Sumber : http://blogseotest.blogspot.com/2012/01/cara-memasang-artikel-terkait-bergambar.html#ixzz2HNYeE9JU

Pages

Blogroll

Senin, 18 Juni 2012

Sukses dengan sholawat


صَلَوَاتٌ لِحُصُوْلِ الْمَرَامْ
Shalawat lihushulil maram
Shalawat agar tercapai tujuan

Para santri dan santriwati terbiasa dan bahkan orang awam pun tak tertinggal dengan alunan syair



اَلَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ   مُحَمَّدْ وَحَصِّلْ بِهِ فِى اْلمَرَامْ
Ya Allah! berilah rahmat dan salam kepada Muhammad. Dan dengannya jadikanlah tujuan kami tercapai.
Komentarku ( Mahrus ali ): Tercapainya tujuan itu dengan keutamaan dari Allah SWT. bukan karena Muhammad  atau kedudukannya. Ada suatu hadits sebagai berikut:
Zaid bin Khalid al-Juhani a  berkata, “Suatu malam hujan turun,  paginya  Rasullullah  menjalankan shalat Subuh di Hudaibiyah.  Rasullullah   bersabda, ‘Allah SWT.  berfirman :
أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي وَمُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ *
Diantara hambaku pagi ini ada yang mukmin, ada pula yang kafir. Orang yang berkata “Kami diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah berarti mukmin kepada-Ku dan kafir terhadap bintang. Orang yang berkata ‘Kami  diberi hujan karena bintang ini dan itu, dia kafir kepada-Ku  dan beriman kepada bintang. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa shalat Subuh tersebut di Hudaibiyah.”[1] 
Jadi tidak diperkenankan menyatakan hujan turun dengan bintang, doa terkabul dengan Muhammad dan lain sebagainya, tapi katakan karena karunia  dan rahmat Allah.
Dalam ayat lain, Allah SWT. berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”[2]

 سَلاَمٌ عَلىَ مَنْ أَتىَ ذَا اْلَمَقَامْ  بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ وَجِدِّ احْتِرَامْ
Kesejahteraan untuk orang yang datang ke maqom ini dengan hati bersih dan memuliakan yang sungguh
فَطُوْبَى لِمَنْ بِالْكِتَابِ اْلكَرِيْم    تَعَلَّمَ طُوْلَ الْحَيَاةِ وَدَامْ
Bahagialah bagi orang yang mempelajari al-Quran yang mulia selama hidupnya.
وَعَلَّمَهُ النَّاسَ مُدَّةَ حِيْن       وَفِي كُلِّ يَوْمٍ تَلاَ بِالدَّوَامْ
Lalu di suatu saat diajarkan kepada manusia dan mau membacanya dengan kontinyu tiap hari.
وَأَمَّلَ مَعْنَاهُ حَيْثُ اهْتَدَى   فَيَعْمَلُ مَا اقْتَضَى كُلَّ اهْتِمَامْ
Dia mau meresapi artinya dan mendapat petunjuk dari padanya. Dan mau mengerjakannya dengan sungguh dan penuh perhatian.
كَذاَك َإِلَى مَوْتِهِ لَا يَزَالْ   إِلَى قَبْرِهِ حَجَّ خَلْقٌ كِرَامْ
Sedemikian ini, dia lakukan sampai tutup usia, akhirnya banyak orang–orang mulia pergi ke kuburannya.
وَفِى الْحَشْرِ يُدْعَى بِغَيْرِ حِسَابْ  فَيَدْخُلُ جَنَّةَ رَبِّ اْلاَنَامْ
Di Mahsyar kelak, dia  akan dipanggil tanpa hisab untuk masuk ke surga.
وَفِيْهاَ الرِّضَا مَعَهُ حُوْرٌ عِيْن  يَطُوْفُ عَلَيْهِ أَحَبُّ اْلغُلَامْ
Di dalamnya, dia mendapatkan kerelaan dari Allah, dan bidadari. Pemuda  yang paling dicintai akan mengelilinginya sebagai pelayan.
فَيَا رَبِّ نَوِّرْ بِهِ قَلْبَنَا  وَزَيِّنْ وَبَيِّضْ لَنَا فِى الْخِيَامْ
Wahai Tuhanku! Berilah cahaya hati kami dengan al-Quran, hiasilah, dan putihkan kami di kemah.
Komentarku ( Mahrus ali ): Bisa juga diartikan dengan “Muhammad berilah cahaya hati kami dan hiasilah kami di kemah”.  Doa dengan cara yang seperti ini saya tidak menjumpai dalilnya, para sahabat dan Rasulullah  tidak mengajarkannya  dan tidak mengerjakan.  Ibnu Taimiyah berkata:
وَأَمَّا الرَّجُلُ إِذَا أَصَابَتْهُ نَائِبَةٌ أَوْ خَافَ شَيْئًا فَاسْتَغَاثَ بِشَيْخِهِ، يَطْلُبُ تَثْبِيْتَ قَلْبِهِ مِنْ ذَلِكَ الْوَاقِعِ، فَهَذَا مِنَ الشِّرْكِ، وَهُوَ مِنْ جِنْسِ دِيْنِ النَّصَارَى؛ فَإِنَّ اللّه هُوَ الَّذِى يُصِيْبُ بِالرَّحْمَةِ وَيَكْشِفُ الضُّرَّ،
Adapun seorang lelaki bila tertimpa penderitaan atau takut sesuatu, lalu  berdoa dengan bertawasul dengan gurunya untuk minta kemantapan hati atas kasus yang dialami. Ini termasuk syirik. Hal ini mirip dengan ajaran agama Nasrani. Sesungguhnya hanya Allahlah yang akan memberikan musibah dengan rahmat-Nya  dan melenyapkan bahaya.[3]
بِنُوْرِهِ أَتْمِمْ لَناَ نُوْرَنَا    وَسَهِّلْ بِهِ أَمْرَناَ مَا يُضَامْ
Dengan cahaya al-Quran, sempurnakanlah cahaya kami, permudahlah urusan kami yang membikin derita. 
Komentarku ( Mahrus ali ): Ada orang yang mengartikan:
Dengan cahaya Muhammad , sempurnakanlah cahaya kami, permudahlah urusan kami yang membikin derita.  Syair seperti itu mirip dengan syair Imam Bushiri sebagai berikut:
مَاسَامَنَي الدَّهْرُ ضَيْماًوَاسْتَجَرْتُ بِهِ     إِلاَّ وَنِلْتُ جِوَاراً مِنْهُ لَمْ يُضَمِ
Setiap  zaman  menganiaya  aku lalu aku minta perlindungan dengan  Nabi Muhammad,  aku pun  dapat  keselamatan  dan perlindungan.
Keterangan: Kesyirikan di sini minta perlindungan kepada Nabi Muhammad  ketika tertimpa musibah.
وَوَسِّعْ لَناَ رِزْقنًا طَيِّبًا  حَلاَلاً وَبَارِكْهُ غَيْرَ انْقِسَامْ
Perluaslah rezeki kami yang baik dan halal, berilah berkah tanpa di bagi – bagi.

وَبَلِّغْ جَمِيْعَ مَقَاصِدِنَا    وَيَسِّرْ لَناَ حَجَّ بَيْتِ الْحَرَامْ
Seluruh cita – cita kami bikinlah tercapai, permudahlah kami untuk menunaikan haji ke baitul haram.
وَهَوِّنْ بِهِ سَكَرَاتِ الْمَمَاتْ   أَمِتْنَا بِخَيْرٍ وَحُسْنِ الْخِتَامْ
Permudahkan sakarat maut kami karena Muhammad, matikan kami  denga n baik dan husnul khatimah.
Komentarku ( Mahrus ali ): kasidah terakhir ini termasuk tawasul kepada Rasulullah   yang sudah meninggal dunia, dan ini barang baru, yakni bid’ah, tidak boleh dilakukan  dilakukan, karena ada hadits:
وَِايَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الاُ مُوْرِفَاِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
“Berhati-hatilah terhadap ajaran baru ( yang tidak berdasarkan hadits dan al-Quran). Sesungguhnya seluruh ajaran baru itu bid’ah  dan setiap bid’ah adalah sesat.”[4]
Sang penyair berkata:

وَحَمْدًا وَشُكْرًا عَلىَ كُلِّ حَالْ   صَلاَةً وَسَلاَمًا بِأَزْكَى السَّلاَمْ
Aku selalu memuji dan bersyukur setiap keadaan, begitu juga shalawat dan salam yang terbaik.
وَقَدْ نَظَّمَ الْبيَيْتَ عَبْدُ الِالَهْ   عُمَرُ ابْتِغَاءَ الرِّضَا بِالتَّمَامْ
Kasidah–kasidah tersebut disusun oleh hamba Allah, Umar, untuk mencari ridha-Nya dengan sempurna.[5]



[1]  Muttafaq  ‘alaih, Shahih al-Bukhari (867).
[2] Surat al-Nur:21.
[3] Majmu` Fatawa, bab ketiga dari bab Tawasul.
[4] Sunan Abi Dawud  dalam bab Al-Sunnah, nomor  4607. Sunan al-Tirmidzi dalam bab Ilmu, no. 2678. Hadits sahih. Imam Ahmad meriwayatkannya  dalam kitab Musnad  (4/126–127). Ibnu Majah dalam kitab Al-Muqaddimah  nomor  42. Bab. : Mengikuti  perilaku khulafaur rasyidin.


[5] Kasidah ini dikutip dari buku  “Kumpulan Qosidah Terpopuler Abad ini”  hal. 22.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberi komentar dengan baik