Sumber : http://blogseotest.blogspot.com/2012/01/cara-memasang-artikel-terkait-bergambar.html#ixzz2HNYeE9JU

Pages

Blogroll

Sabtu, 13 April 2013

KPI Larang Muatan Siaran Menghujat Pandangan Keagamaan



Sabtu, 13/04/2013 23:07
Jakarta, NU Online
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) meminta kepada lembaga penyiaran untuk tidak menayangkan isi siaran yang berisi serangan dan upaya menyalahkan suatu amalan dan pandangan keagamaan tertentu dalam Islam.

Demikian disampaikan Idy Muzayyad, komisioner KPI Pusat, merespon pengaduan publik terhadap isi siaran yang cenderung menganggap sesat sebuah pandangan agama.

“Media penyiaran tidak boleh mempertentangkan hal semacam itu di ruang publik media, apalagi melakukan penghakiman, karena dapat menimbulkan keresahan dan ketidaknyamanan,” ungkapnya kepada NU Online, Kamis (11/4).
Idy menjelaskan, dalam setiap agama dan keyakinan seringkali terdapat perbedaan pandangan yang bersifat khilafiyyah dan tidak bisa dipaksakan dan saling menyalahkan. Justru sebaliknya perlu ditekankan sikap saling menghormati dan memahami pandangan keagamaan masing-masing.
Apalagi Indonesia ini merupakan bangsa dengan kebhinekaan yang tinggi, sehingga penyeragamaan merupakan hal yang tidak mungkin. Begitupun dengan pandangan keagamaan Islam, yang terdapat perbedaan untuk hal-hal yang bersifat cabang (furu’iyah) bukan pokok (ushuliah).
”Misalnya detail tatacara peribadatan. Tahlil, ziarah kubur, shalawat, tawassul, maulid merupakan bagian dari amalan riil umat Islam Indonesia, khususnya warga NU, sebagai akulturasi kebudayaan yang dibolehkan,” imbuhnya.
KPI jauh-jauh hari sudah mengantisipasi hal demikian dengan memunculkan pasal terkait pandangan keagaman ini dalam pasal 7 Pedoman Perilaku Penyiaran dan Stanar Program Siaran (P3SPS).
Dalam pasal P3 disebutkan bahwa “Lembaga penyiaran tidak boleh menyajikan program yang merendahkan, mempertentangkan dan/atau melecehkan suku, agama, ras, dan antargolongan yang mencakup keberagaman budaya, usia, gender, dan/atau kehidupan sosial ekonomi”.
Sedang dalam  Standar Program Siaran (SPS) pasal 7 dinyatakan bahwa materi agama pada program siaran wajib memenuhi ketentuan “tidak berisi serangan, penghinaan dan/atau pelecehan terhadap pandangan dan keyakinan antar atau dalam agama tertentu serta menghargai etika hubungan antarumat beragama”.
Dalam SPS poin berikutnya menyebutkan keharusan media penyiaran untuk “menyajikan muatan yang berisi perbedaan pandangan/paham dalam agama tertentu secara berhati-hati, berimbang, tidak berpihak, dengan narasumber yang berkompeten, dan dapat dipertanggungjawabkan”.
Menanggapi aduan masyarakat dan berdasarkan pemantauan terhadap program Khazanah Islam Trans7, maka KPI akan mengambil langkah sesuai dengan UU Penyiaran, termasuk kemungkinan menjatuhkan sanksi kepada lembaga penyiaran yang bersangkutan.
“Kita juga segera memanggil penanggung jawab program yang menayangkan siaran tersebut,” imbuh Idy.

Penulis: Mahbib Khoiron
Komentar(3 komentar)
Ahad, 14/04/2013 06:13
Nama: Muhammad Zinal Arifin
Trans harus minta maaf
Assalamualaikum wr. Wb. Berkaitan kontens program siaran keagamaan yg profokatif tsb, TRANS 7 ( dan lembaga lain jk ada ) hrs meminta maaf secara terbuka. Ditambah dg sanksi afministrasi lainnya sesuai undang-undang, tentunya. Ini penting,~ agar tdk terjadi lg kesalahan yg sama secara berulang. Wassalam.
Ahad, 14/04/2013 00:52
Nama: abu faza
tuntutan aswaja
kalo bisa d hapus, kami tunggu perkembangan berikutnya, sebelum aca pengerahan massa, & demonstrasi umat, :) terima kasih KPI, smoga tetep jaya
Ahad, 14/04/2013 00:17
Nama: NUlovers
KPI larang siaran menghujat
Jangan biarkan ajaran wahabi membodohi ummat 
 
Komentarku ( Mahrus ali): 
Itulah hukum Thaghut yang zalim dan tidak adil, mendiskriditkan golongan minoritas dan menjunjung budaya golongan mayoritas. Lihat saja di TV 9 Jatim, konon ( karena saya tidak punya TV ) juga banyak mengeritik  kepada golongan lain, tapi dibiarkan. Kita ini harus ber amar ma`ruf dan menjelesakna mana yang sesat dan mana yang benar dan nanti biarkan umat yang menilai. Kita juga tunjukkan standar penilaian yang tepat adalah al Quran dan hadis bukan figuritas atau golongan atau budaya leluhur.Saya ingat ayat ini:
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ(112)
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. Al an`am
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberi komentar dengan baik