Sumber : http://blogseotest.blogspot.com/2012/01/cara-memasang-artikel-terkait-bergambar.html#ixzz2HNYeE9JU

Pages

Blogroll

Minggu, 17 Juni 2012

Kisah tentang maulid penuh kedustaan

Hani` al makhzumi berkata:
لَمَّا كَانَتِ اللَّيْلَةُ الَّتِي وُلِدَ فِيْهَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِرْتَجَسَ إِيْوَانُ كِسْرَى ، وَسَقَطَتْ مِنْهُ أَرْبَعَ عَشْرَةَ شُرْفَةً.  وَخَمِدَتْ نَارُ فَارِسَ ، وَلَمْ تُخْمَدْ قَبْلَ ذَلِكَ بِأَلْفِ عَامٍ ،
Pada malam Rasulullah   di lahirkan, maka  istana Kisra goncang dan empat belas balkonnya  runtuh  dan api persia  padam, pada hal   seribu tahun sebelumnya  tidak pernah padam.
Itulah kisah yang terdapat dalam diba` yang sering di baca oleh masarakat kita.


DHB Wicaksono  menulis sbb:
Pengantar
Kitab Mawahibul Laduniyyah bil Minah al-Muhammadaniyyah (Karunia Ilahiah dalam Bentuk Karunia Muhammadaniyyah) ditulis oleh Imam Ahmad Shihabuddin ibn Muhammad ibn Abu Bakr al-Qastallani (wafat 923H/1517 M), seorang ahli hadits yang mengarang syarah Sahih Bukhari (Irsyad as-Sari). Kitab Mawahib karangan beliau ini adalah kitab yang berisi biografi Nabi Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam.

===============================================
A’uudzu billahi minasy syaithanirrajiim
Bismillahirrahmanirrahiim
Wassholatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiyaa-i wal Mursaliin Sayyidina
Muhammadin wa ‘ala aalihi wasahbihi ajma’in
dari
Mawahib al-Laduniyyah bi al-Minah al-Muhammadaniyyah[*]
(Karunia Ilahiah dalam Bentuk Karunia Muhammadaniyyah)
oleh Ahmad Shihab Al Deen Al Qastallani
Kelahiran Ajaib dari Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam (bagian 2)
Di antara keajaiban-keajaiban kelahiran Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam telah diriwayatkan
pula oleh Ya’qub ibn Sufyan, dengan rawi-rawi yang hasan, dalam Fath
Al Bari [1]. Ia berkata bahwa Istana Kisra, kaisar dari Persia berguncang
dan empat belas balkonnya runtuh; air Danau Tiberia menguap habis;
api Persia padam (menurut berbagai riwayat, api ini telah menyala non-
stop selama seribu tahun); dan di Langit keamanan diperketat, dengan
dipenuhi lebih banyak penjaga dan bintang penembak yang mencegah
setan bersembunyi di sana untuk mencuri berita-berita langit.
Menurut suatu riwayat dari Ibn ‘Umar (RA) dan yang lain, Nabi
Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam dilahirkan dalam keadaan telah terkhitan dan tali
pusarnya telah terputus. Anas (RA) meriwayatkan bahwa Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam
bersabda, “Salah satu dari tanda-tanda kehormatan yang telah
dikaruniakan Tuhanku adalah bahwa aku dilahirkan dalam keadaan
terkhitan, dan tak seorang pun melihat bagian pribadiku.”[1]

Ihsan AM Hasibuan mencantumkan  kisah tsb dalam artikelnya " Bukti Kerasulan Nabi Muhammad Saw tanpa komentar sahih, lemah atau hasan[2]. Dan  dalam encyplopedi karya tulis Syaikh Muhammad bin Abd Wahab, kisah padam nya api di Persia dan istana raja Kisra goncang juga di cantumkan tanpa komentar derajatnya  [3]


Syaikh Athiyah Salim dari saudia  berkata:
Banyak kejadian ketika Rasulullah   di lahirkan, antara lain istana Kisra terpecah, dan bekas ini tampak sampai sekarang.  

Istana Kisra yang terpecah temboknya.  di Al Madain – Baghdad

Dari gambar itu tampak sekali bagian yang retak tembok istana Kisra. 

  
Uang emas bergambar Kisra  raja persia
Panglima Islam Sa`ad bin Abu Waqqas ketika masuk Istana  Kisra membaca ayat:
كَمْ تَرَكُوا مِنْ جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ(25)وَزُرُوعٍ وَمَقَامٍ كَرِيمٍ(26)وَنَعْمَةٍ كَانُوا فِيهَا فَاكِهِينَ(27)كَذَلِكَ وَأَوْرَثْنَاهَا قَوْمًا ءَاخَرِينَ
Alangkah banyaknya taman dan mata air yang mereka tinggalkan,dan kebun-kebun serta tempat-tempat yang indah-indah,dan kesenangan-kesenangan yang mereka meni`matinya,demikianlah. Dan Kami wariskan semua itu kepada kaum yang lain[1]

Syaikh Athiyah Salim melanjutkan perkataannya, ketika kami datang ke Mada`in, dan kami  datang ke istananya, aku melihat, tahu – tahu tembok yang retak setinggi  sepuluh meter.   Dan Istana sendiri  tingginya  20  meter.  Tembok bagian bawah lebarnya dua meter  dan di bagian atas lebarnya  setengah meter.  
Saya pikirkan retak itu, tahu – tahu  bagian kebudayaan di kedutaan Saudi arabia  berkata:  Apakah yang kamu cari wahai fulan !
Aku berkata: Aku ingin  tahu arah kiblat – arah Mekkah.  
Dia mengisaratkan kepada  tembok yang retak itu.  
Saya katakan: Ya, Allahu akbar.  
Dia berkata:  Ada apa ?
Aku berkata: Retak ini  lama, sebab ada hadis  yang menyatakan  retak tembok itu ketika Rasulullah   di lahirkan
Lalu beberapa pejabat pariwisata  di sana  di  tanya, kapan hal itu terjadi ?
Mereka  berkata: Kita di lahirkan dan retak itu sudah ada, dan secara  historis kami tidak mengerti.  Jadi  retak ini  sudah ada di istana  itu sampai sekarang [2].
Doktor Ridwan Rusydi mencantumkan kisah itu dalam artikelnya " Maulid " [3]


Komentarku ( Mahrus ali ):
Orang – orang  baghdad sendiri tidak mengerti tentang sejarah retaknya bangunan tsb, dan nenek moyang mereka  tidak menceritakan bahwa retak itu  ketika Rasulullah   di lahirkan, bahkan  orang yang bertanggung jawab tentang  wisata sendiri tidak mengerti asal usul  dan sejarah  retaknya istana itu, lalu  bagaimanakah orang Saudi bisa menentukan bahwa retaknya  itu ketika Rasulullah   di lahirkan. Pada  hal kisah tsb bukan hadis tapi cerita  Hani` al mahzumi yang belum tentu benar.  
Tentang kapan retaknya, tidak bisa di katakan  ketika Nabi    di lahirkan dan itu butuh data yang akurat dan refrensinya tidak ada untuk masalah itu.  
قَالَ ابْنُ عَسَاكِرَ: حَدِيْثٌ غَرِيْبٌ لاَ نَعْرِفُهُ إِلاَّ مِنْ حَدِيْثِ مَخْزُوْمٍ عَنْ أَبِيْهِ تَفَرَّدَ بِهِ أَبُو أَيُّوبَ الْبَجَلِي: أَيْ وَمَا تَفَرَّدَ بِهِ لاَ يُحْتَجُّ بِهِ
Ibnu Aasakir berkata: Hadis nyeleneh  kami tidak mengetahuinya  kecuali dari  hadis Makhzum dari ayahnya  dan  hanya  Abu Ayyub al bajali yang meriwayatkannya   Dan ia tidak bisa di buat hujjah  bila sendirian.  [4] Jadi kisah itu tidak valid dan tidak usah di percaya.
Abu Nuaim sendiri meriwayatkannya  tapi kurang percaya padanya.  Beliau memang suka meriwayatkan hadis – hadis mungkar, bahkan palsu  tanpa komentar  di harapkan  orang – orang akan mengetahui derajat hadis dari sanadnya.  
Mereka mengeritik Abu Nuaim dan Ibnu mandah, dan masing – masing di keritik karenanya 
Dzahabi menyatakan: Saya tidak menerima perkataan keduanya, aku tidak tahu dosa besar karena  keduanya meriwayatkan  hadis – hadis palsu  tanpa komentar.  [5]


Bangunan ini dekat dengan istana Kisra, ia sebagai benteng  lima puluh km  dari Karbela` Ia berada di barat daya  Karbela`. Ia sebelah darat daya  dari Bagdad, jaraknya  sekitar 83 km.  




[1] Ad dukhon 26- 28
[2] Pelajaran Syaikh Athiyah Salim  hal 11/26
[4] Majalah al manar m 861/8
[5] Majalah al manar m 861/8


 



[1] www.muslimdelft.n
[2] amanhasibuan.blogspot.com
[3] Mausuah muallafat syaikh Muhammad bin Abd Wahab  50/8

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberi komentar dengan baik