Sumber : http://blogseotest.blogspot.com/2012/01/cara-memasang-artikel-terkait-bergambar.html#ixzz2HNYeE9JU

Pages

Blogroll

Sabtu, 04 Maret 2017

Jawabanku untuk Ust Abunurdin Abdillah ke 2









Komentarku ( Mahrus ali ):
Dalam  hadis  itu  di jelaskan  sbb:  

لَيْسَ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الَّذِي بِحِجَارَةٍ  وَلَا عَلَى الْأَكَمَةِ الَّتِي عَلَيْهَا الْمَسْجِدُ
Di situ beliau bermalam dan beristirahat sampai pagi. Beliau tidak singgah di masjid yang berbatu dan tidak juga di bukit yang ada masjidnya.

Komentarku ( Mahrus ali ):
Boleh  juga di terjemahkan  dengan kalimat :
Beliau tidak singgah di masjid yang  di bangun  dengan batu. Juga tidak singgah   di undukan  yang  ada masjidnya.
Jadi belum tentu beralaskan batu.
Apalagi hadis itu di gunakan  alasan  untuk memperkenankan shalat wajib di karpet. Sudah tentu  tdak bisa. Bila dipaksakan, maka namanya memaksakan dalil. Maksudnya hadisnya tidak bahas  shalat di tkar atau karpet  tapi  digunakan untuk dalil  shalat wajib di karpet . Ini menyesatkan, tidak mengarahkan kebenaran.
Tapi malah menyalahkan kebenaran.

 Untuk  shalat dikeramik, jawabannya di belakang nanti.
Shalat wajib di karpet perlu dalil sendiri, dan dalilnya  tidak ada. Lihat nih kisah Imam Malik.
. وَقَدْ رُوِيَ أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ مَهْدِيٍّ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ بَسَطَ سَجَّادَةً فَأَمَرَ مَالِكٌ بِحَبْسِهِ فَقِيلَ لَهُ : إنَّهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ فَقَالَ : أَمَا عَلِمْت أَنَّ بَسْطَ السَّجَّادَةِ فِي مَسْجِدِنَا بِدْعَةٌ .
Sungguh telah di kisahkan bahwa Abd rahman bin Mahdi ketika datang ke Medinah menggelar sajadah , lalu Imam Malik memerintah agar di tahan ( dipenjara ) . Di katakan kepadanya  : “  Dia adalah  Abd Rahman bin mahdi  “
Imam Malik  menjawab :”  Apakah kamu tidak mengerti bahwa  menggelar sajadah dimasjid kami adalah bid`ah “.


Lihat  keterangan dalam kitab Fathul bari karya Ibn Rajab  296/3
فتح الباري لابن رجب - (ج 3 / ص 296)
وفي حديث سالم : أن المسجد كان ببطن الوادي ، وفي حديث موسى بن عقبة بن نافع -الطويل الذي خرجه البخاري هنا - ، أنه كان مبنياً بحجارة على أكمة ،
Dalam hadis riwayat Salim  dijelaskan:
Sesungguhnya masjid tsb di perut lembah.
Dalam  hadis Musa bin Uqbah bin Nafi`  yang  panjang  yang  diriwayatkan  oleh Bukhari  disini   ……………. Masjid tersebut di bangun  dengan batu  di atas undukan.
Komentarku ( Mahrus ali ):
Jadi masjid itu bukan beralaskan batu tapi di bangun dengan batu .Hanya  bangunan temboknya  dari batu dan alasnya  undukan itu.

Jadi bila hadis  itu di buat  pegangan boleh shalat wajib di atas batu, maka kurang kuat, sangat rapuh. Sebab pengertiannya sendiri adalah masjid yang   di bangun dengan batu di atas undukan. Bukan masjid yang  beralaskan batu.
Saya masih mempertanyakan apakah masjid itu dimasa Rasulullah shallahu alaihi wasallam ada atau ia di bangun setelahnya Rasulullah shallahu alaihi wasallam.
Teka teki ini perlu di jawab.
Bila ia  di bangun  sebelum Rasulullah shallahu alaihi wasallam, siapa yang  bangun apakah orang jahiliyah.
Banyak masjid  yang  terdapat  dalam hadis  - hadis  ternyata  pembangunannya  setelah  Rasulullah shallahu alaihi wasallam wafat seperti masjid di dzilhulaifah  sebagai  petilasan  dimana Rasulullah shallahu alaihi wasallam menjalankan shalat di situ lalu dibuatlah masjid di atasnya.
فتح الباري لابن رجب - (ج 3 / ص 295)
وقد ذكر ابن عمر في حديثه هذا أن النبي - صلى الله عليه وسلم -كان ينزل بها تحت سمرة في موضع المسجد الذي بني بها ، وهذا يدل على أن المسجد لم يكن حينئذ مبنيا ، إنما بني بعد ذلك في مكان منزل النبي - صلى الله عليه وسلم - منها ،
Sungguh Ibnu Umar dalam hadisnya  menyebutkan bahwa Nabi shallahu alaihi wasallam singgah di Dzul Khulaifah di bawah pohon Samurah  di tempat masjid  yang  di bangun disitu.
Hal ini menunjukkan bahwa masjid tsb belum di bangun waktu itu. Tapi di bangun setelahnya   di tempat singgah Nabi shallahu alaihi wasallam

Komentarku ( Mahrus ali ):
Ada kemungkinan  masjid yang  di bangun dengan batu itu  di bangun setelah Rasulullah shallahu alaihi wasallam wafat. Dengan demikian, layak sekali  Rasulullah shallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya tidak menjalankan shalat berjamaah d masjid tsb.
Untuk redaksi  hadis sbb:
لَيْسَ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الَّذِي بِحِجَارَةٍ 
Beliau tidak singgah di masjid yang  di bangun  dengan batu.

Kalimat tersebut tidak saya jumpai dikitab – kitab hadis kecuali riwayat Bukhari , bukan Muslim, Nasa`I , Abu Dawud , Tirmidzi dll.
Jadi dalam hal ini , Imam BUkhari menyendiri, perawi tunggal tentang kalimat itu.
Ada kemungkinan  tambahan dari perawi berikutnya. Karena itu beda  dengan riwayat Imam Muslim atau Nasai .
Hal sedemikian ini termasuk tafarrud yang  mebikin tambahan itu perlu di kaji lagi atau boleh juga di katakan lemah karenanya.


المسند الجامع - (ج 10 / ص 480)
 ورواية مُسْلِم (3021) ، والنسائي مختصره على الفقرة الثامنة.
وروايته (3022) مختصرة على الفقرة التاسعة.
أخرجه أحمد 2/87(5594 و5596 و5597 و5598 و5599 و5600 و5601) قال : قرأت على أبي قرة موسى بن طارق. و"البُخَارِي" 1/130(484) و1/131(485 و486 و487 و488 و489) و1/132(490 و491 و492) قال : حدثنا إبراهيم بن المنذر. قال : حدثنا أنس بن عياض. و"مسلم" 4/62(3021) و4/63(3022) قال : حدثنا مُحَمَّد بن إسحاق الُمسَيَّبي ، حدثني أنس ، يعني ابن عياض. و"النَّسائي" 5/199، وفي "الكبرى" 3831 قال : أخبرنا عبدة بن عبد الله ، قال : أنبأنا سُويد ، قال : حدثنا زهير.
ثلاثتهم (موسى بن طارق ، وأنس بن عياض ، وزهير بن معاوية) عن موسى بن عقبة ، عن نافع ، فذكره.

Intinya  hadis tsb  hanya dari  Musa bin Uqbah scr  sendirian dalam meriwayatkan hadis  yang  ada tambahan yang  nyeleneh itu.
شرح ابن بطال - (ج 3 / ص 160)
وفى هذا الحديث ألفاظ كثيرة من الغريب
Dalam hadis ini banyak  lafadh – lafadh  yang  gharib ( nyeleneh ). Bukan kalimat yang  mashur di kalangan perawi – peraw hadis  tapi kalimat  yang  menyendiri . Hanya Imam Bukhari yang  menggunakan kalimat itu bukan lainnya.
Dari segi sanad  juga terdapat  tafarrud – yaitu hanya Musa bin Uqbah yang  meriwayatkannya.
Siapakah  Musa bin Uqbah itu .

Musa bin Uqbah adalah Yunior Tabiin tingkat 5 ,lihat mausuah ruwatil hadis  6992. wfat 141 hijiriyah .


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberi komentar dengan baik