang, tidak akan dapat mempertahankan wujudnya.

    Masyarakat Turki harus dirobah menjadi masyarakat yang mempunyai peradaban Barat, dan segala kegiatan reaksioner harus dihancurkan. (Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, hlm. 148). Menyimpulkan ide pembaruan Attatur, Harun mencatat, “Westernisme, sekularisasi, dan nasionalisme itulah yang menjadi dasar pemikiran pembaharuan Mustafa Kemal.” (Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, hlm. 149).

    Statemen Attaturk yang gandrung kepada Barat dan peradabannya dapat dilihat dalam pernyataanya berikut:

    “There are a variety of countries, but there is only one civilization. In order for a nation to advance, it is necessary that it join this civilization. If our bodies are in the East, our mentality is oriented toward the West. We want to modernize our country. All our efforts are directed toward the building of a modern, therefore Western, state in Turkey. What nation is there that desires to become a part of civilization, but does not tend toward the West?” (Lihat, Alev Ҫinar, Modernity, Islam, and Secularism in Turkey: Bodies, Places, and Time(Minneapolis-London: University of Minnesota Press, 2005), hlm. 5).

    Namun ternyata, ide pembaruan ala Barat yang dipaksakan oleh Attaturk itulah sejatinya awal-mula bencana yang menimpa Turki Usmani. Sampai akhirnya Attaturk punya andil dalam menghapuskan Kekhalifan Turki Utsmani tahun 1924. Dalam Ghirah dan Tantangan terhadap Umat Islam, Hamka menulis bahwa lafadz azan pun diubah oleh Attatur, dari Allahu Akbar menjadi Allah Buyuk. Karena, Harun juga mencatat, Mustafa Kemal melihat bahwa jabatan khalifah juga harus dihapuskan dan soal ini dibicarakan oleh Majlis Nasional Agung di bulan Februari 1924. Perdebatan berjalan sengit, tetapi akhirnya pada tanggal 3 Maret 1924, suara di Majlis memutuskan penghapusan jabatan Khalifah. Khalifah Abdul Majid diperintahkan meninggalkan Turki, dan ia bersama keluarganya pergi ke Swiss. (Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, hlm. 151).

    Dan jangan lupa, Majlis Nasional ini adalah bentukan Mustafa Kemal bersama teman-temannya tahun 1920. Melalui gerakannya ini sekutu akhirnya mengakui bahwa Attatur dan kawan-kawan dianggap sebagai penguasa de facto dan de jure di Turki. Dan pada tanggal 23 Juli 1923 ditanda-tangani Perjanjian Lausanue, dan pemerintahan Mustafa Kemal mendapat pengakuan internasional. (Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, hlm. 147).

    Dalam posisi ini sejatinya Harun Nasution keliru besar jika menganggap westernisasi dan sekularisasi rakyat Turki yang dilakukan oleh Attaturk sebagai “pembaruan”. Jelas ini adalah “pembaratan” (westernisasi). Karena Harun sendiri mencatat, “Betul syariat telah dihapus pemakaiannya dan pendidikan agama dikeluarkan dari kurikulum sekolah.” (Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, hlm. 152).

    Begitu pun, menurut Harun, Turki belum sekular “kāffah”. Anehnya, Harun malah mencatat demikian, “Mustafa Kemal sebagai rasionalis dan pengagum Barat tidak menentang Islam. Baginya Islam adalah agama yang rasional dan perlu bagi umat manusia. Tetapi agama yang rasional ini telah dirusak oleh tangan manusia. Oleh sebab itu itu ia melihat perlunya diadakan pembaharuan dalam soal agama untuk disesuaikan dengan bumi Turki.” (Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, hlm. 153).

    Bentuknya pembaruan yang diusulkan oleh Attatur adalah: Al-Qur’an diterjemahkan ke dalam bahasa Turki, khutbah Jum’at dilakukan dalam bahasa Turki, bahkan tahun 1931 azan dalam bahasa Turki resmi diberlakukan. (Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, hlm. 153).

    Benar-benar tragis. Begitu pun ia harus tetap dianggap sebagai “pembaruan”. Bagaimana mungkin Harun menyimpulkan Attatur tidak menentang Islam. Justru Attaturk adalah antek-Barat yang takut terhadap syariat Islam, makanya dihapuskan dari bumi Turki.

    Buktinya, gelombang sekularisme dan sekularisasi yang ditentang oleh golongan Islam dipatahkan oleh Attaturk. (Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, hlm. 153). Ini bukti jelas bahwa Attaturk membenci Islam dan syariatnya. Tapi lucunya, dengan lugunya Harun Nasution tetap membela Attaturk sembari menulis dengan entengnya, “Sekularisme Mustafa Kemal tidak menghilangkan agama Islam dari masyarakat Turki, dan Mustafa Kemal memang tidak bermaksud demikian. Yang ia maksud adalah menghilangkan kekuasaan agama dari bidang politik dan pemerintahan.” (Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, hlm. 154).

    Di sini tampak jelas bahwa bukan hanya Attaturk yang setuju dengan “sekularisme” dan “sekularisasi” tetapi juga Harun Nasution. Ide ini memang yang dikagumi dan dihayati oleh kaum liberal-sekular, faṣl al-dīn ‘an al-dawlah (memisahkan agama dari negara). Satu ide Barat-Kristen yang sekular: yang memisahkan hak raja dan kaisar. Padahal, seperti kata Mohamad Natsir, Islam itu adalah ideologi.

    Dengan tegas Natsir menyatakan, “Menegakkan Islam tidak dapat dengan membiarkan pembinaan masyarakat dan bernegara dengan cara paham lain. Oleh sebab itu, dalam masa Revolusi, umat Islam di Indonesia bukan saja dijiwai oleh aspirasi nasional melainkan juga aspirasi Islam.” Pandangan Natsir itu dapat disimak dalam tulisannya “Islam sebagai Ideologie” (Jakarta: Penyiaran Ilmu, 1951), hlm. 62).

    Di mana menurutnya Islam sebagai risalah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. telah memberikan pedoman untuk menyelenggarakan pemerintahan agar negara kuat dan masyarakatnya sejahtera. Namun, Natsir menolak sistem kependetaan, sebagaimana pernah diterapkan oleh negara-negara Barat di Abad Pertengahan (di zaman Montesquieu). Dalam “Sumbangan Islam bagi Perkembangan Dunia” Natsir menyebutkan:

    “Orang Islam tidak memerlukan kependetaan. Dalam Islam ada ahli-ahli agama yang disebut ulama. Mereka itu adalah guru dari pelbagai cabang ilmu agama…Fukaha dan guru-guru hukum Islam…Tetapi mereka bukanlah pendeta…Mereka tidak lebih hanyalah Imam, pemimpin shalat…Imam itu hanya suatu jabatan berdasar keperluan-keperluan praktis untuk penyelenggaraan shalat, tidak suatu jabatan resmi.” (Lihat, H. Mas’oed Abidin, Gagasan dan Gerak Dakwah Natsir (Yogyakarta: Gre Publishing, 2012), hlm. 98-99).

    Maka wajar jika Attaturk begitu benci kepada Islam berikut syariatnya. Karena ide pembaruannya adalah “westernisasi” dan “sekularisasi”. Ini jelas ide Barat. Dan Barat dipastikan anti-Islam. Salah satunya dianut dimana-mana oleh negara jajahan Barat, yakni “nasionalisme”. Namun harus disyukuri bahwa spirit Islam kembali kepada tubuh Turki yang mati-suri itu. Bediuzzaman Said Nursi disinyalir memiliki pengaruh yang tidak kecil terhadap keberagamaan negara Turki yang menggeliat cepat hari ini. Ia bahkan diposisikan vis-à-vis sekularisme Kemalism. (Lihat, Umuat Azak, Islam and Secularism in Turkey: Kemalism, Religion and the Nation State (London-New York: I.B. Tauris, 2010).

    Selain Nursi tentunya masih ada pemikir lain yang coba mengembalikan Islam ke Turki, termasuk dari sisi pemerintahan yang akhir-akhir ini banyak menyentak dunia Barat. Istilahnya: azan dan jilbab kembali ke Turki. Memang begitulah. Pembaruan tak akan harmonis dengan sekularisme. Dan pembaruan tidak serta-merta dimaknai sebagai tajdīd. Konon lagi dikaitkan dengan westerniasi, sekularisasi, dan liberalisasi. Karena konsep tajdīd dalam Islam bukan merusak Islam, apalagi membenci dan memberangusnya. Tajdīd adalah kebutuhan umat, karena di dalamnya ada proses pengembalian umat kepada Islam, agar meraka kembali menghayati Islam. Dan tajdīd tidak membenci al-Qur’an, karena pelakunya adalah manusia-manusia yang dekat dengan waḥyu. Makanya tajdīd diakui Nabi.

    Di sini tampak bahwa ide-ide pembaruan hari ini asalnya adalah Barat, karena isinya adalah: sekularisme. Dan sekularisme tidak lahir dari Islam, jelas tidak akan pernah diakui apalagi ditiru dan digugu. Seperti kata Olivier Roy, Secularism Confronts Islam (New York: Columbia University Press, 1893). Wallāhu al-hādī ilā sabīl al-rasyād!

    Penulis adalah guru ngaji di Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Medan, Sumatera Utara dan pengurus Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Sumatera Utara 

    Red: Cholis Akbar/hidayatullah.com

(nahimunkar.com)

Selasa, 15 Januari 2013

Puluhan Ribu Umat Islam Hadiri Konser Habib Syech






Pekalongan, NU Online
Puluhan ribu ummat Islam di Pekalongan dan sekitarnya hadiri pagelaran konser sholawat Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaff yang berlangsung di Jalan Hasanuddin Senin (14/1).

Acara konser sholawat dalam rangka peringatan Haul Habib Mohammad bin Yahya dan peringatan Maulidur Rasul SAW 1434 H. serta pelantikan masal 12 ranting NU yang digelar oleh Pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama Pekalongan Timur.

Meski sebelum konser dimulai Pekalongan sempat diguyur hujan sejak sore, tak menyurutkan langkah pencinta lagu lagu Habib Syech untuk hadir menyaksikan dan mendengarkan secara langsung penampilan sang idola yang cukup fenomenal.

Diawali dengan lagu sholawat NU, Habib Syech langsung menggebrak dengan lagu lagunya yang hits dilantunkan secara bersambung diiringi gerakan tangan puluhan ribu pengunjung dan berbagai atribut bendera dan spanduk yang tiada henti. Bahkan di tengah tengah ribuan pengunjung terdapat bendera NU dan Badan Otonomnya untuk ikut dikibarkan selama konser berlangsung.

Sebelum konser dimulai, Habib Syech mengingatkan peda pengunjung untuk lebih hati-hati dan waspada terhadap barang bawaannya seperti handphon, perhiasan dan uang. Pasalnya, hampir disetiap dirinya menggelar konser selalu terdapat banyak korban para copet yang mengambil kesempatan padatnya pengunjung.

Dengan gayanya yang khas, Habib Syech mampu menghipnotis puluhan ribu pengunjung mulai dari anak anak, remaja hingga orang tua yang duduk secara rapi meski harus berdesakan untuk terus mengikuti lantunan lagu demi lagu yang tidak asing di telinga ummat Islam.

Ketua Pengurus MWC NU Pekalongan Timur RM Firdaus mengatakan, kegiatan konser sholawat Habib Syech dilakukan dalam rangka memperingati haul Habib Mohammad bin Yahya sekaligus memperingati Maulidurrasul Muhammad SAW 1434 Hijriyah serta pelantikan bersama 12 ranting NU di Pekalongan Timur yang telah mendapatkan SK dari PCNU Kota Pekalongan.

Dikatakan, untuk menyemarakkan acara, pihaknya bersama Muslimat dan Fatayat NU juga menggelar kegiatan penunjang antara lain yakni jalan sehat warga NU, bazar dan fashion show serta khitanan masal yang diikuti 24 anak.


Redaktur    : Mukafi Niam
Kontributor: Abdul Muiz P
Komentarku ( Mahrus ali): 
Setahu saya, banyak kesyirikan dalam kasidah yang di lantunkan oleh habib Syaikh, boleh anda dengarkan dalam cd pengajian saya yang ke 17. Klik lagi disini:
Dan haul sendiri barang baru bukan barang lama yang ada tuntunannya dari para sahabat atau tabiin. Ia hanya mengikuti budaya masarakat sekarang bukan masarakat sahabat. Dan kita diperintahkan mengikuti para sahabat sebagaimana ayat:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ(100)
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. Taubat 100
 

Jumat, 11 Januari 2013

Siapa Abdurrahman Wahid Itu

by: Hartono Ahmad Jaiz
-Ya Allah, jangan Engkau menjadikan fitnah (terhadap agama) kami sesudah (wafat)nya–
Abdurrahman wahid alias Gus Dur  lahir di Jombang Jawa Timur, 4 Agustus 1940, anak tertua KHA Wahid Hasyim. Nama aslinya Abdurrahman Ad-Dakhil bin KHA Wahid Hasyim. Kakek Gus Dur adalah orang terkemuka pendiri NU (Nahdlatul Ulama) bernama KH Hasyim Asy’ari, maka Gus Dur adalah cucu pendiri NU.
Di antara anak KHA Wahid Hasyim adalah Abdurrahman Wahid. Ada lagi adik-adiknya yaitu Aisyah Hamid Baidlowi, ketua umum Muslimat NU (1995-2000) dan anggota DPR dari Partai Golkar. Perempuan ini memperjuangkan persamaan gender (sebagaimana suara orang-orang sekuler dan non Muslim) lewat organisasi perempuan NU. Adik Gus Dur yang tidak ia sukai (menurut buku NU dan Islam Politik) adalah Salahuddin Wahid, pernah menjadi pimpinan PKU (Partai Kebangkitan Umat),  kini (th 2010) jadi salah seorang ketua PBNU dan Ketua ICMI serta duduk di Komnas HAM. Adik Gus Dur yang lainnya lagi adalah Hasyim Wahid, pernah aktif menjadi salah seorang Ketua DPP PDI-P.
Abdurrahman Wahid lahir di Denanyar, Jombang, Jawa Timur, 4 Agustus 1940. Ia anak tertua KHA Wahid Hasyim dengan Ny H Solehah. Kakek dari pihak ayahnya adalah KH Hasyim Asy’ari, pengasuh Pondok Tebuireng Jombang, dan pernah memangku Jabatan Rais Akbar PBNU. Sedang kakek dari phak ibu, KH Bisri Syamsuri, juga pengasuh Pesantren di Denanyar Jombang, pernah pula memangku jabatan Rais ‘Am PBNU. Kedua kiai ini tokoh cikal bakal pendiri NU di samping KHA Wahab Hasbullah.
Abdurrahman tamat Sekolah Rakyat (Sekolah Dasar) di Jakarta 1953, lalu sekolah di Yogyakarta, SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) tamat 1956, dan ia mengaji kepada KH Ali Maksum di Krapyak Yogya, lalu ke Pesantren Tegalrejo Magelang, pindah ke Pesantren Tambak Beras Jombang 1959-1963. Kemudian belajar ilmu-ilmu Islam dan sastra Arab di Universitas Al-Azhar Cairo (Mesir), kemudian pindah ke Fakultas Sastra Universitas Baghdad.
Kariernya banyak di pesantren. Jadi guru Mu’allimat pesantren Tambak Beras Jombang (1959-1963), sekretaris Pesantren Tebuireng Jombang (1974-1979), disamping sebagai dekan Fakultas Ushuluddin Universitas Hasyim Asy’ari Jombang, dan pengasuh Pesantren Ciganjur Jakarta. Baru pada tahun 1984 ia terlibat langsung dalam kepengurusan NU –Nahdlatul Ulama setelah dipilih sebagai Ketua Tanfidziyah (pelaksana) PBNU dalam muktamar ke-27 di Pesantren Sukorejo, Situbondo Jawa Timur. (Lihat Ensiklopedi Islam, jilid 5).
Imam kentut
Dalam kepemimpinan Gus Dur ini di kalangan NU ada suara-suara santer, karena KH As’ad Syamsul Arifin, kiai sepuh/ tua yang pesantrennya ditempati muktamar kemudian menghasilkan terpilihnya Gus Dur tahun 1984 itu ternyata kemudian mufarroqoh(memisahkan diri) dari Gus Dur (Abdurrahman Wahid). Kiai As’ad mengibaratkan, Gus Dur sebagai imam sholat yang kentut, maka Kiai As’ad sebagai makmum harusmufarroqoh (memisahkan diri, tidak makmum lagi). Sebutan-sebutan pemimpinketoprak (dagelan, drama humor model Jawa) pun dialamatkan ke Gus Dur. Semua itu gara-gara nyelenehnya (anehnya) pendapat-pendapat Gus Dur. Yang sangat terkenal adalah kasus ia menganggap lafal salam Assalamu’alaikum itu tidak apa-apa kalau diganti dengan selamat pagi dan semacamnya.
Bagaimana dianggap tidak apa-apa. Coba bayangkan, seandainya orang jadi imam  shalat, lalu ketika mengakhiri shalatnya, yang seharusnya mengucapkan Assalamu’alaikummalah mengucapkan selamat pagi (tengok ke kanan),  selamat pagi tengok ke kiri). Apa kira-kira tidak bubar jama’ahnya.
Di samping pendapatnya aneh-aneh, Gus Dur yang keturunan kiai dan sering dipanggil kiai itu berkecimpung pula dalam dunia seni hingga jadi ketua DPH Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) di Taman Isma’il Marzuki Jakarta (1983-1985) dan ketua Dewan Juri Festival Film Indonesia (FFI). Padahal film-film dengan wanita buka-bukaan (tabarruj) itu lah film yang banyak beredar di Indonesia, yang sangat memprihatinkan bagi para kiai dan umat Islam yang peduli terhadap Islam.
Meskipun demikian, Gus Dur masih dipilih lagi bahkan secara aklamasi oleh muktamirin dalam Muktamar NU ke-28 di Krapyak Yogyakarta sebagai ketua umum Tanfidziyah PBNU (1989-1994).
Kenyelenehan Gus Dur pun tak berkurang, dan bahkan mulai tampak bergabung dengan orang-orang Salib (Nasrani), dan secara resmi ia mendirikan Fordem (Forum Demokrasi) bersama orang-orang Salib dan lainnya. Maka terpilihnya Gus Dur sebagai Ketua Umum Tanfidziyah yang ketiga dalam Muktamar ke-29 di Pesantren Cipasung Tasikmalaya Jawa Barat kemudian dirayakan oleh orang-orang Salib di antaranya dari koran Kompas dan lainnya seperti Daniel Dakidae di tempat yang dikenal untuk karaoke dan joget di kawasan Kuningan Jakarta.
Kedekatannya dengan kaum Salib, bahkan Yahudi, sangat nampak. Hingga di zaman Pemerintahan Soeharto pun ia berombongan datang ke Israel, lalu dinobatkan pula sebagai presiden WCRP suatu lembaga agama-agama tingkat dunia. Maka ketika dia terpilih sebagai presiden RI dalam sidang MPR Oktober 1999, serta merta ia ingin mengadakan hubungan dagang dengan Israel secara resmi, bahkan akan membuka hubungan diplomatik. Alasannya, hubungan dengan negara yang tak bertuhan saja mau, masa dengan Israel yang masih bertuhan tidak mau. Ungkapan semacam itu mendapatkan protes dari masyarakat terutama umat Islam, karena Israel adalah pembantai, pencaplok tanah Palestina, dan mengangkangi tempat suci ke-3 Umat Islam, Masjidil Aqsho.
Dalam masa pemerintahannya, Gus Dur senantiasa membuat goncangan-goncangan, dengan melontarkan kata-kata yang mengakibatkan protes aneka tokoh dan masyarakat. Suatu ketika, ada satu kasus di Jawa Barat, lalu Gus Dur menuduh kasus itu melibatkan satu kelompok, dia sebut namanya, tahu-tahu kelompok itu di antara pendirinya adalah ibunya Gus Dur sendiri, dan tidak ada kaitannya dengan kasus yang terjadi.
Sepandai-pandai tupai meloncat, sekali akan gawal juga, kata pepatah.  Secara tragis, Gus Dur dijungkalkan dari kursi kepresidenan 23 Juli 2001 oleh MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat) pimpinan Amien Rais, tokoh yang semula ketua Muhammadiyah, dan menjagokan Gus Dur untuk jadi presiden. Tamatlah riwayat kepresidenan Gus Dur.
Meskipun sudah tidak menjabat sebagai presiden, Gus Dur masih mengejutkan bagi umat Islam. Di antaranya setengah tahun setelah ia terjungkal dari kursi kepresidenan, ia dinobatkan sebagai anggota kehormatan Laskar Kristus. Beritanya sebagai berikut:
Wahid Jadi Anggota Kehormatan Laskar Kristus.
Manado – Mantan Presiden Abdurrahman Wahid dinobatkan sebagai anggota kehormatan Legium Christum (Laskar Kristus) kemarin sore (28/ 1 2002). Bertempat di Gelanggang Olah Raga (GOR) Kampus Universitas Manado di Tataaran Tondano, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, Wahid menerima penobatan itu.
Menurut Sekretaris Umum Legium Christum Lucky Senduk, pemberian gelar anggota kehormatan itu karena gerakan Wahid dinilai sejalan dengan misi LC, yakni mewujudkan dan membangun persaudaraan dengan membawa kasih sejati tanpa memandang suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
Sebagai anggota kehormatan, Wahid mendapat tugas khusus. “Tugas Gus Dur (Wahid), sebagai ujung tombak menolak pemberlakuan Piagam Jakarta dan melalui NU melindungi orang Kristen di Jawa,” kata Lucky kepada Tempo News Room kemarin. Menurut dia, sebagai pemimpin ormas Islam terbesar di dunia dan di Indonesia Wahid diharapkan dapat memberikan masukan-masukan bagi pemerintahan yang ada untuk menjaga perdamaian.
Sejumlah tokoh di Sulawesi Utara, antara lain dr Sumual, Ferry Tinggogoy, dan wakil Gubernur Sulut Freddy H Sualang juga telah menjadi anggota kehormatan LC. Ferry sendiri adalah Ketua DPW (Dewan Pimpinan Wilayah) Partai Kebangkitan Bangsa Sulut..-verrianto madjowa,( Koran Tempo, Selasa 29 Januari 2002.)
Kemudian pada Agustus 2002, Gus Dur mendiktekan (karena tidak mampu menulis sendiri, berhubung ia tidak dapat melihat) kata pengantar untuk buku Aku Bangga Jadi Anak PKI. Apakah Gus Dur mencantumkan nama bapaknya dalam buku Aku Bangga Jadi Anak PKI dengan menyebutnya sebagai orang yang menentang negara agama, itu dalam rangka tugas khusus selaku Laskar Kristus atau sebagai khidmah (bakti dia) terhadap mendiang guru bahasa Inggerisnya waktu masih pelajar, Ibu Rubiyah seorang Gerwani (wanita PKI), entahlah. Yang perlu diulas di sini hanyalah seperti apa pendapat dan sikapnya terhadap Islam.
Meninggal dan makamnya dianggap bertuah
Sampai akhir hayatnya, Gus Dur tidak terdengar adanya perubahan pendapat dan sikapnya. Bahkan kenyelenehannya pun sampai menghumorkan malaikat dan akherat segala. Dan itu tidak pernah terdengar dia cabut sampai akhir hayatnya. Jadi masih utuh. Termasuk pembelaan-pembelaannya terhadap kekafiran seperti membela Ahmadiyah yang memiliki nabi palsu, membela maksiat goyang joget ngebor Inul dan aneka rupa kepornoan dan sebagainya.
Gus Dur meninggal dalam keadaan membawa itu semua. Meninggal di RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangun Kusumo) Jakarta, di seputar hari-hari perayaan orang kafir Nasrani yakni natalan dan menjelang tahun baru 2010, Rabu 30 Desember 2009, dan dikuburkan di Jombang Kamis 31 Desember 2009. Penguburan secara militer dipimpin Presiden SBY (Soesilo Bambang Yudhoyono) dengan diantarkan dari Jakarta oleh Ketua MPR Taufik Kiemas suami Megawati tokoh partai sekuler PDIP yang asalnya gabungan dari partai-partai Nasionalis dan Nasrani.
Makam dan nisan Gus Dur jadi ajang fitnah baru yang menjurus kepada kemusyrikan. Gundukan tanah kubur menjadi cekung karena tanahnya diambili para fanatikus Gus Dur karena dianggap bertuah hingga dijadikan semacam jimat (bentuk kemusyrikan, dosa terbesar), bahkan nisannya pun diciumi orang. Semua itu belum pernah terdengar larangan dari Gus Dur semasa hidupnya. Karena Gus Dur justru menghidupkan kemusyrikan yang telah terkubur di antaranya ruwatan (acara kemusyrikan yang dipercayai untuk membuang sial).
Sebelum tahun 1990- an, kegiatan ruwatan jarang sekali terdengar dan sudah terkubur alias hilang dari masyarakat.  Tetapi sejak tahun 2000, terutama pada saat pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, acara ruwatan muncul kembali.  Konon menurut informasi yang beredar, Gus Dur pun diruwat oleh seorang paranormal bernama Romo.  Bahkan di universitas ternama, seperti Universitas Gajah Mada pun melakukan ritual ruwat yang diberi nama Ruwatan Bangsa.
Hadir dalam acara ritual tersebut Presiden Gus Dur, Sri Sultan Hamengkubuwono X, Rektor UGM Ichlasul Amal dengan tontonan wayang kulit berlakon Murwokolo dan Sesaji Rojo Suryo oleh Dalang Ki Timbul Hadiprayitno di Balairung UGM, Jum’at malam 18 Agustus 2000.
Di situ berarti, kemusyrikan yang sudah terpendam itu dihidupkan kembali.  Kalau kubur Gus Dur kemudian jadi ajang yang menjurus kepada kemusyrikan, itu bukan hal yang mustahil. Itulah yang sudah dikhawatirkan oleh Muslimin yang istiqomah menjaga aqidah. Dan itulah bukti dari pentingnya doa dalam shalat jenazah (Muslimin, kalau kafir maka tidak boleh dishalati) di antaranya:

(( اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أجْرَهُ ، وَلاَ تَفْتِنَّا بَعدَهُ ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ )) . رواه الترمذي من رواية أَبي هريرة والأشهلي . ورواه أَبُو داود من رواية أَبي هريرة وأبي قتادة

أي: اللهم لا تحرمنا أجره في صلاتنا ودعائنا له، ولا تفتنابعده، فهو قد خرج من الدنيا معافى، فلا تفتنا بفتنة تفتننا

عن ديننا بعده،

Ya Allah janganlah Engkau halangi pahala (dalam sholat dan doa) kami untuknya, dan jangan Engkau menjadikan fitnah (terhadap agama) kami sesudah (wafat)nya. Dan ampunilah kami dan dia. (HR At-Tirmidzi dan Abu Dawud)
Fitnah terhadap agama setelah wafatnya seseorang adalah masalah besar, sehingga dalam shalat jenazah pun disyari’atkan berdoa agar dihindarkan dari fitnah itu. Namun dalam kasus ini, baru saja jenazahnya dikubur sudah langsung timbul fitnah terhadap agama. Di antaranya tanah kuburannya dianggap bertuah, nisannya diciumi orang, kemudian diadakan doa bersama antar berbagai agama dihiasi aneka nyala lilin (bahkan salah satu anak dari mayat ini Inayah Wahid, putri bungsu Gus Dur, menyalakan lilin dalam acara aneka agama itu), bahkan diadakan tahlilan (upacara peringatan orang mati, dan itu tidak ada tuntunannya di dalam Islam) masih pula diumum-umumkan atau diberitakan di berbagai media massa sebelumnya bahwa upacara tahlilan itu akan dihadiri grup musik. Astaghfirullahal ‘adhiem.
(dari Buku karya Hartono Ahmad Jaiz, Mengungkap Kebatilan Kyai Liberal Cs, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta 2010).
(nahimunkar.com)