Sumber : http://blogseotest.blogspot.com/2012/01/cara-memasang-artikel-terkait-bergambar.html#ixzz2HNYeE9JU

Pages

Blogroll

Kamis, 09 Maret 2017

Postingan extra – jawaban untuk member FMP



Akhunal karim Ust. Syamsuddin Mukti menuliss :
Imam Bukhari membuat bab :
باب الصلاة على الفراش وصلى أنس على فراشه وقال أنس كنا نصلى مع النبي .ص. فيسجد احدنا على ثوبه.
حدثنا مروان بن معاوية عن حميد قال : سئل انس عن الصلاة في السفينة ؟ فقال علد الله بن ابي عتبة مولى أنس وهو معنا جالس : سافرت مع ابي سعيد الخذري  و ابي الدرداء وجابر بن عبد الله فقال حميد ، واناس قد سماهم، فَكَانَ إِمَامُنَا يُصَلِّي بِنَّا فِي السَّفِينَةِ قَائِمًا وَنُصَلِّي خَلْفَهُ قِيَامًا وَلَوْ شِئْنَا لَأَرْفَيْنَا. ( مصنف ابن ابي شيبة : ٦٦٢٦ )
Makbul
Jika shahih...ini menjadi bukti kuat bahwa semua sahabat tidak ada yang memahami seperti pemahaman kyai mahrus.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Bukhari membikin bab
باب الصلاة على الفراش وصلى أنس على فراشه وقال أنس كنا نصلى مع النبي .ص. فيسجد احدنا على ثوبه.
Tentang sahabat Anas menjalankan salat di hamparan itu blm di jelaskan salat sunat atau salat wajib. Jadi masih blm bisa di gunakan untuk landasan salat wajib dg tikar.
Bila di gunakan  landasan untuk salat wajib  jg keliru. Sebab  blm ada kejelasan salat wajib atau sunat.
Dan  disini , Imam Bukhari memberikan keterangan  sahabat Anas melakukan  salat dg hamparan tanpa  sanad. Ya`ni masih di ta`liq.
Benar imam Bukhari membikin bab spt itu, tp dalil yg di gunakan kurang pas, tidak tepat.
Bila di paksakan untuk mengikuti sahabat Anas yaitu menjalankan salat wajib dengan hamparan , kita akan menyelisihi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   yg selama hidupnya tak pernah menjalankan salat wajib di tikar. Kita ingat Ali ra  berkata :
مَا كُنْتُ لِأَدَعَ سُنَّةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِقَوْلِ أَحَدٍ *
Aku  tidak akan meninggalkan sunah Nabi  S.A.W.    karena  perkataan orang “. 
Imam Syafii berkata:
لاَ تُقَلِّدْ دِينَك الرِّجَالَ فَإِنَّهُمْ لَنْ يَسْلَمُوا مِنْ أَنْ يَغْلَطُوا .
Dalam masalah agama,jangan ikut orang , sebab  mereka mungkin juga salah .
Imam Bukhari menyatakan  sahabat Anas menjalankan salat di atas hamparan  tanpa sanad – ya`ni ta`liq. Dan tdk bisa di sahihkan langsung karena tanpa sanad.

Ust Hassan Abu Tsabit menulis :

تعليقات البخاري يعني ذكره الحديث بغير إسناد كأن يقول مباشرة قال رسول الله صلى الله عليه وسلم. وهذا يخالف شرط الصحيح عند البخاري. ومع ذلك فقد يكون صحيحا أو خفيف الضعف
www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=266696
Ta`liqat  dlm sahih Bukhari , hadis yg di cantumkan tanpa  sanad  spt beliau berkata langsung : Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :   ……………….(  tanpa  sanad ).
Ini menyalahi  sarat sahih  menurut Bukhari. Meski bgt , kadang  jg sahih atau  lemah yg ringan.
Jd sanad  tdk di cantumkan , menurut beliau  tdk sesuai  dengan sarat  sahih dlm sahih Bukhari.
Relevansinya  dlm masalah  ini adalah  Anas menjalankan salat  di hamparan itu jg tanpa sanad, termasuk ta`liqat imam Bukhari  bukan musnadatnya .
Sanad  atsar tsb di sambungkan oleh ibn Syaibah dan Said bin Mansur 
قَوْلُهُ وَصلى أنس وَصله بن أَبِي شَيْبَةَ وَسَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ كِلَاهُمَا عَنِ بن الْمُبَارَكِ عَنْ حُمَيْدٍ قَالَ كَانَ أَنَسٌ يُصَلِّي عَلَى فِرَاشِهِ
فتح الباري لابن حجر (1/ 491)
Kisah tentang  Anas melakukan salat di hamparan itu dari Abdullah bin Mubarak – syaikh Khurasan dan Humaid  Atthawil  dari Basrah. Jadi beliau perawi tunggal . Sy blm menjumpai perawi yg meriwayatkannya kecuali perawi Khurasan ini. Identitas beliau sbb:

  ــ  عبد الله بن المبارك بن واضح الحنظلى التميمى مولاهم ، أبو عبد الرحمن المروزى ( أحد الأئمة الأعلام و حفاظ الإسلام )
المولد  : 118 هـ
الطبقة : 8  : من الوسطى من أتباع التابعين
الوفاة : 181 هـ بـ هيت
روى له : خ م د ت س ق
مرتبته عند ابن حجر : ثقة ثبت فقيه عالم جواد مجاهد ، جمعت فيه خصال الخير
مرتبته عند الذهبـي : شيخ خراسان
3570 mausuah ruwatil hadis.   
Kisah sahabat Anas menjalankan  salat di hamparan itu di tahun sekitar 150 hijriyah masih di riwayatkan oleh satu orang yaitu seorang dari Khurasan. Tiada penduduk Medinah yg tahu tentang hal itu. Para sahabat  sampai mati  tdk kenal kisah itu. Anehnya malah Humaid  dari Basrah yg meriwayatkannya.
Hal sedemikian ini yg menjadi cacat suatu sanad, yaitu tafarrud penduduk Kufah Basrah , dimn penduduk medinah tdk tahu.
Dalam majalah Buhus Islamiyah  terdapat keterangan:
ولهذا نقول إنه ينبغي لطالب العلم أن ينظر أن من قرائن الإعلال والرد للأحاديث، في تفردات الكوفيين والعراقيين على وجه العموم،
مجلة البحوث الإسلامية

Karena ini, kami katakan: Layak sekali bagi thalib ilm untuk melihat bahwa sebagian tanda cacat dan tertolaknya beberapa hadis adalah tafarrudnya perawi Kufah dan Irak secara umum.
Perawi yg tafarrud disini adalah perawi Khurasan  dari perawi Basrah yaitu  Humaid . Dan Humaid  jg dlm hal ini termasuk perawi yg tafarrud dari Irak. Dan tafarrud sedemikian ini  termasuk faktor yg melemahkan hadis . Penduduk Medinah, Mekkah dari kalangann sahabat , tabiin  Atbaut tabiin  tidak paham hadis itu, lalu orang Irak tahu dan paham hadis itu.Mestinya penduduk Medinah lebih dulu mengerti bukan orang Basrah atau Khurasan.   Ini aneh , tidak wajar, tidak nalar  tidak rasional sekali. Bukan hadis yg mashur, rasional dan sangat  cocok dengan nalar manusia.
3ـ ألا يكون فيما تعم به البلوى العلمية أو العملية، أي أن المحدث يتفرد بحديث في حين سائر الصحابة لا يعلمون مع أنه من الأمور العلمية العامة
3. Agar tidak termasuk musibah ilmiyah atau amaliyah yg umum – yaitu  seorang perawi  hadis menyampaikan  hadis secara  sendirian. Pada  hal sahabat yg lain  tidak mengetahui. Dan ia termasuk masalah ilmiyah yg umum.
http://www.dd-sunnah.net/forum/showthread.php?t=152431
Abdul hay al luknowi berkata:
فكثيراً ما يطلقون النكارة على مجرَّد التَّفرُّد،
Sering kali mereka menyatakan  hadis munkar disebabkan tafarrud saja . ( satu perawi yang meriwayatkan bukan dua atau tiga ).
Jadi kisah Anas melakukan salat di hamparan adalah kisah yg nyeleneh dan munkar.Bila  tdk bgt , mk mesti ada perawi lain yg meriwayatkannya selain Humaid Atthawil. Dan realitanya menurut sy blm di temukan perawi lain. Bila  di temukan, akan terjadi tafarrud lg yaitu pd Ibn Mubarak dari Khurasan itu. Sebab tafarrudnya mulai  dari Humaid  hingga Ibn Mubarak .
Bila  kisah Anas salat di hamparan  itu di gunakan  sbg landasan  bolehnya salat wajib di karpet, mk sangat rapuh landasannya dan tdk boleh.Landasan  hrs kuat dan sahih, apalagi masalah  salat . Kisah  yg munkar itu di jadikan landasan salat wajib sangat membahayakan.
Pd hal tuntunan salat wajib yg sahih sudah ada.
Bila di bolehkan melakukan salat  wajib di sajadah, mk menyelisihi tuntunan salat wajib Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   yg tdk pernah melakukan salat wajib di hamparan selama hidupnya.
Kita kembali kpd redaksi  di Bukhari  sbb:
 باب الصلاة على الفراش وصلى أنس على فراشه وقال أنس كنا نصلى مع النبي .ص. فيسجد احدنا على ثوبه
Komentarku ( Mahrus ali ) :, liht komentar sbb:
هذا التعليق وصله البخاري أيضا فيما بعد في الباب الذي يليه قوله أحدنا أي بعضنا قوله على ثوبه يحتمل أن يكون المراد منه بعض ثوبه الذي كان لابسه نحو الفاضل من كمه أو ذيله ويحتمل أن يكون ثوبه الذي يقلعه من جسمه فيسجد عليه وحديثه المسند يصرح بأن المراد منه بعض ثوبه حيث قال فيه فيضع أحدنا طرف الثوب من شدة الحر في مكان السجود على ما يأتي إن شاء الله تعالى
http://islamport.com/d/1/srh/1/45/1271.html
Bab setelahnya sbb:
صحيح البخاري -ت عبد الباقي (1/ 396)
بَاب السُّجُودِ عَلَى الثَّوْبِ فِي شِدَّةِ الْحَرِّ
5 - حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ هِشَامُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ قَالَ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ قَالَ حَدَّثَنِي غَالِبٌ الْقَطَّانُ عَنْ بَكْرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كُنَّا نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَضَعُ أَحَدُنَا طَرَفَ الثَّوْبِ مِنْ شِدَّةِ الْحَرِّ فِي مَكَانِ السُّجُودِ
Sebagian riwayat sbb:
حَدِيْثُ  أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ: كُنَّا نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ  فِي شِدَّةِ الْحَرِّ، فَإِذَا لَمْ يَسْتَطِعْ أَحَدُنَا أَنْ يُمَكِّنَ وَجْهَهُ مِنَ الأَرْضِ بَسَطَ ثَوْبَهُ فَسَجَدَ عَلَيْهِ

360.Anas ibnu Malik menuturkan: “Kami pernah shalat bersama Nabi saw pada hari yang sangat panas. Jika seorang di antara kami tidak dapat meletakkan wajahnya di tanah karena panas, maka ia menggelar kainnya di atas tanah dan ia dapat bersujud di atasnya.” (Bukhari, 21, kitabul ‘amal fish shalati, 9, bab menggelar kain ketika shalat untuk sujud).
Komentarku ( Mahrus  ali ):
Keadaan tanah yang sangat panas, bukan dingin seperti di masjid yang berkarpet. Panasnya adalah panas padang pasir bukan panasnya kota Malang Jawa timur. Para  sahabat dan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tetap  menjalankan salat berjamaah di tanah yang sangat panas itu tanpa tikar, hanya  salah seorang di antara mereka yang menggelar pakaiannya untuk bersujud karena tidak tahan. Sebab, biasanya  dia menjalankan salat seperti sahabat yang lain tanpa  kain yang dihamparkan dimukanya.

Perbuatan satu orang yang menghamparkan bajunya untuk sujud ini karena tanahnya sangat panas tidak bisa di buat landasan  untuk memperbolehkan menggelar karpet di masjid yang udaranya sederhana , kadang dingin, kadang sangat dingin.
Maaf jawabannya  lambat...

Bersambung.............................,




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberi komentar dengan baik