Sumber : http://blogseotest.blogspot.com/2012/01/cara-memasang-artikel-terkait-bergambar.html#ixzz2HNYeE9JU

Pages

Blogroll

Tampilkan postingan dengan label khilafiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label khilafiyah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Januari 2018

Jawabanku untuk Ust Abduh Tausikal

Ust Muhammad Abduh Tuasikal menulis :


Apakah kotoran kucing itu najis, begitu pula kencingnya?
Dari Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّهَا مِنَ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ
“Kucing itu tidaklah najis. Sesungguhnya kucing merupakan hewan yang sering kita jumpai dan berada di sekeliling kita. ” (HR. Abu Daud no. 75, Tirmidzi no. 92, An Nasai no. 68, dan Ibnu Majah no. 367. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)
Sebab Abu Qotadah menyebutkan hadits di atas telah dipaparkan sebelum penyebutan hadits ini. Dalam riwayat Abu Daud diceritakan dari Kabsyah binti Ka’ab bin Malik (dia adalah istri dari anak Abu Qotadah, yaitu menantu Abu Qotadah). Wanita ini mengatakan bahwa Abu Qotadah pernah masuk ke rumah, lalu dituangkanlah air wudhu padanya. Kemudian tiba-tiba datanglah kucing. Bejana air wudhu lantas dimiringkan, lalu kucing itu minum dari bejana tersebut. Abu Qotadah pun melihat wanita tadi merasa heran padanya. Abu Qotadah mengatakan, “Apakah engkau heran (dengan tingkahku), wahai anak saudaraku?” Wanita tersebut lantas menjawab, “Iya.” Setelah itu, Abu Qotadah menyebutkan hadits di atas.
Hadits ini menunjukkan bahwa kucing adalah hewan yang suci karena disebutkan dalam hadits bahwa hewan tersebut tidaklah najis. Termasuk hikmah yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika beliau menyebutkan suatu hukum, beliau menyebutkan pula ‘illah atau sebabnya. Sebab kucing tidaklah najis karena ia sering mondar-mandir di sekitar manusia.
Namun tetap saja kucing haram dimakan. Hal ini berdasarkan hadits dari Abi Tsa’labah, beliau berkata,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – نَهَى عَنْ أَكْلِ كُلِّ ذِى نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang memakan setiap hewan buas yang bertaring.” (HR. Bukhari no. 5530 dan Muslim no. 1932). Yang dimaksud “dzi naabin minas sibaa’ ” adalah setiap hewan yang memiliki taring dan taringnya digunakan untuk menerkam mangsanya. Kucing termasuk di dalamnya. Jadi, kucing itu keluar dari kaedah para ulama,
إِنَّ جَمِيْعَ مُحَرَّمِ الأَكْلِ مِنَ الحَيْوَانِ نَجِسٌ
“Setiap hewan yang haram dimakan, dihukumi najis.” Kucing dikecualikan karena adanya dalil yang mengecualikan. Namun sebenarnya kaedah tersebut tidak berlaku secara mutlak.
Sekarang, apakah seluruh tubuh kucing itu suci termasuk juga kotorannya?
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Kucing tidaklah najis. Namun apakah berlaku secara umum? Jawabnya, tidak. Yang tidak najis adalah air liur, sesuatu yang keluar dari hidungnya, keringat, jilatan atau bekas makan dan minumnya. Adapun untuk kencing dan kotoran kucing tetaplah najis. Begitu pula darah kucing juga najis. Karena setiap hewan yang haram dimakan, maka kencing dan kotorannya dihukumi najis. Kaedahnya, segala sesuatu yang keluar dari dalam tubuh hewan yang haram dimakan dihukumi haram. Contohnya adalah kencing, kotoran, dan muntahan.” (Fathu Dzil Jalali wal Ikram, 1: 110).
Semoga bermanfaat.

Referensi:
Fathu Dzil Jalali wal Ikram bi Syarh Bulughil Marom, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, terbitan Madarul Wathon, cetakan pertama, tahun 1425 H.
Sumber : https://rumaysho.com/8751-apakah-kotoran-kucing-itu-najis.html
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Tentang kaidah :
إِنَّ جَمِيْعَ مُحَرَّمِ الأَكْلِ مِنَ الحَيْوَانِ نَجِسٌ
“Setiap hewan yang haram dimakan, dihukumi najis.
Sy cari kaidah itu di buku tokoh – tokoh ahli hadis , fikih madzhab empat , maupun  tokoh – tokoh ahli fikih yg lain ,  Ibn Taimiyah, Syaikh Utsaimin  maupun Ibn Qayyim ternyata  sy tdk menjumpainya . Jadi kaidah itu   gharib sekali ,  tidak dikenal. Terus apa maksudnya :  Apakah tubuh , ludah , ingus , keringat hewan yg haram di makan itu najis semuanya. Bila bgt, mk sy tdk menjumpai dalilnya. Untuk masalah jilatan anjing najis apa tidak , mk akan di bhs dg detil di bab tersendiri .
Bila maksudnya kotorannya  - kencing dan tahinya , mk  sdh jls hewan yg halal dimakanpun kotorannya najis karena ada hadis yg kemarin di terangkan  :
Abu Said   Al Khudri  ra berkata :
بَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِأَصْحَابِهِ إِذْ خَلَعَ نَعْلَيْهِ فَوَضَعَهُمَا عَنْ يَسَارِهِ فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ الْقَوْمُ أَلْقَوْا نِعَالَهُمْ فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عليه وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ قَالَ مَا حَمَلَكُمْ عَلَى إِلْقَاءِ نِعَالِكُمْ قَالُوا رَأَيْنَاكَ أَلْقَيْتَ نَعْلَيْكَ فَأَلْقَيْنَا نِعَالَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عليه وَسَلَّمَ إِنَّ جِبْرِيلَ صَلَّى الله عليه وَسَلَّمَ أَتَانِي فَأَخْبَرَنِي أَنَّ فِيهِمَا قَذَرًا أَوْ قَالَ أَذًى وَقَالَ إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلْيَنْظُرْ فَإِنْ رَأَى فِي نَعْلَيْهِ قَذَرًا أَوْ أَذًى فَلْيَمْسَحْهُ وَلْيُصَلِّ فِيهِمَا
Suatu saat, Rasulullah saw menjalankan salat jamaah, lalu melepaskan kedua sandalnya dan diletakkan di sebelah kiri. Ketika  pengikut Jamaah  melihatnya ,mereka turut melemparkan sandalnya. Ketika menyelesaikan salat, beliau  bersabda :” Mengapa kamu lemparkan sandalmu ?”.
Mereka menjawab : Kami lihat anda melemparkan sandal, kami mengikutimu  “.
Beliau  bersabda: “ Sesungguhnya Jibril datang kepadaku  dengan memberitahu bahwa ada kotoran di  kedua sandal.  “.
  Rasulullah  saw  bersabda :” Bila seseorang dantaramu  datang ke masjid, lihatlah. Bila melihat kotoran di kedua sandalnya,usapkan, lalu lakukan salat dengannya “.    Hadis sahih
مختصر صحيح الإمام البخاري (1/ 73)
 - باب لا يُستنجى بِرَوْثٍ
101 - عن عبدِ الله (بن مسعود) قال: أَتى النبيُّ - صلى الله عليه وسلم - الغائطَ، فأَمرَني أن آتيَه بثلاثةِ أحجارٍ، فوجدتُ حجَرين، والتمستُ الثالثَ فلم أجدْه، فأخذتُ رَوْثةً، فأتيتُه بها، فأخذَ الحجَرين، وألقى الرَّوثةَ وقال:
"هذا رِكْسٌ (*)
Intinya :  kotoran hewan yg sdh kering di katakan , riksun –( kotoran, najis , jijik) oleh Nabi  shallallahu alaihi wasallam 
التوضيح لشرح الجامع الصحيح (4/ 168)
قال ابن بطال: يمكن أن يكون معنى ركس: رجس. قَالَ: ولم أجد لأهل اللغة شرح هذِه الكلمة، والنبي - صلى الله عليه وسلم - أعلم الأمة باللغة (2). وقال الداودي: يحتمل أن يريد بالرجس: النجس،
Intinya : Dawudi menyatakan : Rijsun ( disini ) adalah najis
Ibn Batthol menyatakan  : Makna Riksun adalah rijsun.

فيض الباري على صحيح البخاري (1/ 353)
قوله: (هذا رِكْس) وقد وقع عند ابن ماجه بدله: «رجس» وفي النهاية: الركس شبيه المعنى بالرجيع. قال تعالى: {اركسوا فيها} [النساء: 91] أي ردوا. وقال ابن سيد الناس: رِكس كقوله: رجع، يعني نجسًا، لأنَّها أركست أي رُدَّت في النجاسة بعد أن كانت طعامًا. وقال الخطَّابي: الرِّكس: الرجيع من رَجَعَ من حالة الطهارة إلى حالة النَّجاسة. وفي رواية «رَكيس»
Ibn Sayyidin nas menyatakan : Riksun adalah najis.
فيض الباري على صحيح البخاري (1/ 354)
وهو في الحقيقة من جهة الراوي كما في «الفتح» فإِنه يذكرُ في بيان القِصة أنَّ الروثة التي جاء بها كانت روثةُ حمار،
Intinya : kotoran tersebut yg di nyatakan Nabi  shallallahu alaihi wasallam dg kalimat riksun adalah kotoran himar.
Dg demikian , kotoran hewan yg haram di mkn atau yg halal ttp najis.
Selama hidupnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   dan para sahabat tdk pernah melakukan salat sdg pakaiannya atau tempat salatnya  terdapat kotoran hewan.
Bila kotoran hewan di katakan suci, mk bertentangan dg hadis dimana Nabi  shallallahu alaihi wasallam  melemparkan sandalnya karena ada kotoran.
Bila kotoran hewan di katakan suci, mk kpn masjid Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dibiarkan ada kotoran hewan.
Bila kotoran hewan dikatakan suci mn dalilnya yg tepat .





Kamis, 18 Januari 2018

Jawabanku untuk Angga Wibowo

Angga wibowo menulis : Bagamana dg hadis sbb:
[17:17, 1/14/2018] +62 838-9897-7718: حَدَّثَنَا حَسَنٌ حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ هُبَيْرَةَ عَنْ حَنَشِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ فِي أَبْوَالِ الْإِبِلِ وَأَلْبَانِهَا شِفَاءً لِلذَّرِبَةِ بُطُونُهُمْ

Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Hubairah dari Hanasy bin Abdullah bahwa Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya dalam air kencing unta dan susunya mengandung obat bagi penyakit di dalam perut mereka." (HR. Ahmad no.2545)
أما الشيخ الألباني فقد قال عنه في الضعيفة "ضعيف جداً" وفيه علتان: الأولى : حنشواسمه الحسين بن قيس وهو متروك كما قال الحافظ في التعريف، والأخرى: ابن لهيعةوهو ضعيف. ا.هـ
Intinya al albani menyatakan hadis tsb lemah sekali, dua illat yaitu Hanasy namanya Husain bin Waqid dan Ibn Lahi`ah .
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Tapi Hanasy disini adalah Hanasy bn Abdillah yg menjadi perawi terpercaya jg . Masih ada perawi lemah lgi yaitu Ibn Lahi`ah .

المسند الجامع (9/ 346)
عَنْ حَنَشِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم:
إِنَّ فِى أَبْوَالِ الإِبِلِ وَأَلْبَانِهَا شِفَاءً لِلذَّرِبَةِ بُطُونُهُمْ.
أخرجه أحمد 1/293 (2677) قال: حدثنا حسن، حدثنا ابن لَهيعة، حدثنا عبد الله بن هُبيرة، عن حنش بن عبد الله، فذكره.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Sanadnya mulai awal tafarrud – yakni Ibnu Abbas sampai Ibn Lahi`ah . Hadis sedemikian ini di katakan lemah sbgmn pelajaran yg lalu .
Identitas Ibn Lahi`ah :

ــ عبد الله بن لهيعة بن عقبة الحضرمى الأعدولى ، و يقال الغافقى ، أبو عبد الرحمن ، و يقال أبو النضر ، المصرى الفقيه القاضى
المولد :
الطبقة : 7 : من كبار أتباع التابعين
الوفاة : 174 هـ
روى له : م د ت ق
مرتبته عند ابن حجر : صدوق ، خلط بعد احتراق كتبه و رواية ابن المبارك و ابن وهب عنه أعدل من غيرهما
مرتبته عند الذهبـي : ضعف ... ، قلت : العمل على تضعيف حديثه
Di waktu Ibn Lahi`ah yg wafat 174 H , hadis tsb masih hanya beliau yg ngerti. Lainnya dr kalangan atbaut tabiin/ pengikut tabiin tdk phm. Imam Dzahabi sendiri menyatakan scr peraktik hadis Ibnu Lahi`ah lemah.

الإتحافات السنية بالأحاديث القدسية ومعه النفحات السلفية بشرح الأحاديث القدسية (ص: 42)
وفي إسناده ابن لهيعة ضعيف،
Intinya Ibn Lahi`ah adalah perawi lemah.
Air kencing itu khobits , bila di halalkan mk akan bertentangan dg ayat :
وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ
dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang jijik al A`raf 157.
Pernahkah istri – istri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat yg minum air kencing Unta ? Sy tdk menjumpai datanya atau refrensinya.
Bila kaum muslimin minum air kencing Unta apa bedanya dg umat Hindu yg minum air kencing sapi. Islam itu agama ilahi, sedang Hindu agama kufur . Islam agama suci tak layak menghalalkan air kencing Unta yg najis.

Kita berobat dg obat yg halal sj tdk usah berobat dg yang najis lagi haram

Jawabanku untuk Ustadz Dr. Firanda Andirja Abidin, Lc., MA

Ustadz Dr. Firanda Andirja Abidin, Lc., MA menulis:

Lalu beliau ( Imam Bukhari )  berkata :
وَصَلَّى أَبُو مُوسَى فِي دَارِ البَرِيدِ وَالسِّرْقِينِ، وَالبَرِّيَّةُ إِلَى جَنْبِهِ، فَقَالَ: «هَاهُنَا وَثَمَّ سَوَاءٌ»
“Abu Musa (al-‘Asyari) pernah sholat di rumah al-Bariid (yaitu rumah tempat singgah pengantar surat-surat) dan di As-Sirqiin (yaitu kotoran hewan secara umum), ketika itu tanah lapang ada di samping beliau, lalu beliau mengatakan, “Sholat di sini dan di sana (tanah lapang) sama saja”.
 https://konsultasisyariah.com/30383-polemik-seputar-hukum-kencing-kucing-najis.html
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Atsar itu sbg landasan kotoran heean suci menurut Ust Firanda.
Problemnya di sini kalimat wassirqin, bila di baca wassirqiini , mk terjemahan  Ustadz Firanda itu tepat.
Bila di baca wassirqiinu, mk terjemahan tsb salah .
Terjemahan yg benar adalah sbb: 
“Abu Musa (al-‘Asyari) pernah sholat di rumah al-Bariid (yaitu rumah tempat singgah pengantar surat-surat)  sedang  As-Sirqiin (yaitu kotoran hewan secara umum) dan  tanah lapang ada di samping beliau, lalu beliau mengatakan, “Sholat di sini dan di sana (tanah lapang) sama saja”.
Jadi Abu Musa al asyari itu melakukan salat di Darul barid – rumah utusan atau pengantar surat . Sedang kotoran hewan dan tanah lapang di samping rumah itu . Jd Abu Musa al asy ari melakukan salat bukan di tempat kotoran tapi di rumah tempat singgah utusan khalifah atau sesama amir dll.
شرح السنة للبغوي (2/ 413)
وَلَوْ صَلَّى فِي مَكَانٍ وَبِقُرْبِهِ نَجَاسَةٌ، فَجَائِزٌ إِذَا كَانَ مَوْضِعُ صَلاتِهِ طَاهِرًا، صَلَّى أَبُو مُوسَى فِي دَارِ الْبَرِيدِ وَالسِّرْقَيْنُ وَالْبَرِّيَّةُ إِلَى جَنْبِهِ، فَقَالَ: هَهُنَا وَثَمَّ سَوَاءٌ.
Intinya  Imam Baghawi di sini membaca  wassirqiinu . Jadi Abu Musa tdk salat di kotoran tp di rumah  tempat singgah utusan yg di sampingnya ada tempat kotoran.
Makanya Imam Baghawi menyatakan: Bila orang melakukan salat di tempat dan didekatnya ada najis, mk boleh asal tempat salatnya suci.
Bila mengikuti pengertian Ust Firanda, mk Abu Musa melakukan salat di tempat kotoran.lalu siapa yg mau melakukan sujud di kotoran hewan. Orang sekarang sj tdk ada yg mau . Dan dlm hal ini orang sekarang dan dulu sama tdk maunya.
Pendapat Ust Firanda itu berbeda dg hadis kemarin yg menyatakan : Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   melemparkan sandalnya ketika salat karena ada kotorannya.
ذكره البُخَارِيّ فِي تَارِيخه عَن أبي نعيم
وَرَوَاهُ ابْن أبي شيبَة فِي المُصَنّف عَن وَكِيع عَن الْأَعْمَش نَحوه
وَقَالَ أَيْضًا حَدَّثنا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ عَنِ الأَعْمَشُ عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كُنَّا مَعَ أَبِي مُوسَى بِعَيْنِ التَّمْرِ فِي دَار الْبَرِيد ز 34 ب فَأَذِنَ وَأَقَامَ فَقُلْنَا لَهُ لَوْ خَرَجْتَ إِلَى الْبَرِيَّةِ فَقَالَ ذَاكَ وَذَا سَوَاءٌ))
Intinya menurut riwayat Bukhari dlm kitab tarikhnya ada keterangan sbb:
Al harits berkata: Kami bersama Abu Musa di ainut tamr di rumah singgah utusan , lalu di kumandangkan adzan , lalu di bacakan qamat , dan kami berkata: Seandainya anda keluar ke tanah  lapang …………….
Abu Musa menjawab : Di sini atau di tanah lapang sama sj .
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Tidak ada keterangan tempat kotoran. …………. Jadi kalimat tempat kotoran itu masih di perselisihkan keberadaannya dlm atsar tsb.

Anehnya atsar sahabat spt itu dibuat landasan oleh Ust Firanda bahwa kotoran hewan suci. Pd hal modalnya salah phm.
Bila benar , itu sekedar perbuatan satu sahabat. Dan ribuan sahabat yg lain tdk melakukannya.
Realitanya ,  Para sahabat  setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   wafat tdk ada  yg melakukan spt itu.

Di tinjau dr sg sanad , atsar itu hanya dari al a`masy Perawi Irak. Dan tidk ada tabiin yg tahu atsar tsb kcl dia.

Selasa, 16 Januari 2018

Jawabanku untuk Ust Firanda

Ustadz Dr. Firanda Andirja Abidin, Lc.MA menulis:
•  Hukum asal sesuatu adalah suci, hingga ada dalil yang menunjukan akan kenajisannya.
 Telah datang dalil-dalil shahih yang menunjukan bahwa kencing onta dan kambing adalah suci, dan ini semakin menguatakan bahwasanya hukum asal sesuatu adalah suci termasuk kencing dan kotoran hewan. Dan dalil-dalil ini nas tegas bahwa kotoran dan kencing hewan yang halal dimakan adalah suci, karena kambing dan onta halal dimakan.
•  Adapun kencing dan kotoran hewan yang haram dimakan (termasuk kucing), juga kembali kepada hukum asal yaitu suci, hingga ada dalil yang menunjukan kenajisannya.

 https://konsultasisyariah.com/30383-polemik-seputar-hukum-kencing-kucing-najis.html
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Menurut pemahaman sy atas ungkapan Ust Firanda itu adalah air kencing maupun kotoran hewan yg halal di makan dagingnya atau  tidak , tetap suci .
Jadi menurut  Ust Firanda , menjalankan salat dg baju yg tertimpa kotoran babi atau sapi adalah sah. Sebab menurut beliau kotoran hewan apapun suci . Baik kotoran kuda yg banyak atau kotoran kucing yg sedikit.
Lalu kapan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   dan sahabatnya menjalankan salat dengan baju yg terdapat kotoran hewan. Dan mana  dalilnya .
Ini asalnya air kencing Unta di katakan suci dg hadis kacau redaksinya atau lemah bhs kemarin , boleh di klik disini :
http://mantankyainu2.blogspot.co.id/2018/01/air-kencing-unta-tetap-najis-tidak.html
Dari air kencing Unta yg di katakan suci lalu di kembangkan , bgt jg kotorannya. Seolah agama Islam ini miliknya bukan ajaran yg hrs berdasarkan wahyu dr Allah.
Dari air kencing  Unta lalu di kembangkan kpd kotoran seluruh hewan yg bisa di makan dagingnya spt sapi, kerbau , himar dan keledai dan lainnya.
Malah Ust Firanda menyatakan  suci kotoran hewan yg haram dimakan  dagingnya  spt babi , beruang dll …………………, jadi dikembangkan terus spt ajaran agama kristiani yg di kembangkan  oleh para pendeta dg penuh kedustaan.
Hukum kotoran hewan itu najis karena ada hadis :
Abu Said   Al Khudri  ra berkata :
بَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِأَصْحَابِهِ إِذْ خَلَعَ نَعْلَيْهِ فَوَضَعَهُمَا عَنْ يَسَارِهِ فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ الْقَوْمُ أَلْقَوْا نِعَالَهُمْ فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عليه وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ قَالَ مَا حَمَلَكُمْ عَلَى إِلْقَاءِ نِعَالِكُمْ قَالُوا رَأَيْنَاكَ أَلْقَيْتَ نَعْلَيْكَ فَأَلْقَيْنَا نِعَالَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عليه وَسَلَّمَ إِنَّ جِبْرِيلَ صَلَّى الله عليه وَسَلَّمَ أَتَانِي فَأَخْبَرَنِي أَنَّ فِيهِمَا قَذَرًا أَوْ قَالَ أَذًى وَقَالَ إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلْيَنْظُرْ فَإِنْ رَأَى فِي نَعْلَيْهِ قَذَرًا أَوْ أَذًى فَلْيَمْسَحْهُ وَلْيُصَلِّ فِيهِمَا
Suatu saat, Rasulullah saw menjalankan salat jamaah, lalu melepaskan kedua sandalnya dan diletakkan di sebelah kiri. Ketika  pengikut Jamaah  melihatnya ,mereka turut melemparkan sandalnya. Ketika menyelesaikan salat, beliau  bersabda :” Mengapa kamu lemparkan sandalmu ?”.
Mereka menjawab : Kami lihat anda melemparkan sandal, kami mengikutimu  “.
Beliau  bersabda: “ Sesungguhnya Jibril datang kepadaku  dengan memberitahu bahwa ada kotoran di  kedua sandal.  “.
  Rasulullah  saw  bersabda :” Bila seseorang dantaramu  datang ke masjid, lihatlah. Bila melihat kotoran di kedua sandalnya,usapkan, lalu lakukan salat dengannya “.    Hadis sahih
Bila kita ikut Ust Firanda , mk kita akan menentang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   dlm hadis tsb.
Bila kotoran dan air kencing hewan suci lalu yg najis mn ?
Dari air kencing Unta yg katanya boleh diminum menurut beliau  , sy hawatir di kembangkan lagi untuk membolehkan makan tahinya dan tahi seluruh hewan. Lalu apa maksud ayat :
 وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ
dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang jijik al A`raf 157.
Untuk perintah salat dikandang Kambing telah dibhs kemarin dan dikatakan mansukh karena bertentangan dg hadis sahih  yg menyuruh menghilangkan kotoran di sandal dg cara di gosokkan ke tanah. LIhat dilink  di atas tadi.
(1)     شرح صحيح البخارى لابن بطال (1/ 346)
(2)     وقال أبو حنيفة، وأبو يوسف، والشافعى، وأبو ثور: الأبوال كلها نجسة.
Abu Hanifah, Abu Yusuf , Syafii , Abu Tsur menyatakan : Seluruh air kencing adalah najis.



Minggu, 14 Januari 2018

Air kencing Unta tetap Najis tidak boleh di minum

Angga wibowo menulis : Bagamana  dg hadis sbb:
[17:17, 1/14/2018] +62 838-9897-7718: حَدَّثَنَا حَسَنٌ حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ هُبَيْرَةَ عَنْ حَنَشِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ فِي أَبْوَالِ الْإِبِلِ وَأَلْبَانِهَا شِفَاءً لِلذَّرِبَةِ بُطُونُهُمْ

Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Hubairah dari Hanasy bin Abdullah bahwa Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya dalam air kencing unta dan susunya mengandung obat bagi penyakit di dalam perut mereka." (HR. Ahmad no.2545)
أما الشيخ الألباني فقد قال عنه في الضعيفة "ضعيف جداً" وفيه علتان: الأولى : حنشواسمه الحسين بن قيس وهو متروك كما قال الحافظ في التعريف، والأخرى: ابن لهيعةوهو ضعيف. ا.هـ
Intinya al albani menyatakan hadis tsb lemah sekali, dua illat  yaitu Hanasy namanya Husain bin Waqid  dan Ibn Lahi`ah .
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Tapi Hanasy disini adalah Hanasy bn Abdillah yg menjadi perawi terpercaya jg . Masih ada perawi lemah lgi yaitu Ibn Lahi`ah .


المسند الجامع (9/ 346)
عَنْ حَنَشِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم:
إِنَّ فِى أَبْوَالِ الإِبِلِ وَأَلْبَانِهَا شِفَاءً لِلذَّرِبَةِ بُطُونُهُمْ.
أخرجه أحمد 1/293 (2677) قال: حدثنا حسن، حدثنا ابن لَهيعة، حدثنا عبد الله بن هُبيرة، عن حنش بن عبد الله، فذكره.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Sanadnya mulai awal tafarrud – yakni Ibnu Abbas  sampai Ibn Lahi`ah . Hadis sedemikian ini di katakan lemah sbgmn pelajaran yg lalu .
Identitas Ibn Lahi`ah :

  ــ  عبد الله بن لهيعة بن عقبة الحضرمى الأعدولى ، و يقال الغافقى ، أبو عبد الرحمن ، و يقال أبو النضر ، المصرى الفقيه القاضى
المولد  :
الطبقة : 7  : من كبار أتباع التابعين
الوفاة : 174 هـ
روى له : م د ت ق
مرتبته عند ابن حجر : صدوق ، خلط بعد احتراق كتبه و رواية ابن المبارك و ابن وهب عنه أعدل من غيرهما
مرتبته عند الذهبـي : ضعف ... ، قلت : العمل على تضعيف حديثه
Di waktu Ibn Lahi`ah  yg wafat 174 H , hadis tsb masih hanya beliau yg ngerti. Lainnya dr kalangan atbaut tabiin/ pengikut tabiin   tdk phm. Imam Dzahabi sendiri menyatakan scr peraktik hadis Ibnu Lahi`ah lemah.


-           الإتحافات السنية بالأحاديث القدسية ومعه النفحات السلفية بشرح الأحاديث القدسية (ص: 42)
وفي إسناده ابن لهيعة ضعيف،
Intinya Ibn Lahi`ah adalah perawi lemah.
Air kencing itu khobits , bila di halalkan mk akan bertentangan dg ayat :
وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ
dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang jijik al A`raf 157.
Pernahkah istri – istri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   dan para sahabat yg minum air kencing Unta ? Sy tdk menjumpai datanya  atau refrensinya.
Bila kaum muslimin minum air kencing Unta apa bedanya dg umat Hindu yg minum air kencing sapi. Islam  itu agama  ilahi, sedang Hindu agama kufur . Islam agama suci tak layak menghalalkan air kencing Unta yg najis.
Kita berobat dg obat yg halal sj tdk usah berobat dg yang najis lagi haram.


Air kencing unta tetap Najis tidak boleh diminum

Maaf tema extra untuk menjawab masalah yg sdh viral tentang air kencing Unta.
Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) menulis sbb:


عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَدِمَ أُنَاسٌ مِنْ عُكْلٍ أَوْ عُرَيْنَةَ فَاجْتَوَوْا الْمَدِينَةَ فَأَمَرَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِلِقَاحٍ وَأَنْ يَشْرَبُوا مِنْ أَبْوَالِهَا وَأَلْبَانِهَا فَانْطَلَقُوا فَلَمَّا صَحُّوا قَتَلُوا رَاعِيَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاسْتَاقُوا النَّعَمَ فَجَاءَ الْخَبَرُ فِي أَوَّلِ النَّهَارِ فَبَعَثَ فِي آثَارِهِمْ فَلَمَّا ارْتَفَعَ النَّهَارُ جِيءَ بِهِمْ فَأَمَرَ فَقَطَعَ أَيْدِيَهُمْ وَأَرْجُلَهُمْ وَسُمِرَتْ أَعْيُنُهُمْ وَأُلْقُوا فِي الْحَرَّةِ يَسْتَسْقُونَ فَلَا يُسْقَوْنَ
Dari Anas bin Malik berkata, “Beberapa orang dari ‘Ukl atau ‘Urainah datang ke Madinah, namun mereka tidak tahan dengan iklim Madinah hingga mereka pun sakit. Beliau lalu memerintahkan mereka untuk mendatangi unta dan meminum air kencing dan susunya. Maka mereka pun berangkat menuju kandang unta (zakat), ketika telah sembuh, mereka membunuh pengembala unta Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan membawa unta-untanya. Kemudian berita itu pun sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelang siang. Maka beliau mengutus rombongan untuk mengikuti jejak mereka, ketika matahari telah tinggi, utusan beliau datang dengan membawa mereka. Beliau lalu memerintahkan agar mereka dihukum, maka tangan dan kaki mereka dipotong, mata mereka dicongkel, lalu mereka dibuang ke pada pasir yang panas. Mereka minta minum namun tidak diberi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadist di atas menunjukan bahwa air kencing unta tidak najis, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan ‘Urayinin yang terkena sakit untuk berobat dengan meminum air susu dan air kencing unta. Beliau tidak akan menyuruh untuk meminum sesuatu yang najis. Adapun air kencing hewan-hewan lain yang boleh dimakan juga tidak najis dengan mengqiyaskan (menganalogikan) pada air kencing unta. Inilah yang jadi pendapat Imam Malik, Imam Ahmad, sekelompok ulama salaf, sebagian ulama Syafi’iyah, Ibnu Khuzaimah, Ibnul Mundzir, Ibnu Hibban. Sedangkan Imam Syafi’i dan jumhur menyatakan najisnya kencing dan kotoran setiap hewan yang haram dimakan. Ibnu Hajar sendiri lebih cenderung pada pendapat yang menyatakan najis. Lihat Fathul Bari, 1: 338-339.

Sumber : https://rumaysho.com/3721-hukum-berobat-dengan-minum-air-kencing.html

Komentarku ( Mahrus ali ) :
  Hadis ttg minum air kencing  Unta ada dua riwayat yg berbeda  sbb :
1.         Spt hadis  di atas yg menyebutkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  : Minumlah air susu Unta dan air kencingnya .
2.         Riwayat di bawah ini dimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   bersabda: “
3.         Minumlah air susu Unta tanpa  menyuruh minum air kencingnya . Lihat  riwayat Bukhari sbb:
جامع الأصول (3/ 608)
-           (خ) سلام بن مسكين -رحمه الله- عن ثابت البُناني «أنَّ أنَساً قال: إنَّ ناساً كان بهم سُقْمٌ، فقالوا: يا رسولَ الله، آونَا وأطْعِمْنَا، [ص:609] فَلَمَّا صَحُّوا قالوا: إنَّ المدينةَ وَخْمةٌ، فأنْزَلهمْ الحَرَّةَ في ذودٍ لهم (1) فقال: اشْرَبوا مِنْ ألبَانها، فلما صَحُّوا قَتَلُوا راعيَ رسولِ الله -صلى الله عليه وسلم-
“ ,……………………, intinya : Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   bersabda : Minumlah air susunya “. ( tanpa menyebut minumlah air kencing Unta ).
-           جامع الأصول (7/ 260)
-           أخرجه أبو داود، وقال: «أبْوَالُها» ليس بصحيح في هذا الحديث، قال: [ص:261] وليس في أبوالها إلا حديث أنس، تفرَّدَ به أهلُ البصرة.
Intinya : Abu Dawud menyatakan :  “ Minumlah air kencingnya “  tdk sahih  dlm hadis ini. Beliau jg menyatakan : Tambahan  “ Dan air kencingnya “ itu  hanya riwayat Anas dan penduduk Basrah yg meriwayatkannya scr sendirian >
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Penduduk Basrah scr sendirian  yg meriwayatkan hadis “ Minumlah air kencing Unta “ sbg tanda   kelemahan .
Jadi air kencing unta tetap Najis  tdk boleh dimunm 
Ada hadis  lag :
مشكاة المصابيح (1/ 229)
 -[51] وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «صَلُّوا فِي مَرَابِضِ [ص:230] الْغَنَمِ وَلَا تُصَلُّوا فِي أَعْطَانِ الْإِبِلِ» . رَوَاهُ التِّرْمِذِيّ
Intinya : Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   bersabda: Salatlah di kandang  Kambing dan jangan salat di tempat Unta menderum .  HR Tirmizi .
التنوير شرح الجامع الصغير (5/ 108)
(1)        أخرجه ابن ماجه (497)، وانظر مصباح الزجاجة (1/ 72)، وضعفه الألباني في ضعيف الجامع (2496).
Hadis tsb dilemahkan oleh al albani .
التنوير شرح الجامع الصغير (5/ 108)
قال أبو حاتم: كنت أنكر هذا الحديث لتفرده حتى وجدت له أصلاً لكنه موقوف أصح.
Intinya : Abu Hatim ingkar hadis itu karena tafarrud.   Ia adalah mauquf dan ini lebih tepat.

(1)        فيض الباري على صحيح البخاري (1/ 428)
(2)        لأنَّ ابن حَزْم لمَّا مرَّ على حديث: «صلُّوا في مَرَابِض الغنم، ذهب إلى أنَّه منسوخٌ، والناسخ: ما وَرَدَ في تطييب المساجد، وهذا يُشْعِرُ بنجاسة أزبالها عنده
Intinya : Ibn Hazem menyatakan : Perintah salat di kandang Kambing itu mansukh ( sdh  di hapus , tdk berlaku lagi ) , karena ada perintah mengharumkan masjid.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Perintah salat  di kandang Kambing  sudah tentu ada air kencing dan tahinya. Bila tdk di mansukh , mk akan bertentangan dg hadis :

Abu Said   Al Khudri  ra berkata :
بَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِأَصْحَابِهِ إِذْ خَلَعَ نَعْلَيْهِ فَوَضَعَهُمَا عَنْ يَسَارِهِ فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ الْقَوْمُ أَلْقَوْا نِعَالَهُمْ فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عليه وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ قَالَ مَا حَمَلَكُمْ عَلَى إِلْقَاءِ نِعَالِكُمْ قَالُوا رَأَيْنَاكَ أَلْقَيْتَ نَعْلَيْكَ فَأَلْقَيْنَا نِعَالَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عليه وَسَلَّمَ إِنَّ جِبْرِيلَ صَلَّى الله عليه وَسَلَّمَ أَتَانِي فَأَخْبَرَنِي أَنَّ فِيهِمَا قَذَرًا أَوْ قَالَ أَذًى وَقَالَ إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلْيَنْظُرْ فَإِنْ رَأَى فِي نَعْلَيْهِ قَذَرًا أَوْ أَذًى فَلْيَمْسَحْهُ وَلْيُصَلِّ فِيهِمَا
Suatu saat, Rasulullah saw menjalankan salat jamaah, lalu melepaskan kedua sandalnya dan diletakkan di sebelah kiri. Ketika  pengikut Jamaah  melihatnya ,mereka turut melemparkan sandalnya. Ketika menyelesaikan salat, beliau  bersabda :” Mengapa kamu lemparkan sandalmu ?”.
Mereka menjawab : Kami lihat anda melemparkan sandal, kami mengikutimu  “.
Beliau  bersabda: “ Sesungguhnya Jibril datang kepadaku  dengan memberitahu bahwa ada kotoran di  kedua sandal.  “.
  Rasulullah  saw  bersabda :” Bila seseorang dantaramu  datang ke masjid, lihatlah. Bila melihat kotoran di kedua sandalnya,usapkan, lalu lakukan salat dengannya “.    Hadis sahih
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   melempar sandalnya karena sandalnya kotor . ( ada tahi atau air kencing atau lainnya ).
Imam  Qurthubi berkata :
وَلمَ ْيخَتَلِفِ الْعُلَمَاءُ فِي جَوَازِ الصَّلاَةِ فِي النَّعْلِ إِذَا كَانَتْ طَاهِرَةً حَتَّى لَقَدْ قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ إِنَّ الصَّلاَةَ فِيْهِمَا أَفْضَلُ وَهُوَ مَعْنَى قَوْلِهِ تَعَالَى خُذُوا زِيْنَتَكُمْ ثم كل مسجد على ما تقدم
Tiada hilaf diantara ulama untuk memperkenankan  menjalankan salat dengan sandal  yang suci . Sebagian  ulama berkata : Bahkan lebih utama melakukan salat dengan dua sandal  . Itulah maksud ayat  :  Gunakan pakaianmu ketika masuk masjid “. ( ketika akan salat “. 

-           التلخيص الحبير ط العلمية (1/ 196)
-           فَرَوَاهَا الدَّارَقُطْنِيُّ مِنْ حَدِيثِ جَابِرٍ 1 بِلَفْظِ "مَا أُكِلَ لَحْمُهُ فَلَا بَأْسَ بِبَوْلِهِ"
Daroqthni meriwayatkan  dari hadis Jabir  dg redaksi “ Hewan yg bisa di mkn dagingnya , mk boleh diminum air kencingnya “  ( Sangat lemah ) 
وَمِنْ حَدِيثِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ 2 "لَا بَأْسَ بِبَوْلِ مَا أُكِلَ لَحْمُهُ" 2 وَإِسْنَادُ كُلٍّ مِنْهُمَا ضَعِيفٌ جِدًّا.
Dari hadis Al Bara` bin Azib “ Boleh minum air kencing  hewan yg bisa di makan dagingnya “. ( Sangat lemah ) .
Cari ilmu agama dg sistim dialog yg ilmiyah ttg buka ketika adzan Maghrib membatalkan puasa   dg penuh persaudaraan di dua grup WA sy . 
Mau ikut , hub 08813270751.082225929198 ,081384008118,0 857-8715-4455 
0812-4194-6733